@amosyeeishere Okay, how many homeless person on the streets do you see in Singapore?
And you do know about our neighbours across the crossway on their delusional homoerotic fantasies of how Singapore belongs to them
@ether_45@imfat It's doable bro, just gotta be smart and consistent with it. I'm saying this because i came from 0. I hope you get to that level too my friend.
Why would I want to spend $86 on a Ferry ticket just to buy Groceries?
And people who are flocking to Batam are both Singaporeans and Malaysians.
Also this has been happening for a long time, it’s nothing new.
Ketika Dolar Singapura Tak Lagi Perkasa Menahan Beban Hidup Penduduknya: Migrasi Belanja Warga Singapura ke Batam.
Batam sudah jadi tempat bagi penduduk Singapura misi berbeda yaitu bertahan hidup. Antrian mengular, ruang tunggu pelabuhan sesak, dan kapal-kapal feri penyeberangan beroperasi dengan kapasitas penuh.
Gelombang besar warga Singapura kini berbondong-bondong menyeberang ke Pulau Batam, bukan lagi untuk sekadar berlibur, melainkan untuk berbelanja kebutuhan pokok sehari-hari.
Tekanan Ekonomi di Negeri Singapura.‼️
Lonjakan biaya hidup yang ekstrem, meroketnya harga bahan bakar, serta inflasi yang tak terkendali membuat daya beli di dalam negeri mereka menyusut tajam. Uang 100 dolar Singapura yang dulunya terasa besar, kini di sana nyaris tak menyisa apa-apa setelah dipakai untuk beberapa barang belanjaan pokok saja.
Kondisi inilah yang memaksa masyarakat kelas menengah ke bawah di Singapura memutar otak. Mereka harus mencari alternatif agar dapur mereka tetap bisa mengepul tanpa harus menguras seluruh tabungan.
Batam: Penyelamat Isi Dompet‼️
Hanya berjarak kurang dari satu jam perjalanan menggunakan feri, Pulau Batam hadir bak oase di tengah gurun bagi warga Singapura.
Ditambah dengan nilai tukar Rupiah yang sedang melemah terhadap Dolar Singapura, daya beli mereka di Batam meningkat berkali-kali lipat.
Pusat perbelanjaan, supermarket, hingga pasar-pasar tradisional di Batam kini dipenuhi oleh logat khas Singlish. Mereka memborong komoditas penting yang harganya sudah selangit di Singapura, seperti:
• Bahan makanan pokok (beras, minyak goreng, dan bumbu dapur).
• Kebutuhan rumah tangga bulanan (sabun, detergen, dan perlengkapan mandi).
• Obat-obatan dan kebutuhan perawatan pribadi.
Dua Sisi Mata Uang bagi Batam‼️
Fenomena shopping tourism berskala masif ini bak berkah dadakan bagi perekonomian Batam. Sektor ritel, UMKM, transportasi lokal, hingga perhotelan mengalami lonjakan pendapatan yang signifikan setelah sempat lesu dalam beberapa tahun terakhir.
Batam mendadak menjelma menjadi "Surganya Belanja ASEAN".
Namun, di sisi lain, fenomena ini mulai menimbulkan kekhawatiran tersendiri.
Daya beli warga Singapura yang sangat kuat dikhawatirkan dapat memicu persaingan harga di pasar lokal, yang lambat laun bisa berdampak pada kenaikan harga barang bagi penduduk asli Batam sendiri.
Satu hal yang pasti, penuh dan ramainya di pelabuhan Batam saat ini menjadi bukti nyata atas pergeseran dinamika ekonomi global: bahwa bahkan warga dari salah satu negara terkaya di dunia pun, kini harus menyeberang lautan demi memenuhi kebutuhan harian mereka yang kian mencekik.
Kalau aku jadi Gubernur Sumbar, aku akan coba ajuin proposal dan bikin projekan untuk menjadikan Sumatera Barat sebagai rumah pensiun bagi Singaporean.
Gak cuma rumah pensiun, tapi juga bangun rumah sakit atau menyulap rumah sakit yang sudah ada jadi standar internasional.
Soalnya jarak Padang-Singapore cuma sejam naik pesawat.
Plus, kawasan Sumatera Barat bukan kawasan industri seperti Batam, alamnya masih segar dan bersih.
Sisi baiknya, warga Sumatera Barat jadi punya uang masuk dan sirkulasi uang yang berputar lebih banyak. Yang membuat pendapatan pajak daerah juga meningkat.
Ahh. Mimpi Aja Dulu.