There is a specific kind of peace you only find walking in Yogyakarta at 5 PM.
I’m building a library of the world’s most peaceful walking spots. If you could teleport to one place right now for a quiet walk, where would it be?
#SlowLiving#Indonesia#yogyakarta#asmrvideo
Trauma yang diangkat dalam music video ini terancam hanya berakhir sebagai komoditas yang dinikmati, tanpa pernah benar-benar mengusik struktur patriarki dan industri yang justru memelihara keheningan bagi para korban di dunia nyata.
Sangat disayangkan pembahasan mengenai music video terbaru Taylor Swift, Patient Zero, hanya bergulir di sekitar perburuan easter-egg atau tebak-tebakkan seperti “lagu ini tentang mantan yang mana?”
Padahal menurutku, music video ini membawa narasi mengenai anatomi kekerasan domestik yang menjebak dan menggerogoti korban secara perlahan.
Setelah memahami bagaimana desain spasial, hiperrealitas, dan surveillance capitalism membentuk sangkar di sekitar kita, pertanyaan tersisa yang patut kita ajukan pada diri sendiri adalah:
apakah kita memiliki keberanian yang sama untuk menaiki tangga itu dan keluar dari kubah modern ini?
Pernah perhatikan ga kalau lingkungan yang paling nyaman seringkali melumpuhkan daya kritis kita?
Masih nyambung dari utas di bawah, dalam film The Truman Show (1998), tata ruang kota Seahaven yang mengadopsi prinsip New Urbanism, selain memutus konektivitas dengan dunia luar, juga merupakan manifestasi dari model Panopticon dari Michel Foucault.
Kalau mau melihat batas dari kritik sosial dorama Plastic Beauty (2026), sebenarnya celah tersebut sudah terlihat sejak kasus pertama yang melibatkan Yoshiko Tanaka (Amano Hana).
Yoshiko dihadapkan pada kenyataan pahit industri hiburan modern. Bahkan untuk menjadi seorang seiyu (voice actor) yang secara teknis bekerja di balik layar dan mengandalkan vokal, ia tetap dituntut memiliki penampilan visual yang setara dengan aktor maupun idol.
Plastic Beauty memang berusaha menolak moralisasi hitam-putih dengan memposisikan narasinya di ranah abu-abu, dengan menghormati keputusan seseorang untuk mengubah tubuhnya tanpa stigma maupun judgement.
Namun, dorama ini belum cukup kritis terhadap sistem kapitalis dan patriarkal yang membuat modifikasi fisik terasa seperti jalan satu-satunya untuk diakui, dicintai, dan dihargai.
Awalnya, kupikir dorama Plastic Beauty (2026) akan gaspol membanting industri kecantikan dan praktik operasi plastik dari sudut pandang moral yang kaku.
Namun, alih-alih memberikan penghakiman sepihak, Plastic Beauty membedah kompleksitas industri estetika yang ternyata penuh dengan nuance dan dinamikanya sendiri.
Membahas Dharavi, tentu saja aku jadi ingat pada Slumdog Millionaire (2008). Film yang menyapu 8 piala Oscar ini memang menjadikan pemukiman informal paling padat di Mumbai tersebut sebagai latar utamanya.
Namun, sebagaimana lazimnya sinema tentang Asia yang diproduksi dari perspektif Barat, film ini mereduksi Dharavi sekadar menjadi komoditas visual dan simbol poverty porn, tanpa pernah sungguh-sungguh menyentuh kompleksitas struktur sosial maupun ketahanan ekonomi warganya.
Kedua narasi ini menegaskan hal yang sama. Saat manusia membiarkan keserakahan menggeser kendali diri serta respect pada sekitar, di saat bersamaan mereka melucuti kemanusiaan mereka—menukar diri dengan babi yang mudah dikendalikan, yang lantas tunduk pada objek yang menjerat mereka tanpa ba-bi-bu.
Miyazaki menggunakan tranformasi ini sebagai kritik terhadap watak konsumerisme dalam late capitalism. Makanan dipandang sebatas transaksi yang terputus dari konteks spiritual dan sosial produksinya. Mereka tidak menghormati jamuan tersebut, tapi sesimpel melahapnya tanpa ba-bi-bu.
Perubahan wujud menjadi babi ini menegaskan dampak implisit dari budaya konsumsi yang berlebihan—yakni mengikis kesadaran manusia hingga justru berakhir sebagai pihak yang “dikonsumsi”.
Meski berasal dari rentang zaman yang terpaut jauh dan mengusung estetika yang bertolak belakang, ke-babi-an di Spirited Away dan The Odyssey menggunakan transformasi yang sama:
perubahan wujud manusia menjadi babi sebagai metafora visual untuk menggambarkan bagaimana keserakahan dan nafsu yang tak terkendali mampu melucuti agensi serta kemanusiaan seseorang.
Bahkan untuk kencan dan cari jodoh aja sekarang mulai pakai simulasi AI.
Fenomena ini perlahan memperlihatkan dorongan kita untuk mengejar “kesempurnaan”, sekaligus menolak rasa canggung, salah ucap, atau kegagalan yang sebenarnya wajar dialami oleh manusia.
Walaupun sedikit berbeda, dinamika ini mengingatkan pada film Her (2013) karya Spike Jonze. Theodore Twombly (Joaquin Phoenix) menjalin hubungan dengan AI bernama Samantha (Scarlett Johansson) sebagai bagian dari pelarian atas kegagalan pernikahannya di dunia nyata.
Sebetulnya aku ga terlalu banyak nonton dorama ataupun film yang dibintangi Yuri Nakamura. Tapi salah satu karakter yang berkesan adalah penampilannya sebagai Irene, psikolog dalam dorama Romantics Anonymous (2025).
Aku rasa ini pertanyaan yang familiar bagi kita: seberapa sering kita merasa harus mempertaruhkan nyawa tiap kali mau absen masuk kerja?
Di anime Shiboyugi: Playing Death Games to Put Food on the Table, kiasan itu diterjemahkan secara harfiah. Subjudulnya secara lugas mengaitkan ancaman maut dengan urusan perut, memaksa kita bercermin pada horornya kondisi kerja kontemporer.
Di dunianya Yuki, jauh lebih mudah membayangkan jebakan fatal yang mengoyak badan di tiap koridor daripada membayangkan struktur sosio-ekonomi di mana seorang anak berusia 17 tahun tidak harus mempertaruhkan nyawanya demi cari sesuap nasi.
Manor yang mematikan itu diterima sebagai hukum "natural" yang objektif dan tak tergoyahkan.
(Akan bersambung ke Part 2 soon)
Tadinya, kupikir anime Shiboyugi: Playing Death Games to Put Food on the Table memiliki narasi yang serupa dengan trope death game pada umumnya.
Tak disangka anime ini ternyata memperlihatkan yang sebaliknya, di mana death game tak lagi digugat dan dilawan karena telah menjadi sistem yang hadir secara “natural”.
A thread 🧵 (Part 1)
Kematian sebenarnya hampir tidak pernah mengetuk pintu untuk memberi tahu bahwa ia akan bertamu. Banyak orang terbangun di pagi hari yang biasa, membuat rencana sedemikian rupa, dan menjalani rutinitas tanpa menyadari bahwa hidup mereka akan berakhir hari itu.
Realita inilah yang ditangkap oleh film Remember Me (2010). Di sepanjang durasinya, alurnya berpusat pada dinamika dysfunctional family, proses pemulihan trauma, forgiveness, dan tentu romansa anak muda, yang kemudian diakhiri dengan sebuah kejutan tak terduga.
Tentu ada sebuah ironi tersendiri. Banyak penonton yang akhirnya melupakan keseluruhan cerita dan tema utama film ini, dan hanya mengingat film Remember Me karena kematian Tyler di ujung durasi.
Ini sebenarnya merefleksikan bagaimana sebagian dari kita hanya mengingat seseorang karena kematiannya, sementara jejak dan memori ketika ia pernah hidup seringkali menguap begitu saja.