Selamat atas terpilihnya KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam masa khidmah 2026-2031 pada Muktamar Ke-35 NU Tambakberas Jombang.
KH Miftachul Akhyar merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya. Perjalanan khidmahnya di NU antara lain sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, Wakil Rais Aam PBNU, hingga Rais Aam PBNU 2018-2026.
#nahdlatululama #nuonline #muktamar #raisaam #muktamarke35nu
Allah Belum Selesai Menulis Ceritamu
Jadi gini…
“Kalau aja dulu saya diterima di situ, mungkin hidup saya udah hancur sekarang.”
Pernah nggak sih kamu mikir gitu?
Dulu kamu nangis karena ditolak, dipecat, ditinggal, atau gagal total. Eh pas dilihat lagi, justru itu yang nyelamatin kamu. Yang kamu kira mimpi buruk, ternyata malah jadi penyelamat diam-diam.
Pertemuan kecil yang kamu anggap biasa aja, bisa-bisa ubah seluruh arah hidup kamu.
Hidup emang nggak sesederhana “berhasil” atau “gagal” di satu titik doang.
Dalam Islam, hidup itu bukan foto statis. Ini film panjang yang terus muter. Al-Qur’an berulang kali bilang: jangan buru-buru judge kejadian.
Lihat Nabi Yusuf. Dibuang ke sumur? Tamat riwayat. Dijual budak? Masa depan gelap. Dipenjara? Kelar sudah.
Tapi sumur itu justru tangga naik. Penjara itu malah pintu menuju kekuasaan. Satu episode nggak pernah jadi ending cerita.
Gimana dengan kamu? Apa sumur versi kamu yang bikin kamu merasa dibuang?
Yang bikin orang depresi itu bukan susahnya. Tapi karena dia kira susah itu ada di seluruh hidupnya. Padahal hidup masih gerak terus.
Hari ini kamu diremehin? Bisa aja besok orang-orang yang dulu ngomong “dia nggak akan jadi apa-apa” justru antri minta nasihat sama kamu.
Hari ini kamu dipecat? Bisa jadi paksaan buat nemuin potensi yang selama ini kamu kubur.
Hari ini patah hati parah? Nanti kamu ketawa sendiri inget betapa “duniamu runtuh” cuma karena orang yang ternyata nggak seharusnya kamu pertahankan.
Dulu kamu buat keputusan salah dalam hidup kamu sampai orang lain ikut susah? Iya, tapi bukan berarti otomatis kamu selamanya jadi orang jahat. Kamu masih bisa kok memperbaikinya.
Imam Al-Ghazali bilang, manusia sering ketipu sama pandangan sesaat. Seolah ya guys…Kita lihat hidup cuma dari lubang kunci, lalu langsung ngomong “game over”.
Padahal waktu itu guru terbaik.
Jadi jangan terlalu sombong pas lagi di atas. Jangan juga hancur lebur pas lagi di bawah. Cerita kamu belum tamat.
Banyak hal yang baru kamu pahami bertahun-tahun kemudian. Dan sering kali, yang kamu sebut “kehancuran” dulu, ternyata cuma pintu masuk ke versi kamu yang jauh lebih baik.
Santai aja. Allah masih nulis lanjutan ceritanya…
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Hai kawan2.
Aku Beli tiket liverpool vs chelsea nya kelebihan 2 pcs.
Kalo ada temen2 WNI yg tinggal di area liverpool dan sekitarnya atau tinggal di London tapi mau nyepur sendiri ke liverpool, monggo aku kasi gratis nanti tiket lfcnya hahaha
Gus Mus menegaskan bahwa ilmu manusia terbatas sehingga jika mengomentari segala hal tanpa tahu batasnya menandakan kebodohan dalam dirinya. https://t.co/lnS2ZGV5Ih
Konflik yang Tertukar antara Keraton Solo dan Keraton NU
Wartawan pun ikut pusing dengan dua konflik besar ini. Gusti jadi “Gus”, dan masalah di Keraton Solo malah diselesaikan lewat Majelis Tahkim NU.
Ini gara-gara ada orang NU yang sekaligus orang Keraton Solo nih @CandraMalik 🤭
Pesantren gak kompatibel dengan dunia modern?
Masih ada pandangan keliru yang terus berulang: bahwa Islam hanya bisa “modern” kalau dibuat sekuler. Bahwa agama harus dipinggirkan supaya sains bisa berkembang. Pandangan seperti ini mungkin cocok di Eropa abad ke-18, tapi tidak relevan bagi Islam. Sejarawan Marshall Hodgson dalam The Venture of Islam menulis bahwa peradaban Islam justru melahirkan sains karena keyakinan spiritualnya. Iman bukan penghalang bagi akal, tapi justru bahan bakarnya.
Hal ini juga ditekankan Nurcholish Madjid dalam bukunya Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan (1992):
“Modernisasi adalah rasionalisasi, bukan sekularisasi. Modernisasi dalam Islam berarti pembebasan dari kebodohan dan kejumudan, bukan pembebasan dari Tuhan.”
Kalimat itu seperti tamparan halus bagi dua kutub ekstrem: yang alergi pada modernitas, dan yang mabuk modernitas tapi lupa iman.
Kita sering mendengar komentar seperti, “Modernisme itu kan sekuler. Mana bisa cocok dengan Islam?” atau “Pesantren itu tradisional, ketinggalan zaman.” Bahkan ada yang berpikir bahwa kalau seorang santri bicara soal demokrasi, HAM, atau berpikir kritis, pasti dia “liberal.” Sebaliknya, kalau dia menjaga tradisi, pakai sarung, dan hidup sederhana, dicap “kolot.” Dua-duanya salah paham — karena keduanya lahir dari cara pandang yang gagal memahami apa itu modernitas, dan apa itu ruh pesantren.
Pesantren berada di jalur tengah. Ia mendidik manusia agar cerdas tanpa congkak, beriman tanpa beku. Santri belajar berpikir kritis, tapi tahu kapan harus menunduk hormat kepada gurunya. Santri belajar bahasa asing, tapi tak kehilangan bahasa doa. Mereka bukan anti-modern, hanya saja mereka tahu bahwa kemajuan tanpa values itu ‘kesesatan’ yang canggih.
Sudah banyak santri yang menjadi prof di kampus terkemuka di dunia. Banyak santri yang gak hanya bisa baca kitab kuning tapi mereka juga fasih menjelaskan teori dan kajIan bidangnya seperti antropologi, demokrasi, rule of law, fisika kuantum dan lainnya.
Para santri bisa pakai sarung, bisa juga pakai jas. Bisa dengerin Umi Kulsum, tapi juga Adele. Cium tangan ke Kiai, tapi juga tampil di seminar Internasional. Biasa aja 😊
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Somasi dan Peringatan Keras dari Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor untuk Trans 7
Dalam 1x24 Jam
Kami menuntut Klarifikasi terbuka dan permintaan maaf resmi dari Trans 7 Kepada seluruh Masyarakat Indonesia #BOIKOTTRANS7
Mas @andi_chairil, anda dan @TRANS7 gak bisa hanya minta maaf. Ini bukan cuma khilaf. Ini sudah by design untuk menghina pesantren dan meruntuhkan marwah Kiai sepuh. Kalian sengaja membuat tayangan kontroversi demi rating kan. Jahat sekali anda, Mas?!
Coba anda dengar kembali cara tim anda membacakan narasinya? Mau muntah 🤮 gak tuh dengerinnya? Sangat merendahkan.
Tuntutannya jelas:
1. Anda mesti dipecat
2. Pembaca berita mesti dipecat
3. Pak Chairul Tanjung benahi manajemen Trans7
4. Buat tayangan yang berimbang dg membahas konsep barakah, adab, disiplin, pendidikan karakter ala Pesantren
5. Buat pemasang iklan untuk sementara waktu kalian jangan pasang iklan dulu di Trans7 sampai masalahnya selesai.
Sungguh anda mengecewakan sekali Mas Andi Chairil 😡
TRANS7 MENAMPAR WAJAH SANTRI MENJELANG HARI SANTRI NASIONAL
Menjelang Hari Santri Nasional, @TRANS7 justru memberi kado pahit bagi dunia pesantren. Tayangan mereka melecehkan para kiai—khususnya Romo Kiai kami, KH Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo sekaligus Rais Syuriah PWNU Jawa Timur. Beliau adalah sosok sepuh yang setiap hari masih mengajar dengan penuh kasih dan ketulusan. Dan saya yakin, beliau tidak pernah menyinggung Trans7, apalagi pemiliknya, Bapak Chairul Tanjung.
Namun apa yang dilakukan Trans7 bukan sekadar “salah tayang.” Ini penghinaan. Narasinya ngawur, dibacakan dengan gaya yang merendahkan, disertai visual dan caption yang secara sistematis membangun framing jahat terhadap para kiai. Saya tidak bisa tinggal diam. Saya tumbuh dalam tradisi kritik dan kebebasan berpendapat ala akademik Barat, tetapi yang dilakukan Trans7 bukan kebebasan pers — ini serangan terencana terhadap kehormatan pesantren.
Saya menuntut langkah tegas: Produser acara harus dipecat. Pembaca naskah dipecat. Trans7 wajib menayangkan program tandingan yang menampilkan konsep barokah, adab, disiplin, dan pendidikan karakter ala pesantren agar publik memperoleh gambaran yang berimbang.
Lihatlah, rumah KH Anwar Manshur begitu sederhana—jauh dari kemewahan. Tapi Trans7 justru membingkai seolah beliau hidup dari amplop dan kemewahan. Itu fitnah! Itu penghinaan terhadap orang yang seluruh hidupnya diabdikan untuk ilmu dan umat.
Saya menangis menonton tayangan itu.
Bukan karena Kiai kami diserang, tapi karena media sebesar Trans7 tega memproduksi penghinaan semacam ini di bulan ketika bangsa ini semestinya menghormati para santri.
Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia jangan diam. Ini ujian bagi kredibilitas lembaga Anda. Pak Chairul Tanjung, benahi manajemen Trans7 Anda. Dan kepada para pengiklan, saya menyerukan: jangan pasang iklan di Trans7 sampai lembaga ini bertanggung jawab penuh.
Permintaan maaf atau sowan belaka tidak cukup. Luka yang mereka goreskan terlalu dalam. Ini bukan hanya soal satu Kiai — ini soal kehormatan seluruh dunia pesantren.
Salam penuh duka dan amarah,
Nadirsyah Hosen