Sepakat banget. Pasangan itu either make or brake. Emotionally, Financially, dsb.
Dan menurut gw kita harus jujur sejujur2nya, maunya kayak gimana ke diri sendiri.
Misal ada yg prefer istri yg bisa mandiri, bisa tetep kerja/belajar untuk ngejar mimpinya. karena itu ngedatengin energi yang berbeda di rumah, sama2 punya excitement di dunianya masing2.
Menurut gw, having a child itu keputusan yang paling sakral dalam hidup manusia. Bahkan daripada menikah.
Karena kita menghadirkan satu jiwa baru lagi di dunia yang seperti ini. Yang one day kita akan lepasin gitu aja, sementara kita jg akan dimintai pertanggungjawaban.
Sayangnya, banyak orang mikir punya anak sekadar ngelahirin, ngasih makan, udah.
Padahal tiap manusia punya kebutuhan dasar dan banyak hak, sampai aspirasi dan cita2 yang menurutku parents musti turut bertanggungjawab.
Jangan hanya mengutamakan cinta dalam pernikahan,
karena yang disebut di Al-Qur’an itu sakinah (ketenangan hati), mawaddah (kasih sayang), warahmah (perhatian, empati). Karena cinta bisa timbul dan hilang, bahkan dimanipulasi. Sedangkan kasih sayang muncul dari kenyamanan dan ketenangan.
Menikahlah dengan orang yang bersamanya sakinah, mawaddah, warahmah engkau dapatkan.
Tapi kalau bisa menikah karena semuanya; tenang, nyaman, empati, kasih sayang, dan ditambah cinta, bahagianya juga akan lebih besar.
aku pernah membaca,
“maka, bertumbuhlah dengan sangat cantik. biarlah luka-luka itu menjadi perjalanan yang perlahan membentukmu menjadi akar yang kuat.”
lalu seseorang menimpali,
“jika nasi telah menjadi bubur, buatlah bubur yang enak.”
Ada tulisan cantik banget, kira-kira begini isinya:
“semoga kamu selalu dipertemukan dengan seseorang yang dapat berbicara bahasa mu, sehingga kamu tidak perlu menghabiskan waktu seumur hidup untuk menerjemahkan jiwamu..”
@tanyakanrl Area rahim itu hak prerogatifnya Yang Maha Kuasa, menurut keyakinan saya, kalo ada orang (apa lagi orang terdekat) yg kerap kali bertanya "kapan isi?" dsb, bisa diasumsikan dia meragukan kehendak Allah SWT.
@SosmedAnu Setelah nikah, lebaran bukan cuma pulang… tapi juga belajar adil tanpa bikin siapa pun merasa ditinggal.
Lebaran itu tentang berbagi waktu, bukan rebutan waktu.
ada hal hal bernilai yg bisa jd orang belum tentu bisa melihat itu, tp aku bersyukur dikasih liat oleh Allah SWT tentang kelebihan suamiku itu. ga bohong setiap manusia ada aja kurangnya (of course aku jg banyak kurangnya).
however, ternyata mau dunia sebrat bret brot apapun. punya suami yg mau mendengar dan berpihak kepadaku sebagai istri itu salah satu hal termenenangkan di kehidupan pernikahan ini. semoga Allah SWT bantu jaga rumah tangga kami.