Girlgroup asal Korea yang beranggotakan Jisoo, Jennie, Rose dan Lisa telah menggelar konser kedua yang bernama BORN PINK World Tour di Gelora Bung Karno Jakarta Pusat
Meskipun durasinya agak panjang (135 menit) namun bagi saya #TheWomanKing tidak menyia-nyiakan waktu sama sekali. Ia justru menggunakan waktunya dengan baik sehingga semua momen yang ditampilkan mengalir dengan enak.
Namun, film ini enggak begitu saja membuat perempuan jadi lebih baik dari laki-laki. Soalnya kita masih bisa melihat bagaimana sisi rapuhnya para anggota Agojie. Bahkan, pasukan perempuan dan laki-laki pun diperlihatkan berlatih dan bekerja sama untuk pertempuran di akhir.
Enggak bisa dipungkiri bahwa cerita #TheWomanKing ini memiliki pesan women empowering dan isu rasisme serta film yang menampilkan pemeran utama perempuan dengan semangat feminisme yang sangat tinggi.
#TheWomanKing juga menampilkan banyak konflik menarik nan kompleks. Mulai dari usaha menghentikan penjualan orang antarsuku untuk dijadikan budak kepada orang Eropa, hingga munculnya konflik lama orang tua dan anak, yang mana cukup memberikan plot yang sungguh tidak terduga.
Film #TheWomanKing ini mengisahkan tentang Agojie, prajurit perempuan yang melindungi Kerajaan Dahomey yang terletak di Afrika Barat, selama abad 17 hingga 19. Nah, film ini mengambil latar waktu tepatnya di tahun 1823.
#TheWomanKing yang digarap oleh Gina Prince-Bythewood ini dibintangi oleh Viola Davis sebagai pemeran utamanya yakni, Nanisca. Menurut saya, beliau berhasil memerankan sosok pemimpin perempuan yang kuat di dalam film ini.
Fun fact yang saya temukan dalam film #TheWomanKing ini ialah pertama kalinya bagi saya melihat film tentang kerajaan di Afrika dari perspektif orang sana, bukannya dari sisi kacamata penjajah.
Secara umum, film dapat dibilang sebagai medium yang powerful karena daya pengaruhnya yang cukup kuat. Hal ini tergambarkan di dalam film #TheWomanKing mengenai sekumpulan prajurit perempuan dari tanah Afrika yang tidak kalah perkasanya dengan superhero fiksi milik Marvel.