Hari ini ulang tahunku, dan suamiku inisiatif ngirimin pizza ke rumah karena lagi dinas di Jakarta. Pesan dari jam 18.30, tapi baru sampai sekitar jam 20.30. Suamiku juga sempat nelepon drivernya berkali-kali, tapi nggak diangkat. Pas pizzanya datang aku langsung curiga karena dusnya kelihatan kotor.
Aku sempat tanya ke drivernya kenapa bisa begitu, dia cuma jawab, "Nggak tahu, dari sananya udah gitu." Aku juga mastiin lagi apa pizzanya sempat jatuh atau nggak, tapi dia bilang, "Nggak." Pas masuk rumah dan dibuka, ternyata zonk. Pizzanya cuma sisa 2 slice.
Aku udah komplain ke Domino's ya. Karena pesannya lewat ShopeeFood, jadi laporannya diterusin ke pihak ShopeeFood. Suamiku juga udah berkali-kali nelepon drivernya, tapi jawabannya tetap sama, katanya, "Dari Domino's udah kayak gitu."
Aku juga sadar kurang teliti karena terlalu seneng makanannya akhirnya datang. Maklum lagi hamil TM3, jadi seneng banget pas dikirimin makanan. Eh ternyata hasilnya bikin nangis.
@karirfess Sekelas manager aja tidak memahami konteks "musuh".
Komunikasi ❌️
Empati ❌️
Problem solving❌️
Belajar Kepemimpinan itu menghargai pendapat org lain, klo postingan nya begitu, manfaat training tentara2an ini apa?
@karirfess Nyawa 5 orang hilang, masyarakat protes program yg tidak sesuai dengan pekerjaan = masyarakat memusuhi calon manajer.
Lama2 nanti kita kayak film death race, disabung antar warga, dibuat tontonan orang di atas.
@karirfess Lah padahal netijen kan belain mereka, pendidikan manajer tp pake militer sampe jatuh korban kan artinya ada yg salah. Kyknya emg ada yg salah ama pendidikan parcok dan parjo ya sampe pola pikirnya pada rusak gini.
Dalam sebuah podcast, Deny Sumargo pernah bertanya kepada Chika, ibu dari Kenneth, bayi yang viral karena kemampuan belajarnya sejak usia sangat dini.
"Kalian pernah cek ke dokter nggak sih, kok Ken bisa secerdas itu?"
Jawaban Chika justru membuat banyak orang berpikir.
"Kalau kata dokter, sebenarnya semua bayi punya potensi. Yang membedakan adalah apa yang diberikan orang tuanya selama 1.000 hari pertama kehidupan."
Menurutnya, stimulasi tidak dimulai saat anak lahir, tetapi bahkan sejak masih di dalam kandungan.
Saat usia kehamilan sekitar 28 minggu, ketika pendengaran janin mulai berkembang, mereka rutin mengajak bayi berbicara. Bahkan sang ayah sering membacakan buku, bukan agar bayi langsung memahami isinya, tetapi supaya terbiasa mendengar suara orang tuanya.
Setelah lahir, Kenneth dikenalkan dengan buku hitam putih (contrast book) saat tummy time untuk membantu stimulasi penglihatan sekaligus melatih otot leher dan motoriknya.
Saat memasuki usia sekitar tiga bulan, ia mulai dikenalkan pada buku dengan berbagai tekstur untuk merangsang indra peraba dan membiasakannya mengeksplorasi berbagai sensasi.
Ketika mulai bisa menunjuk benda, orang tuanya juga tidak langsung mengambilkan apa yang diinginkan.
Mereka mengajak Kenneth berkomunikasi.
Misalnya, "Adik mau yang ini? Ini namanya tisu."
Cara sederhana seperti itu membantu memperkaya kosakata sekaligus melatih kemampuan berpikirnya.
Yang paling menarik, orang tuanya mengatakan bahwa mereka tidak mengejar anak yang sekadar pintar secara akademis.
Mereka lebih mengutamakan adab, kemandirian, kemampuan bernalar, dan nilai-nilai kehidupan.
Bagi mereka, kepintaran hanyalah bonus.
Terlepas dari kisah Kenneth, penting diingat bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatan dan cara yang berbeda. Tidak semua anak akan mencapai kemampuan yang sama pada usia yang sama, dan itu bukan berarti ada yang gagal. Faktor seperti kesehatan, lingkungan, stimulasi, serta perbedaan individu juga berperan besar dalam tumbuh kembang anak.
Menurut kalian, seberapa besar pengaruh pola asuh dan stimulasi di rumah terhadap perkembangan anak dibandingkan dengan faktor bawaan atau genetik?
Pas lagi jalan santai sore tadi.
"Pak, mau nasi goreng nggak?" tanyaku ke bapak pemulung yang lagi duduk di pinggir jalan sambil ngeliatin penjual makanan.
"Mau, Bu," jawabnya malu-malu.
"Oke, bentar ya Bu pesenin."
Pas mau nyebrang ke tukang nasi goreng, tiba-tiba bapak pemulungnya lari nyamperin aku.
"Bu, boleh beli kue putu aja?" tanyanya pelan sambil nunjuk tukang putu yang dari tadi cuma bengong nunggu pembeli.
"Oh boleh. Bapak lagi pengen kue putu ya?" candaku.
"Nggak, kasihan yang jual dari tadi belum ada yang beli, Bu."
Aku langsung diem... 🥺
Akhirnya tetap beli nasi goreng, sekalian beli beberapa bungkus kue putu buat bapaknya.
"Bu, ini kebanyakan. Boleh nggak dua bungkus buat temen saya yang di bawah terowongan jembatan tol sana?" katanya sambil nunjuk ke arah sana.
Aku iyain.
Dan bener aja, di terowongan itu ada pemulung lain yang badannya kurus banget, lagi tidur meringkuk di atas kardus. 🥺
Ironis ya, di negeri ini masih banyak pejabat yang tanpa malu nguras uang negara buat kepentingan pribadi. Sementara di sisi lain, ada orang yang hidup serba kekurangan tapi masih mikirin orang lain sebelum dirinya sendiri. 🥺
Malam ini aku ngelihat rasa peduli yang bener-bener tulus.
Seorang bapak pemulung yang peduli sama tukang putu karena dagangannya sepi. Tukang putu yang ngasih bonus beberapa potong kue sebagai ucapan terima kasih. Dan pemulung di terowongan yang meluk kue putu itu penuh rasa syukur karena masih ada temannya yang peduli sama dia. 🥺❤️
Yuk, saling baik sama sesama.
"No act of kindness, no matter how small, is ever wasted." — Aesop.
Gue dulu QC di pabrik sosis. Gue pikir kerjaan gue cuma ngecek tanggal kadaluarsa.
Waktu itu gue dipanggil senior. "Lo ke freezer, ada 200 pack daging beku udah 2-3 tahun. Cek satu-satu."
Gue kaget. "2-3 tahun Pak? Buat apa?"
"Buat campuran produksi"
Gue kira tinggal liat tanggal kadaluarsa. Ehh gak gitu ternyata.
"Cium baunya," kata senior gue. "Kalo masih bagus, pisahin."
Gue buka satu per satu. 200 pack. Gue cium, gue perhatiin tekstur.
Dari 200 pack, cuma 50 yg masih layak. Sisanya bau asem, tekstur hancur, warnanya berubah. Gue mual, pusing, hampir muntah. Tapi yaudah ini kerjaan.
Gue lapor ke senior. " Pak dari 200 cuma 50 yang layak."
Dia langsung masang muka gak terima. "Masa cuma 50? Lo yakin?"
Gue jawab, "Yakin Pak."
Dia agak kesel. "Sini gue cek sendiri."
Gue cuma bisa liat dia mulai buka pack satu per satu.
Gue kaget. Dengan percaya diri, dia bilang, "Ini masih bagus. Ini juga. Ini juga."
Padahal dari samping, gue udah liat teksturnya hancur dan baunya busuk.
Gue coba nyeletuk pelan, "Pak itu udah bau asem."
Gue sadar satu hal: di pabrik, uang lebih penting daripada kualitas. Daging beku 2-3 tahun yg udah bau dan hancur, tetep dipaksa buat diolah ulang. Demi untung.Gue gak tau daging itu akhirnya dipake atau engga. Tapi sejak saat itu, gue mulai mikir dua kali sblm beli produk olahan.Sosis, nugget, bakso. Apapun yang termasuk UPF. Di balik kemasan yang rapi, kadang ada cerita yg gak pernah kita tau.Gue udah gak pernah makan sosis lagi. Bukan karena gue vegan. Tapi karena gue tau apa yang ada di baliknya.Kalo lo bisa, mending masak sendiri atau beli produk yg lebih jelas asal usulnya. Kalo gak, setidaknya perhatiin label dan tanggal produksi.
cc: fimaa_id
Nahh, tadi aku sempet ngefoto beberapa planlet yang udah tumbuh nih.
Vanili - nanas - anggrek (kontam)
Fun fact, setiap jenis kontam ternyata bisa jadi indikator penyebabnya. Yang di foto itu karna ada semut, jadi kontam jamur (mas fajar said).
Aku mau bikin thread PKL di KBTPH Salaman. This is my first thread, so correct me if I'm wrong. Btw, ini thread-nya aku bikin secara berkala ya, sesuai dengan kegiatan aku.
PKL as Agrotechnology student
- a thread
Autoklaf yg dipake di sini yg manual ya, jadi dimasak pake kompor bukan listrik. Kalo dari yg aku baca, ketentuan sterilisasi autoklaf itu suhu 121°C dgn 1 atm. CMIIW. Kalo udah selesai, botol kulturnya dikasih label sesuai perlakuan dan disimpen buat liat tingkat sterilisasinya.