thread update kasus FH UI:
Gambar 1: Ini adalah tampang 16 pelaku pelecehan seksual verbal dan objektifiksasi terhadap perempuan di FH UI. Ini adalah moMen ketika mereka disidang oleh forum mahasiswa dan live di tiktok.
Gambar 2: Ibu yang berpakaian batik dan dipeluk menjadi salah satu korban yang dilecehkan para pelaku di grup chatnya. Beliau adalah salah satu dosen di FH UI. Beliau saat forum bilang “pas saya lihat chatnya, saya kaget ada nama saya”.
Sudah sah .. ya.. pak menhan sudah tanda tangan kerjasama pertahanan dengan Amerika.
Kalau nanti lihat pesawat perang Amerika lewat di langit kita.. gak usah kaget .. . karena memang mereka bisa lewat kapan saja .
Pemerintah mau nya gitu kok … kita rakyat jelata bisa apa ?
TANYA JAWAB SIDANG FH UI
(foto pertama)
munif bilang dia lebih pilih disayurin karena dia ngerasa ga bersalah (konteks, dia yang capture dan share chatnya)
(foto kedua)
valenza
- bilang “best staff by their look, sebagai reward setelah kerja satu tahun untuk muasin nafsu gua”
- bilang “(nama korban) sebagai bahan gesekan”
- melecehkan korban secara verbal padahal korban termasuk teman terdekat pelaku selama 1 tahun terakhir
(foto ketiga)
tanya ke dekan
sejauh mana ruang aman untuk korban?
apakah berkenan menjatuhkan sanksi DO?
jawaban:
tetap akan diproses, ada tim PPKS, fakta hari ini akan diserahkan tim PPKS UI, kawal proses sesuai peraturan yang berlaku
“Para bapak, sudahi prinsip: mendidik anak laki-laki itu mudah. Turun tangan, didik anak laki-lakimu”
Semalam 16 mahasiswa FH UI disidang sampai jam tiga pagi, sidang terbuka, disaksikan secara live oleh ribuan orang.
Kejadian ini tidak tiba-tiba. Ini akumulasi. Terlalu lama society menelan mentah-mentah prinsip: “mendidik anak laki-laki itu mudah.”
TIDAK.
Justru karena dianggap mudah, banyak hal yang tidak diajarkan. Lihat saja pola yang sering diremehkan:
Berawal dari obrolan santai yang melecehkan, jadi kebiasaan, jadi cara pandang, lalu jadi perilaku nyata (liat gambar piramida perkosaan)
Tidak semua langsung jadi pelaku kekerasan seksual. Tapi hampir semua berangkat dari titik yang sama: normalisasi.
Society sibuk mendidik anak perempuan: jaga diri, jaga batas, jaga perilaku. Tapi kendor pada anak laki-laki.
“Namanya juga laki-laki.”
“Cuma bercanda.”
“Nanti juga ngerti sendiri.”
"Boys will be boys"
Tidak.
Karakter tidak tumbuh sendiri. Ia dibentuk. Dilatih. Ditegaskan.
Orang tua, perhatikan obrolan anak laki-lakimu. Kalau sudah mulai ada convo yang melecehkan: Tegur. Luruskan. Jangan ditertawakan atau dianggap enteng. Karena di situlah fondasi dibangun.
Terutama para bapak. Anak laki-laki belajar bukan dari teori, tapi dari contoh.
Bagaimana kamu bicara tentang perempuan. Bagaimana kamu memperlakukan pasanganmu. Bagaimana kamu menempatkan perempuan sebagai manusia, bukan objek. Semua itu direkam.
Dan akan mereka ulang.
Ketika seorang bapak menganggap mendidik anak laki-laki itu mudah, dia sedang memilih untuk menjerumuskan anak dengan tidak hadir secara penuh, tidak waspada, hingga di satu titik si anak bisa jadi pelaku ataupun korban.
Anak kemudian dibesarkan oleh algoritma, oleh teman, oleh budaya yang seringkali permisif terhadap pelecehan dan standar moral yang yang tidak sehat.
Kalau kita tidak serius mendidik anak laki-laki hari ini, jangan kaget dengan realitas besok. Karena pelaku tidak lahir tiba-tiba. Mereka dibentuk pelan-pelan, dari hal-hal yang selama ini dianggap “sepele.”
Just incase ada yang komen: "emang siapa yang bilang mendidik anak laki-laki itu mudah? Saya dididik dengan sangat keras"
Oh well, cara pandang itu sudah mengakar sejak lama di masyarakat.
Presiden Korea Selatan lebih berani bersuara mengkritik Israel di forum internasional ketimbang Presiden Indonesia adalah hal yang tidak masuk kartu bingo semua orang tahun ini.
Guys kencengin ikat pinggang. Gw sama suami bener2 memutuskan di rumah aja pas liburan nanti. Meskipun ada rejeki lebih baik disimpan or dibagi ke orang tua dan adik2.
Tough time ahead. Tapi semoga semua ini bisa kita lewati sama-sama.
Jangan lupa momen2 ini guys pas pemilu 2029 nanti. Beneran deh, gw pun mengingatkan ke diri gw sendiri. Selalu edukasi diri.
Polesan kamera itu menyakitkan. Uda stop justifikasi2 orang baik, politik itu harus damai, pilih pemimpin yg punya pengalaman. STOP.
Next time, gw cuma mau milih yg mendorong perubahan sistem. Ga ada lagi ngomong2in program kerja. Capek. Banyak banget program kerja, tapi ujung2nya mental juga kondisi ekonomi kita.
Kalo institusi bener2 jalan, at least kita ga ngerasa clueless kaya gini. Kita ga harus saling blaming each other. Kita ga harus dipaksa mikir setiap saat untuk issue yg seharusnya tugas yg menjalankan pemerintah.
Kuat2 semua. Apalagi sandwich generation, I feel you. 🫶🏼
Pernah dengar kalimat ini?
“Jangan begitu sama orang tua. Nanti kalau mereka sudah nggak ada, kamu nyesel.”
Kalimat itu sering banget kita dengar.
Dianggap nasihat.
Dianggap bentuk bakti.
Dianggap standar moral paling tinggi.
Tapi coba kita putar sudut pandangnya.
“Jangan begitu sama anak. Nanti kalau kamu sudah tua, anakmu memilih menjauh.”
Tiba-tiba suasana berubah.
Orang mulai defensif.
Merasa diserang.
Merasa perannya sebagai orang tua digugat.
Gak punya empati, gak bisa baca situasi, gak mau peduli sama kritik, suka halusinasi bikin musuh sendiri, dan arogannya gak ketolong.
Pantesan bencana Sumatera belum dinyatakan jd bencana nasional. Ternyata dia lah bencana nasional buat kita semua.
tau ga, sawit itu, kalo usianya udah 25-30 tahun, wajib ditanam ulang (replanting).
jadi, kenapa sebelah kanan udah menjulang tinggi (kemungkinan sudah di atas 7 tahun) dan sebelah kiri masi kicik (kemungkinan 2 tahunan), ya alasannya karna itu.
ketika sebelah kanan sudah harus replanting, sebelah kiri udah dewasa. nanti sebelah kiri replanting, sebelah kanan udah dewasa.
jadi gada selesainya. muter terus.
Banyak temen-temen yg secara skill dan expertise jauh diatasku, tapi saat ini mungkin struggle nyari kerja. Terlebih yg udah di usia > 30 tahun.
Jadi aku gak akan bilang orang yg apply kerja sana sini dan ketolak terus itu faktor skill issue.
Job market emg lagi gak karuan ini.
@WILLYOUKITSCHME KEREEENNN!!!
Betul bangettt kaak, kita hebat atas pencapaian kita yg sekarang. Kerja emng pasti ada capeknya, aku jg seneng ketika hasil kerja ku gak cuma aku yg nikmatin, tp aku bisa bantu nambahin bayaran ukt dan kosan adik ku. Bersyukur bgtttt. Lancar dan sukses kamu ya kaak!