mimpi basah gua kejadian
kantor greenflag
gaji competitive
3 hari wfo 2 hari wfh
ada kang jajan dalem kantor
wifi nya kenceng
ga takut keluarin budget buat ent client
KALO MEETING DI LUAR DIMANAPUN FULL REIMBURSE ( WALAU MEETING INTERNAL)
puji tuhaann
kalau manusia bisa mengerti bahasa orang utan, mungkin manusia enggan membakar hutan. sebab hangusnya pepohonan bisa membuat orang utan murka hingga mengisi dunia dengan jeritan
TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS DIBAKAR!!
⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️
Belom selesai kasus kebakaran di Kalimantan, Taman Nasional Way Kambas di Lampung SENGAJA DIBAKAR!
I REPEAT! 📢
SENGAJA DIBAKAR 📢
Kebakarannyaa sendiri terjadi sejak Jumat (21/8/2026) hingga saat ini, Sabtu (22/8/2026). Apinyaa saat ini masih sulit dipadamkan karena sulitnya medan.
Polisi katanyaa mau nyelidiki oknum yang dicurigai MEMBAKAR WAY KAMBAS.
sementara Pihak TN Way Kambas berharap ada bantuan alat pemadam berupa mesin pompa air atau alkon untuk menjangkau area yang sulit dijangkau kendaraan.
FYI:
WAY KAMBAS ini sudah sejak lama menjadi incaran sawit-sawit an sejak tahun 90-an!
Dan you know lah, sekali lagi konflik manusia dan gajah dijadikan kambing hitam~ 😭
Alih Fungsi Lahan: Lebih dari 5.350 hektar hutan tercatat telah berubah menjadi area pertanian dan kebun komersial akibat perambahan liar yang menumpuk dari tahun ke tahun~ 😔
Semoga Kartijah, Domang, Seroja, Nisa dkk semuanyaa selamat aman sentosa! 🐘
Maafkan kami, sekali lagi Gajah, Macan, Trenggiling, Badak, Harimau, Tapir dan semuanyaaa 😭😔
gagal menuju bundaran HI akibat tertahan barikade polisi, massa mahasiswa UI memilih untuk duduk di atas aspal bersama polisi
bikin salfok pas ada yg bagiin donat, trus ada yg bilang:
"polisi jangan minta" 😂
"buat rakyat rakyat aja ya, dari rakyat juga soalnya"
lanjut dialog dgn polisi sambil makan donat ditangan 😭
@coeplican Nyuci baju jam 12 malem, trus ada sisa air sabun di ember bekas cuci, tiba2 adaenergi tersisa juga, jadi lah tengah malem ngosrok kamar mandi, dan jemur baju jam 1 malem. Berlanjut cuci piring, tapi jadi laper, jadi jam setengah dua bunyi cetek2 masak mie di dapur bersama
in my opinion, anak merantau pulang isnt about hemat uang aja. tapi its about recharging your energy with your loved ones dirumah, taken care by mama, hanging around things yang sudah familiar & termasuk comfort zone. jadi aku suka pulang ke rumah karena that familiarity 🤍
aku setuju sama statement, " kalo mau pinter, rajin belajar apalagi belajar bahasa inggris, coba belajar al quran dulu " WORKKSSS 😭 burnout dikit baca quran selembar, jujur dah ke mana aja ya ak selama ini... tiap burnout malah tidur 😞
pengen cerita aja karena jujur nangis dikit. jadi kemarin ak pas habis sholat di mall, ku masukanlah duit sisa kembalian belanja dari case hpku di kotak amal. terus pas masukin "ya Allah diganti yang lebih banyak ya habis ini".
@fisipstroberry Fyi, di negara lain tuh sebenernya gini. Jadi mirip kayak website gitu real-time dikasih tau APBN dipake buat apa aja.
Bahkan seingetku di jp ada istilah "kembalian pajak" misal ada duit govt yg sisa di akhir tahun. Nanti pajak kita dikembalikan lwt pos gitu
Misal nih, ditawarin uang 100jt. Tapi syaratnya selama 6 bulan
- Gaboleh ngopi
- Makan rebusan
- Ga buka medsos
- Cut off gula
- Jalan kaki 10 kilo/hari
Kamu bakal ambil ga?
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.