@tanyakanrl Wkwkwk tp mau kek manapun jg Indonesia negara open source, rasa-rasanya KTP dan NIK udah bukan hal yang privasi lagi๐ญ
(Saking seringnya data oemerin ke leak, atau berkas kk ktp ijazah buat bungkus gorengan)
@Matchapresso0@chinerisme@onetwocue Wkwkwk jangan lupakan biaya sosialisasinya. Ikut rewang, srawung, dan tetangga yang always butting into other people's business wkwkwkwkwkwkw
@san_saia@buzzthetoy Ya kalau mau aware ya dua duanya ga cuma avoidant dan anxious, dua duanya harus aware dan berbenah. Ga ada yang better ini worst itu
Guys, tadi gue ngobrol sama abang ojol di jalan.
Dan cerita dia ini menurut gue paling jujur dan paling menggambarkan dampak nyata dari kenaikan Pertamax yang katanya
"tidak akan mempengaruhi rakyat kecil karena cuma kelas menengah yang pakai".
Bohong besar.
Dan ini buktinya dari mulut orang yang merasakan langsung setiap hari.
Begini ceritanya:
Abang ojol ini bilang Pertamax naik, tapi yang justru paling kena dampaknya adalah Pertalite.
Bukan karena harganya naik.
Tapi karena permintaannya yang meledak.
Logikanya sederhana:
orang-orang yang biasanya isi Pertamax sekarang banyak yang pindah ke Pertalite.
Karena selisih harganya makin terasa di kantong.
Dan ketika jutaan kendaraan yang biasanya pakai Pertamax tiba-tiba beralih ke Pertalite stok di SPBU jadi tidak cukup.
Dan ini dampaknya yang langsung kena ke ojol:
Beberapa SPBU Pertalite-nya kosong.
Kadang ada, tapi harus antri 1 sampai 2 jam.
Dan abang ojol ini cerita yang paling bikin gue tertegun:
"Kalau mau subuh-subuh sebelum SPBU buka
kita udah antri."
Bayangkan.
Jam 4 pagi.
Sebelum matahari terbit.
Sebelum SPBU resmi buka.
Sudah ada antrian ojol yang menunggu giliran isi Pertalite.
Dan ini yang paling menyakitkan secara ekonomi:
Waktu antri 1 sampai 2 jam itu bukan waktu kosong.
Itu waktu yang seharusnya bisa dia pakai untuk dapat 2 sampai 3 orderan.
Buat ojol waktu adalah uang secara harfiah.
Setiap menit yang tidak dipakai untuk narik adalah pendapatan yang hilang.
"Emang sih Pertalite kagak naik.
Tapi dengan Pertamax naik ngaruh ke Pertalite."
Satu kalimat dari abang ojol ini lebih jujur dan lebih akurat dari seluruh pernyataan resmi pemerintah soal dampak kenaikan Pertamax.
Dan ini yang harus dipahami oleh siapapun yang bilang "kenaikan Pertamax tidak akan berdampak ke rakyat kecil":
Ekonomi itu sistem yang saling terhubung.
Tidak ada harga yang naik secara terisolasi tanpa efek domino ke harga lain.
Pertamax naik โ orang pindah ke Pertalite
โ permintaan Pertalite meledak โ stok di SPBU tidak cukup โ antrian panjang โ ojol kehilangan waktu produktif โ pendapatan ojol turun โ ojol harus narik lebih lama untuk dapat penghasilan yang sama โ waktu istirahat berkurang โ dan siklus ini terus berputar.
Yang dirasakan rakyat kecil bukan harga Pertalite yang naik di angka.
Yang dirasakan adalah waktu hidup mereka yang dicuri oleh antrian yang seharusnya bisa dipakai untuk cari nafkah.
Dan ini ironi yang paling pedas:
Pemerintah bilang Pertalite tidak naik jadi rakyat kecil tidak terdampak.
Tapi rakyat kecil yang menggunakan Pertalite setiap hari untuk cari nafkah sekarang harus berebut dengan jutaan orang lain yang baru pindah dari Pertamax.
Antri lebih lama.
Dapat orderan lebih sedikit.
Penghasilan harian berkurang.
Secara di atas kertas harga Pertalite memang tidak naik.
Tapi secara nyata di lapangan biaya hidup ojol naik.
Dalam bentuk waktu yang hilang, bukan dalam bentuk rupiah yang tertulis di pompa bensin.
Kebijakan yang terlihat baik-baik saja di atas kertas sering punya efek domino yang tidak pernah dihitung oleh orang yang membuat kebijakannya.
Karena mereka tidak pernah antri di SPBU jam 4 pagi.
Tidak pernah merasakan kehilangan 2-3 orderan karena harus nunggu giliran isi bensin.
Yang merasakan semua itu adalah abang ojol dan jutaan rakyat kecil lainnya yang hidupnya bergantung pada setiap menit waktu produktif yang mereka punya.
Dan selama kebijakan dibuat oleh orang yang tidak pernah merasakan langsung dampaknya di lapangan siklus ini akan terus berulang.
Harga di atas kertas mungkin tidak berubah.
Tapi hidup di bawah terus terhimpit.