Saya mendapat kiriman dari seorang anak muda bernama Iwan. Ia membuat komik dari tulisan saya. Kreatifitas nya membuat tulisan ini jadi lebih mudah dan lebih baik. Tiap melihat apa yg dilakukan anak2 muda ini saya tahu negeri ini punya harapan krn kreatifitasnya luar biasa
Kali ini agak keluar sedikit dari GBK: Istora alias Istana Olahraga. Aku mengenalnya jauh ke belakang. Aku sudah masuk SD. Sepertinya, itu tahun 1979.
Salah satu kakakku suka diminta menjadi penjaga garis (linesman) badminton. Dia mengajakku untuk menonton para dewa bulutangkis dunia berlatih. Ke sanalah aku.
Kulihat Rudy Hartono, Liem Swie King, Christian, Tjun Tjun, Iie Sumirat, Ade Chandra, dan Johan Wahyudi. The Magnificent Seven ini tak terkalahkan dalam banyak pertandingan. Semua lawan dibabat. Bahkan, saat Thomas Cup 1979, Svend Pri dan Fleming Delfs dikasih angka telor di final.
Kami, anak Jakarta selalu bilang: jalan-jalan pakai kolor, sembilan lawan telor.
Aspal basah yang memantulkan cahaya lampu kota, kemegahan struktur luar lingkaran GBK di sisi kiri, dan orang-orang yang berjalan santai menikmati malam. Semuanya membangkitkan kenangan tentang Stadion Utama Senayan alias GBK
Di GBK juga aku pertama kali melihat Presiden Soeharto saat pembukaan PON 1985.
Aku lihat dia hadir bersama istrinya. Keduanya melambaikan tangan dan disambut tepuk tangan gempita ribuan penonton pembukaan itu.
Tak ada gladi resik untuk menyambutnya. Tak ada juga perintah dari aparat istana atau sekretariat negara untuk bertepuk tangan sambil bernyanyi suatu lagu berkali-kali. Sambutannya singkat, tak bertele-tele.
Dia cuma bilang begini: Saudara-saudara, dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim, saya nyataken Pekan Olahraga Nasional resmi dibuka. Lalu tepuk tangan penonton bergemuruh riang, dan balon-balon pun beterbangan.
GBK baru memberiku senyuman saat Ribut Waidi (wafat 2012) membobol gawang Malaysia di perpanjangan waktu pada final SEA Games 1987. Aku datang sendiri, membeli karcis dari uang penjualan koran yang kukumpulkan.
Sudah niat betul aku menonton final yang digelar Minggu, 200987. Pasukan Bertje Matulapelwa itu begitu hidup dan bermain secara ksatria merebut emas sepakbola SEA Games pertama kali.
Aku bangga jadi orang Indonesia saat itu.
Di GBK, tahun 1985, aku juga patah hati saat Mameh Sudiono (gelandang PSMS Medan waktu itu) berhasil mencetak gol ke gawang Sobur (Persib).
Masih berbaju seragam, aku nonton bersama Dharma, kawan dekat SMP tanpa karcis dan berhasil masuk stadion setelah lebih dulu terjatuh dari dinding Pintu 7.
Aku pulang malam berjalan kaki dari Senayan ke Manggarai. Besok paginya, Emak membaluri punggungku dengan param, sambil berkata, "bila saatnya punya uang, belilah karcis. Karcis itu menghidupi orang lain."
Malam ini, menemani Henning, aku ke Stadion Utama Senayan (sekarang GBK) lagi. Ini kali pertama aku bersama Henning ke sana.
Stadion itu memberiku banyak pengetahuan. Tapi, stadion itu pula yang memberiku pemahaman betapa nasionalisme dan budaya lain juga bisa ditumbuhkan dari sepakbola.
Itu kuperoleh saat aku bingung mengapa banyak orang menangis setelah PSSI kalah adu penalti dari Korea Utara pada perebutan tiket Olimpiade 1976.
Memang sejak Tragedi Senayan 26 Februari 1976, PSSI tak pernah bangkit.
Jangan-jangan, nasionalisme kita saat ini luntur karena PSSI yang tak kunjung berjaya.
Siapapun engkau yang menyayangi saudara-saudaramu dan melindungi mereka dari kekerasan atau bahaya pasti akan disayangi oleh Tuhan.
Saya percaya akan kata-kata itu. Sebab, melindungi sesama bukan hanya tindakan sosial. Ia jalan menuju keilahian.
Selamat buat mereka yang telah berjuang untuk setiap aturan yang memberikan kasih sayang dan perlindungan itu.
🚨Every worker deserves to return home safe and healthy.
Yet millions of deaths each year show the right to safety and health at work remains unrealized.
📃Learn more: https://t.co/LmgUSXYsQT
Are green jobs always good jobs? Why are migrants overrepresented in platform work? How do unions stay relevant?
The International Labour Review’s latest issue latest issue explores these questions & more.
📖 Read Vol 165, Issue 1: https://t.co/HS5X4Lh35D
We also shared how @UNinIndonesia can work more closely with trade unions—on strengthening human capital, supporting green transition and navigating economic and digital transformation that prioritises worker’s rights and livelihoods. Thank you Ibu Elly Rosita Silaban, Pak Rekson, and @Info_KSBSI team for the open and productive dialogue at the UN.
@CaeciliaMediana@tempodotco Kesehatan jiwa juga menjadi bahasan dan cakupan penting dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Sayangnya, kesehatan jiwa masih menjadi isu pinggiran dari banyak kajian, penerapan dan penegakan kebijakan K3.
Indonesia 🇮🇩 - 🤝 General Secretary @luc_triangle met today with President @prabowo Subianto and with Minister of Manpower Yassierli to discuss global labour issues and Indonesia’s employment policies.
He reaffirmed the importance of social dialogue and international cooperation to deliver decent work and social justice for all.
#ForDemocracy