@afrkml Mana ada ceritanya cowo normal pelukan macam difoto itu dan pegangan tangan. Gausah bawa2 fragile masculinity, basi bro narasi sjw pada umumnya.
Yoi. Fans k-pop di Indonesia ini sering melakukan apa yg disebut dlm ekonomi digital sbg unpaid labor alias buruh gratisan.
Mereka berpromosi gratis, menerjemahkan konten, sampai2 mau2nya melakukan pembelaan masif kpd idolanya di media sosial.
Tp dr POV ekonomi industri Korea, fans k-pop Indonesia ini cuma angka2 yg bisa dieksploitasi. Mereka dipandang sbg sekelompok manusia2 yg cuma berguna dlm efisiensi biaya pemasaran.
Nah, ketika suatu massa fans K-Pop Indonesia cuma dianggap sbg angka untuk mendongkrak popularitas, industri kreatif Korea memanfaatkan hasil eksposur fans Indonesia tsb agar bisa menjual artis2nya dgn harga lebih mahal ke pasar Amerika dan Eropa.
Dlm konteks sosiologi-ekonomi, ketika seseorang memberikan tenaga secara cuma2 demi keuntungan pihak lain yang sudah kaya, posisi orang tersebut dalam hierarki ekonomi dianggap golongan yg sangat rendah, mudah dimanfaatkan, mudah diekploitasi, mudah dikibuli.
Tak heran kalau sebagian masyararat Korea dgn enteng menyebut fans k-pop Indonesia-yg sebetulnya telah berkontribusi luar biasa dlm pasar volume negaranya- nggak lebih dari monyet belaka.
Ironis.
Muhammad Ali got jail time for refusing to serve in the US army because he didn't want to participate in "Christian/unbeliever war" and kills brown people while his own race were oppressed at home. Meanwhile this idiot....