Aku dikeluarkan dari arisan keluarga karena dianggap menunggak delapan bulan.
Di grup WA, Bude mengunggah daftar tunggakan. Namaku diberi warna merah dengan total Rp2,4 juta.
Aku langsung mengirim delapan bukti transfer. Semuanya masuk ke rekening Nisa, sepupuku yang menjadi bendahara.
Belum satu menit, dia menelepon.
“Hapus dari grup. Jangan bikin ramai.
Bude bilang rekening Nisa nggak pernah ditetapkan sebagai rekening arisan.
Tapi nomor itulah yang Nisa pasang di pesan grup. Sebelas orang lain juga rutin mengirim ke sana.
Setelah semua bukti dikumpulkan, ada Rp31,8 juta yang nggak pernah masuk pembukuan.
Malamnya Nisa mengaku. Uangnya dipakai membayar gedung pernikahan.
“Setelah akad aku ganti. Tinggal sepuluh hari lagi.”
Besoknya beberapa orang keluarga meneleponku bergantian.
Mereka nggak membahas uangnya. Mereka memintaku diam sampai pernikahan selesai.
Pakde bilang, “Uang masih bisa dicari. Kalau nama keluarga rusak, nggak bisa ditarik lagi.”
Aku membuat rekap semua transfer lalu mengirimkannya kepada seluruh anggota arisan.
Grup langsung sepi.
Arisannya dihentikan. Aku juga nggak lagi masuk grup keluarga.
Undangan pernikahan Nisa tetap dikirim kepadaku.
Di halaman terakhir undangan digitalnya ada nomor rekening untuk hadiah.
Nomornya sama dengan rekening tempat uang arisan kami hilang.
cc : rgjan03