gw pendosa, ibadah mood2an, ortu pensiun, kakak divonis skizo, dan posisinya adek gw masih kuliah 2 orang
at that time gw satu2nya harapan, semua bergantung sama gw seorang
waktu itu cuma nyeplos “Tuhan, bantu aku”
DUARRR gak lama dr situ God show his power!
kerjaan dilancarkan, dapet kerjaan freelance, mulai rintis usaha kecil2an bareng temen
hasilnya gw bisa beresin kuliah dua adik sampe wisuda, bantu pemulihan kakak, dan nyisihin sebagian uang untuk ortu
ini bukan dongeng, tapi kejadian nyata yg pernah gw alami
semenjak hari ini itu, setidaknya gw berterima kasih lewat jalur ibadah yg emg seharusnya gw lakukan
guys kalian tau gk nih...
anies baswedan mengaku pernah di panggil 19x KPK
sekali lagi 19x dipanggil oleh KPK
dan datang cuma sendirian doang
tapi tidak ada 1 pun mengindikasi beliau
ada korupsi atau penyelewangan
rahasia dari beliau :
- tau aturannya , jadi gk bisa di kibulin
- selalu dokumentasi kan atau catat setiap kebijakan
- doa ibu dan istri
Aku ke Jerman start sekolah lagi di umur 32, temen kelasku ada yang seumuran ibuku, yang bahkan mungkin 5 tahun lagi pensiun, tapi ttep gak ada yg julid ke dia "buat apa?". Kita semua jalanin happy n saling support.
Ilmu is ilmu, ga ada batasan umur buat coba semua hal baru
Raditya Dika : "Kenapa laki-laki jarang cerita kalau ada masalah?"
dr. Aisyah Dahlan : "Karena dia mikirkan dulu.
Menganalisa dulu.
Cari solusi dulu.
Baru cerita."
Raditya Dika : "Makanya kalau ditanya kenapa, jawabnya sering cuma 'gak apa-apa'?"
dr. Aisyah Dahlan : "Iya."
Laki-laki, emang gitu ya? 🤔
Menurut dr. Aisyah, banyak laki-laki tidak langsung bercerita saat ada masalah.
Bukan karena tidak percaya pada pasangannya
Bukan juga karena tidak peduli.
Tapi karena mereka cenderung ingin memikirkan semuanya sendiri terlebih dahulu.
Mereka mengumpulkan informasi.
Mencari solusi.
Menyusun rencana.
Baru setelah itu siap untuk bercerita.
Sementara banyak perempuan justru merasa lebih lega setelah mengeluarkan isi pikirannya.
Makanya sering terjadi salah paham.
Perempuan merasa diabaikan.
Laki-laki merasa sedang menyelesaikan masalah.
Padahal keduanya sama-sama sedang berusaha
menghadapi masalah dengan cara yang berbeda.
Kalian kalau lagi ada masalah, tim langsung cerita atau tim diam dulu?
from; hallolalalah threads
terharu banget after office lagi meriang terus di manggarai naik krl arah bogor ada segerombolan anak remaja, dia masuk duluan terus dapet duduk tapi akhirnya berdiri lagi sambil mereka ngingetin satu sama lain, “kita berdiri aja guys kita kan abis main, biar yang duduk kaka yang pulang kerja” 🥺
sederhana tapi sangat menyentuh, semoga kalian selalu diberikan keringan yaa dek🥹
Kalo di komplekku ada Bapak-bapak bersahaja banget, tampilannya kayak biasa aja gitu. Mobilnya juga Innova yang lama. Tapi pas mesjid mau di renov tanpa basa basi beliau nyumbang 50 juta dan rumah beliau, yang masih satu komplek juga yang bisasnya dikontrakin, dipinjamkan buat mesjid sementara. Orang yang ngontraknya diusir guys, dan direnovasi rumahnya biar ada tempat wudhu kaya mushola gt. MaysaAllah.
jadi inget ada anak baru di kantor, kerjanya bagus banget sampe sempet mau diangkat jadi manager di role tertentu, tapi dia nolak 😹maunya tetep di developer team meski posisinya jadi staff biasa. pas ngobrol dia cerita ternyata keluarganya punya bisnis tekstil, dan gaji tahunan di company sekarang tuh literally cuma setara gaji sebulan waktu dia kerja di perusahaan keluarganya wkekwkw. dia bilang pengen beneran build skill sendiri dan ngejar role developer biar bisa nyusul kakaknya.
tiap ngobrol pasti malah bahas traveling dan rekomendasiin tempat di asia tenggara. dia insist banget nyuruh gue ke vietnam.
oh ya terus yang sebelumnya dari US team, pas connect linkedin gue liat ada post recommendation di profil dia, dengan nama belakang atau family name yang sama. pas gue cek ternyata anaknya CEO perusahaan dog food 😹😹😹
gue tau ya banyak orang kerja itu bukan buat bertahan hidup, tapi buat aktualisasi diri, cari pengalaman atau build identitas sendiri. tapi jujur gue salut sama orang-orang yang sebenarnya bisa hidup nyaman dari privilege keluarga tapi tetap milih mulai dari bawah, jadi staff biasa, kena revisi, kena omel, lembur, dan gak dicariin kerjaan sama bapaknya kayak yang itu akwkwkw
keluarga Borjuis punya cara sendiri buat mempertahankan kekayaan lintas generasi nya.
Salah satunya mengirim anak pewaris takhta untuk menderita sebagai pekerja rendahan sebetulnya ini metode yang masih relevan buat mematikan rasa keistimewaan dalam diri sang anak.
Mereka dibiarkan bekerja sampai malam di kantor biasa agar ia memahami dinamika psikologis pekerja biasa. Sebetulnya ini kayak latihan pembentukan disiplin mental.
Nah begitu keluar dari pintu kantor, realitas kelas sosialnya kembali aktif saat pintu otomatis Denza D9 terbuka.
FYI aja para elite selalu memastikan anak-anak mereka memahami kerasnya kerja di level dasar, namun tidak pernah membiarkan mereka benar-benar jatuh ke dalam risiko finansial kelas pekerja.
Karyawan biasa yang mengasihani anak magang tersebut sebenarnya sedang melihat proyeksi masa depan atasannya sendiri.😄
Guys, Ahok baru ngomong sesuatu soal Chromebook dan MBG yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari siapapun yang gue dengar dalam beberapa bulan terakhir.
Dan dia ngomongnya
bukan sebagai pembela Nadiem.
Dia ngomong sebagai orang yang paham betul bagaimana sistem pendidikan dan teknologi seharusnya bekerja.
Soal Chromebook dan kenapa Ahok marah:
Ahok bilang dengan sangat tegas:
pengadaan Chromebook itu sebenarnya adalah kebijakan yang sangat masuk akal secara logika.
Chromebook itu bukan laptop biasa.
Operating system-nya berbasis cloud sekali beli langsung include semuanya, tidak perlu diperbarui terus-menerus.
Harganya jauh lebih terjangkau
dari laptop konvensional.
Dan yang paling penting sistemnya dirancang agar anak tidak bisa nonton video porno, tidak bisa judi online, dan seluruh aktivitas belajar bisa dipantau.
Ahok kasih contoh nyata.
Ada guru di Jawa Barat yang punya empat sertifikat internasional bisa mengajar di level dunia. Ujiannya hanya 10 dolar.
Bayangkan kalau semua guru Indonesia bisa akses sertifikasi seperti itu lewat Chromebook yang terhubung Starlink di daerah terpencil anak di kampung tiba-tiba bisa belajar setara dengan anak di Kanada atau Australia.
Itu bukan mimpi.
Itu sudah bisa dilakukan sekarang dengan teknologi yang ada.
"Bayangin kalau semua anak kita di kampung ada Starlink juga kan.
Anak di kampung kita tiba-tiba belajar setara dengan orang di Kanada atau di Amerika atau di Australia."
Lalu kenapa Ahok merasa ini sengaja dihambat:
Ahok bilang dengan sangat hati-hati karena takut diproses hukum lagi tapi dia tetap bilang:
"Saya pikir ini sengaja."
Logikanya sederhana dan sangat keras.
Kalau rakyat pintar, rakyat kritis, rakyat bisa akses informasi dari mana saja mereka lebih sulit dikuasai.
Lebih sulit dibohongi.
Lebih sulit dimanipulasi menjelang pemilu.
Sistem yang membiarkan rakyat bodoh dan miskin adalah sistem yang menguntungkan mereka yang berkuasa.
Karena rakyat yang bodoh dan miskin lebih mudah disuap dengan sembako, lebih mudah digiring dengan hoaks, lebih mudah dikontrol dengan ketergantungan pada program-program yang terkesan murah hati tapi tidak memberdayakan.
MBG- makan bergizi gratis menurut Ahok adalah contoh dari cara berpikir yang sama.
Daripada kasih rakyat laptop yang bisa membuka pintu dunia, lebih mudah kasih makanan yang habis dimakan dan orang tetap tergantung besok makannya dari mana.
"Kalau saya tanya mau bikin sekolah bagus,
kasih makan bergizi atau rakyat punya laptop yang bisa komunikasi ke mana-mana?"
Yang paling menohok soal survei dan legitimasi:
Ahok tidak berhenti di situ.
Dia lanjutkan dengan sesuatu yang sangat pedas.
Pemerintah melakukan survei.
Rakyat bilang mereka suka makanan gratis.
Lalu itu dijadikan legitimasi untuk program MBG.
Seolah-olah karena rakyat minta ya sudah diberikan.
Tapi Ahok membaliknya:
kalau kamu memberikan sesuatu kepada orang yang tidak pernah tahu bahwa ada pilihan yang jauh lebih baik tentu mereka akan pilih yang ada di depan mata.
Itu bukan preferensi yang genuine.
Itu keterbatasan informasi yang dimanfaatkan sebagai justifikasi.
"Mereka juga pintar.
Dia survei, Pak.
Rakyat suka makanan itu jadi legitimasi."
Dan soal Nadiem yang sekarang dituntut 27 tahun:
Ahok tidak membela Nadiem secara personal.
Tapi dia bilang satu hal yang sangat logis dan sangat sulit dibantah:
Menteri itu tidak pernah menyentuh
anggaran secara langsung.
Menteri membuat kebijakan.
Yang mengeksekusi adalah birokrasi di bawahnya.
Kalau ada yang salah dalam eksekusi pertanyaannya adalah:
apakah menteri yang memerintahkan secara eksplisit?
Apakah ada aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke kantong menteri?
PPATK sudah menjawab:
tidak ada.
Nol aliran dana ke Nadiem dari siapapun.
"Saya pikir ya ini soal profesionalisme.
Menteri kan enggak pernah nyentuh anggaran perantaran kan, kecuali dia nyuruh ya atau terima ya."
Ahok tidak sedang bicara soal
Chromebook sebagai produk.
Dia sedang bicara soal pilihan fundamental sebuah bangsa:
apakah kita mau membangun rakyat yang pintar dan mandiri, atau kita mau mempertahankan sistem di mana rakyat tetap bergantung pada belas kasihan penguasa?
MBG memberikan makan hari ini.
Chromebook bisa mengubah nasib seumur hidup.
Dan ketika kebijakan yang lebih transformatif justru dipersoalkan secara hukum sementara program yang lebih konsumtif dirayakan sebagai prestasi itu bukan kebetulan.
Itu adalah pilihan yang sangat disengaja oleh mereka yang paling diuntungkan dari rakyat yang tetap tidak berdaya.