@xpeacessea Mantan istri desta juga nyebut nama "aca". Dan gua bingung kenapa orang² mudah baget ga nyaman sama hal² remeh yang bahkan ga berpengaruh apa pun buat kelangsungan idupnya.
IYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
Bayangin dibilang “bukan gaada waktu kamunya aja males olahraga”
Tapi aku jam 6 kurang udh otw kantor, nyampe rumah paling cepet jam 7 malem, sabtu minggu udah kerasa remuknya aja.
Apalagi belakangan ini mentally tired bgt kerjaan segunung.
Tau ga uniknya kerja di instansi RS Halodek?
Ada 2 pasien datang bersamaan, 1 Ibu-ibu dengan abortus inkomplit dan perdarahan pervaginam aktif dan 1 lagi pasien KLL dengan crush injury di bagian kaki.
Kira-kira mana yang paling gawat dan harus ditangani duluan?
Ya, betul sekali…
Yang harus diutamakan untuk dilayani terlebih dahulu adalah, seorang perwira dengan meriang, batuk pilek dan nyeri tenggorokan sejak kemarin malam karena 1 jam lagi mau ada rapat 💪👍
Kasus Chromebook Nadiem ini sebenernya gimana sih, kok bisa dituntut 18 tahun?
Gue coba jelasin pake bahasa bayi, tanpa istilah hukum yang ribet, Versi Jaksa vs Pembelaan Nadiem ⬇️⬇️
bro, klo ga suka sama drakor, film, buku, musik, artis ya tinggal diskip 😭 kenapa pada punya banget tenaga buat nunjukin kalo lu ga suka??? satu dunia harus tau kah kalo lu. ga. suka ?? lu sape mpruyyyy 😭 orgil
Kartini dipermasalahkan karena menjadi istri keempat.
Kartini dipermasalahkan karena Jawa.
Kartini dipermasalahkan karena hanya menulis surat-surat kepada seorang perempuan Belanda.
Kartini dipermasalahkan karena tidak berjuang memegang pedang seperti Cut Nyak Dien dan Kristina Martatiahahu, atau membuat sekolah seperti Dewi Sartika, atau menerbitkan koran seperti Roehana Koedoes.
Apakah kita pernah berdebat tentang Pangeran Diponegoro dan Teuku Umar terutama siapa yang paling pantas disebut pahlawan? Apakah kita pernah memperdebatkan mereka karena suku atau tipe perjuangan yang melekat pada mereka?
Sejarah dipenuhi berbagai tokoh laki-laki. Pahlawan bangsa dikerubuti oleh laki-laki. Foto-foto pahlawan kita di sekolah-sekolah dipenuhi oleh foto laki-laki. Tetapi kita tak pernah memperdebatkan tokoh-tokoh itu satu dengan lainnya.
Apa yang terjadi pada tokoh-tokoh perjuangan perempuan, pada setiap Hari Kartini: dipermasalahkan, diperdebatkan.
Apakah kita tahu bahwa Kartini adalah anak perempuan yang dinikahi di usia belia, yang reproduksinya belum sempurna, dan mengalami kematian saat melahirkan? Tahukah bahwa masa itu menjadi seorang perempuan Jawa itu lebih mengerikan daripada menjadi seorang perempuan Minangkabau?
Atau tahukah bahwa menjadi seorang perempuan bangsawan Jawa di masa feodal-konial abad ke-19 adalah tidak lebih baik daripada menjadi perempuan rakyat jelata ketika bicara soal kebebasan diri? Tahukah bahwa menjadi seorang kutu buku seperti Kartini, dengan wawasannya yang mendunia itu, dia tak bisa berbuat apa-apa karena posisinya waktu itu?
Kartini ibarat hidup dalam penjara. Sebagaimana tahanan penjara politik macam Pramoedya Ananta Toer, Kartini hanya bisa melawan dengan menulis. Menulis surat adalah salah satu cara supaya pemikiran-pemikirannya tentang pembebasan didengar. Kartini bersuara lewat surat-surat, sebagaimana orang-orang tahanan politik yang dipenjara.
Penyiksaan yang dialaminya adalah bagaimana kebahagiaan intelektualnya dipenggal. Bagaimana kecerdasannya dikerdilkan, karena dia seorang anak perempuan Jawa yang bangsawan, yang dipelihara di penjara bertembok keraton dan diharuskan berjalan dengan sangat pelan atau berjongkok-jongkok kepada yang lebih tua, atau bahkan kepada saudara laki-lakinya sendiri. Kartini sedemikian dibatasi karena dia seorang perempuan Jawa. Kartini demikian karena ia ingin menjaga Bapaknya. Bapaknya adalah pengantar kebebasannya pada apa yang disebut buku atau bacaan, wawasan, dan pendidikan.
Kartini mengungkapkan ketakutannya yang amat sangat dalam hal poligami, dimana Hukum Islam mengijinkan laki-laki kawin dengan empat perempuan. Dan masa menikah inilah yang paling dibencinya. Apa yang dibencinya adalah ketika tradisi Islam bercampur dengan Jawa, bahwa Jawa mengharuskan anak gadis menikah dengan laki-laki yang dipilihkan ayahnya, dan Islam membolehkan laki-laki berpoligami. Kartini tidak punya pilihan apa-apa dan merasa perkawinan akan membunuh dia sedalam-dalamnya dan memang masa itu pun terjadi.
“Aku tidak akan pernah, tidak akan pernah bisa mencintai. Bagiku, untuk mencitai, pertama kali kita harus bisa menghargai pasangan kita. Dan itu tidak kudapatkan dari seorang pemuda Jawa. Bagaimana aku bisa menghargai seorang laki-laki yang sudah menikah dan sudah menjadi seorang Ayah hanya karena dia sudah bosan dengan yang lama, dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya? Ini sah menurut hukum Islam. Kalau seperti ini, siapa yang tidak mau melakukannya? Mengapa tidak? Ini bukan kesalahan, tindak kejahatan ataupun skandal; Hukum Islam mengizinkan laki-laki beristri empat sekaligus.
Meski banyak orang mengatakan ini bukan dosa, tetapi aku, selama-lamanya akan tetap menganggap ini sebagai sebuah dosa. Bagiku semua benih perbuatan yang menyakitkan orang lain (termasuk menyakiti hewan) adalah dosa. Bisa kau bayangkan derita seorang istri yang melihat suaminya pulang membawa perempuan lain yang kemudan harus diakuinya sebagai istri sah suaminya? Sebagai saingannya? Jika demikian, suami itu bisa ‘membunuh’ istrinya... Mustahil rasanya sang suami memberi kebebasan padanya!”
Kartini lahir sebagai feminis bukan dilahirkan dari teori-teori feminisme, karena seorang feminis adalah dilahirkan, bukan diciptakan. Kartini dan pikirannya bukan sesuatu yang terpisah, atau tidak memisahkan antara pengalaman dengan persepsi, pengalaman dengan diskursus.
---
Tulisan di atas adalah cuplikan dari artikel yang sangat bagus & kuat dari mbak @marianamiruddin yang versi lengkapnya bisa dibaca di web @jurnalperempuan.
Selamat Hari Kartini
21 April 1879–17 September 1904
Damai di surga, Perempuan yang mendahului zaman 🙏💜
@yappingfess Lu pada kalo mau liat gimana si manusia yang kelakuannya kaya setan? Nah kerja deh di bidang pelayanan, jasa, retail dsb yang berhubungan langsung sama customer atau user nanti lu paham kenapa manusia kelakuannya lebih setan dari setannya
statement “jangan nikah atau punya anak kalau miskin” itu classist dan dehumanizing. kekhawatiran dan standar pribadi lo gak seharusnya dipaksakan ke orang lain, apalagi dalam hal yang halal. definisi “mampu” juga beda-beda, gak bisa diseragamkan dan gak ada titik akhirnya, rezeki juga gak selalu stabil.
kebayang ada keluarga sederhana bonceng tiga naik motor, main ke alun-alun, makan batagor di rumput sambil ketawa-tawa. lalu anaknya mulai besar dan baca kalimat “orang tuamu seharusnya tidak punya anak karena miskin” atau “bapak lo seharusnya gak nikahin ibu lo” di internet. selama ini dia punya prasangka baik dan kenangan hangat, tapi beberapa kalimat bisa meruntuhkan itu semua, bahkan mengubah cara dia memandang orang tuanya sendiri. hati orang tua mana yang gak hancur, seakan yang dihitung cuman uang, bukan cinta, usaha, dan pengorbanan mereka selama ini. yang gue percaya, any sane parent would want the best for their child, life also doesnt always go according to human plans, there are things beyond our control that cant be reduced to rigid standards.
semua ini bukan berarti kita menolak ikhtiar perencanaan yah, tapi menyederhanakan nilai manusia hanya dari finansial itu gak adil buat buat gue. so please, maybe we can be more careful with our words, cobalah lebih berempati. di balik setiap keluarga, pasti ada usaha, cinta, ceritanya masing-masing yang gak keliatan buat lo, jangan lah direduksi jadi duit, duit, duit
@neohistoria_id Narasi "Deandels bayar pekerja rodi tapi dikorup" tuh narasi sampah dan mereduksi betapa kejamnya kebijakan kerja paksa rodi kepada warga Indonesia.
Even digaji pun, jadi pekerja rodi aja udh sangat menyiksa bahka ga sebanding ama gajinya.
@illvvinati Itu postingan kayanya cuman candaan aja sih.. Sedangkan, lo nanggepinnya kayanya serius banget, cenderung keliatan kaya ga mau kalah.. Gua somehow merasa yang diposting itu cuman jokes emak emak aja, gak beneran kaya yang lo bilang anak jadi senjata ngemis gitu sih..
“Ini gue ada acara begini cuma pegang duit sejuta”
Ya siapa suruh sebelum acara lu beli jenset, beli motor anjiiiinhgh. Dimana mana anak mau nikah orang tua bantu modalin, elu malah minta dikasiiihh babiiii.