lagi doom scrolling, suddenly i stumbled upon a post menjelaskan lafadz الفراغ (al-faraagh), yang berarti “kekosongan” atau “waktu luang”, berasa ditampar bacanya.
katanya, al-faraagh ini adalah salah satu ujian terbesar buat kita. ketika kekosongan ini dibiarin tanpa ada arah, bisa jadi pintu masuk bagi waswas, kecemasan, depresi, overthinking dan perasaan tersesat. hati yang kosong lebih gampang membesarkan kejadian-kejadian kecil, mengulang-ngulang luka lama, tenggelam dalam kesedihan, merasa sesak tapi gak tau sumbernya, sibuk memikirkan kekurangan diri, ingin mengakhiri hidup, merasa rendah diri, dan dihantui pikiran-pikiran yang gak ada habisnya.
seringnya kan kita ngira yang harus kita lawan tuh perasaan gak nyaman, anxiety, depresi, etc. tapi jarang dibahas kalau semua itu bisa diperparah dengan hati yang kosong. kosong dari amal, kosong dari dzikir, kosong dari tujuan.
para ulama juga sering banget ngingetin kalau banyak maksiat bermula dari waktu yang luang. soalnya hati yang kosong tuh sebenernya akan selalu terisi oleh sesuatu, kalau bukan dengan hal yang mendekatkan kita kepada Allah, maka sesuatu yang lain akan mengambil tempat itu.
maybe that is why healing is not only about removing pain, but also filling the emptiness with what brings your heart closer to Allah.
makanya waktu luang tuh salah satu dr 2 nikmat yang paling disia siakan manusia (termasuk aq😔💔)
dan dari waktu luang juga banyak muncul kemaksiatan. kata para ulama paling bahaya bagi pelaku maksiat adalah ‘kesendirian’. sdgkan kesendirian itu hampir selalu bersamaan dgn waktu luang.
krn dgn merasa sendiri, org biasanya merasa aman. gada yg liat, gada yg awasin. jd merasa bisa ‘bebas’ utk maksiat. terutama yg berkaitan dgn ‘porn’
kalopun ga ngelakuin maksiat, minimal jd melakukan hal yg sia sia/tdk bermanfaat. dan ini bener bener bahaya. waktu habis tanpa produktif💔
heran ama org org kek gini tuh. isi tl kalian tuh gimana deh?
soal org org muslim yg speak up soal rohingya, kongo, sudan dll tuh banyak bgt padahal yg lewat di tl gue.
jgn karena ga lewat di tl kalian trus langsung main generalisir. lagian kenapa sih kok kayanya salah bgt bela Palestina karena agama? yg bela Palestina karena agama ini bahkan JAUH lebih dulu dan lebih vokal konsisten bela Palestina sejak puluhan tahun lalu, jauh sebelum kejadian oktober 2023.
kalo diperhatiin, Allah tuh menyebut diriNya sendiri dlm Al Quran kadang kala pakai kata ganti ‘Aku’, kadang kala pakai kata ganti ‘Kami’.
ya gak?
dan ini bukan iseng atau kebetulan semata. para ulama tafsir menjelaskan ada arti dan hikmah dibaliknya :
Di Amerika, harga buku hanya setara satu jam kerja. Upah minimum di sana sekitar $15/jam, sedangkan harga buku $15-20. Artinya mereka bisa membeli satu buku hanya dengan 1 jam kerja, seperti halnya kita membeli es teh jumbo di pinggir jalan.
Di Jepang, satu buku juga bisa dibeli dengan satu jam kerja. Upah minimum disana sekitar ¥1000-1200/jam. Harga buku ¥900-1300.
Di Jerman, satu buku = satu makan siang. Hanya dengan 2 jam kerja.
Di Inggris, satu buku bisa dibeli hanya dengan setengah jam kerja. Buku bukan jadi barang yang harus ditimbang antara 'beli atau tidak' buku sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari seperti roti.
Di Norwegia, negara ikut menanggung harga buku, negara hadir memberikan subsidi dan distribusi yang merata, karena mereka percaya: bangsa yang cerdas dimulai dari buku yang mudah disentuh.
Di Malaysia. Buku masih bisa dijangkau hanya dengan 2 jam kerja.
Singapura. Satu buku bisa dibeli dari sisa makan siang.
Btw, ternyata banyak orang yang clueless tentang berita sama sekali.
Ada loh yang gak tau kalau Nadiem divonis kemarin.
Ada loh yang gak tau kalau mahasiswa demo MBG itu karena pemborosan anggaran 1.2 triliun per hari.
Ada loh yang gak tau kalau Dadan ditangkap kejaksaan karena korupsi BGN.
Gimana caranya biar orang-orang tuh ngikutin, ngerti konteks, sampai tau apa yang sebenarnya terjadi itu susah.
Apa lagi di grassroot. Yang di pikirannya hari ini makan apa dan besok makan apa.
Semua itu abstrak buat mereka.
another funfact (yg mungkin udh banyak yg tau):
walau ibunda Khadijah yg duluan suka sama Rasulullah, tapi ibunda Khadijah ga ujug ujug confess atau ngelamar Rasulullah duluan.
beliau tetap menjaga harga dirinya dan kehormatannya dengan cara menjadikan Rasulullah sbg perwakilannya berdagang keluar kota utk melihat sifat dan akhlak asli Rasulullah & ditemani oleh asistennya (sekaligus sbg ‘informan’ ibunda Khadijah ttg Rasulullah)
setelah yakin Rasulullah akhlaknya mulia sesuai dgn aslinya, barulah salah seorg temannya bernama Nafisah yg ‘menyampaikan’ dengan cara memberitahu Rasulullah bahwa ada wanita mulia, cantik, baik baik, bibit beber bobotnya terjamin yang cocok untuk Rasulullah dan bertanya apakah Rasulullah mau?
jadi secara ga langsung, Khadijah ga ujug ujug confess. tapi ada perantara dan justru Rasulullah lah yg melamar Khadijah duluan bersama pamannya🤧💐
Sekarang gue sholat udah gak kayak dulu, beneran gue anggap itu me time gue semacam yoga terus yapping sama Tuhan, dan ternyata disitu gue ketemu kliknya. I thought i kept coming to God bcs i was afraid. Turns out, i keep coming back bcs being with Him feels like peace.
Setelah nonton Thirty Nine, ada salah satu dialog yang menarik.
Grieving tuh ternyata nggak selalu terlihat seperti berlarut-larut dalam kesedihan atau mengurung diri.
Beberapa orang tetap bekerja, bercanda, bahkan tertawa seolah tidak terjadi apa-apa. Bukan karena mereka tidak berduka, melainkan karena hidup terus berjalan sementara mereka belajar membawa kehilangan itu bersamanya.
Mungkin karena itu kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa besar duka yang sedang dibawa seseorang. Tidak semua kesedihan tampak di permukaan. Kadang, ia bersembunyi di balik senyum, tawa, dan hari-hari yang terlihat biasa saja.
Enteng bener seorang Presiden ngomong 'Ndasmu' dilanjut 'Emang gue pikirin' di sebuah forum resmi dan mendapat tepuk tangan dari yg mendengar.
Pemimpin tanpa etika yg dipilih oleh orang orang yg tak punya etika dan nalar.
CLOSING STATEMENT DARI FATIMAH AZZAHRA
Menurut generasi kami, pemerintah seharusnya bukan sibuk untuk menuduh seseorang antek-antek asing, bukan sibuk klarifikasi atas isu-isu yang seharusnya bisa mereka cegah sehingga tidak menimbulkan kericuhan.
@Txtdariiugm gw skrng ini kerja di rs vertikal, ngerasain bgt istilah jd ikan kecil di kolam besar, bener2 bersyukur & ngerasa self esteem tambah baik karena beriteraksi sama orang2 yg punya ilmu & humanity yg tinggi. jd mikirnya ke arah 'orang2 pada manteb bgt, gw jg pasti bisa sekeren dia'
@Txtdariiugm Yakin deh si mbak Fatimah ini udh sering berdiskusi sama teman2nya disana. Dan betul bgt, berdiskusi dengan orang yg sama2 berilmu bakal jauh lebih mengasah banyak hal...
Drpd berdiskusi dengan orang otaknya kosong modal ego tinggi dan ended up debat kusir
@Txtdariiugm Salah satu tanda orang benar-benar kuat secara intelektual adalah tidak perlu menunjukkan superioritasnya.
Karena fokusnya bukan memenangkan lawan bicara, melainkan memastikan substansi pembahasan tetap berjalan.
alasan gw dulu berusaha banget buat kuliah di tempat terbaik adalah karena gw pengen living with the giants, ketemu, terbiasa, dan belajar dari orang-orang kayak mba fatimah ini.
cara ngomongnya ga tergesa-gesa, ga gampang kepancing emosi, dan tetap on the track ke substansi pembahasan. padahal lawan bicaranya jelas berusaha mainin psikologis dengan menunjukkan superioritas, terutama pas bilang, “jadi dek... saya pernah mahasiswa yang merasa paling benar.”
kalimat itu seolah-olah mau menempatkan lawan bicara sebagai orang yang harus tunduk, nurut, dan dianggap belum paham apa-apa hanya karena berhadapan dengan orang yang lebih tua.
Salut sama jadwal Fathimah yang super padet, masih sempet menyuarakan aspirasi
Fathimah: “gpp, berkoar koar disosmed itu tetep sebuah sikap, yang gak boleh itu, diem saja ketika indonesia tidak baik baik saja”
Sebagai ortu yang punya anak perempuan, gua membayangkan ortunya pasti tiap hari ngerasa bangga banget ngeliat anaknya ini. Kuliah kedokteran UI, tapi masih punya energi buat ngurusin kerusakan negara hasil kerjaan boomer-boomer ga becus dan serakah.
Character Development Fatimah ini kayaknya terus berkembang ya setiap ada debat terbuka.
Sebelumnya di CNN Indonesia, ekspresi dia saat mendengarkan itu dijadikan senjata oleh lawan politiknya
Sekarang, justru lebih banyak diam, mengangguk dan tersenyum. Dia seolah telah mengetahui celahnya di mana, memvalidasi argumen lawan, tetapi langsung mematahkannya.
Seluruh argumen Fatimah, sekali lagi, sangat baik dan bernas.
sebuah perbedaan cara berpikir antara generasi muda dan tua, gen tua mikirnya "yang deket aja tetep ditangkap, ini bukti komitmen" yang muda mikirnya "lah yang deket aja berani korupsi, gimana yang jauh, makanya benerin sistemnya"