By default, orang Indo itu jadi sasaran empuk sama orang-orang NPD karena:
- Toleransi yang tinggi terhadap ketidakadilan
- Budaya "tidak enakan"
- Kurangnya pendidikan tentang batasan diri
- Kecenderungan menahan konflik
As "nice guy" video ini triggered me a lot.
https://t.co/gAwviSObH6
Ada enggak ya opsi selain "yang waras yang ngalah" buat ngadepin orang-orang NPD ini? sialnya mereka banyak yg raise to the top jadi atasan
Bottom IHSG itu.. lebih sering terjadi ketika:
1. @ojkindonesia sweeping posisi short
2. Net sell asing sudah stabil dibawah Rp 600M (sehingga Jamsostek bisa mengatasi)
3. Dirut Jamsostek sudah mulai bilang: Kami belanja.. kami ada di market.
4. Ketika ada ekonom dengan nama besar muncul di headline koran utama (@Bisniscom atau @KontanNews ) bilang: KIAMAAAT.. KIAMAAAT.. JUAL INDONESIA.. IHSG mau 2000 (atau semacamnya).
yang Belum pernah jadi bottom:
- ketika Menkeu bilang BUY
Jadi.. kalau anda percaya Menkeu.. itu hal yang aneh.
ini bener" gilak ternyata kalo dpt om" kaya gitu kita dapet sampe 3 digit anjir, apa ga pergi kampus - salon - pulang - shoping - tdr aja ya.😭😭😭
ada ga oprasi jadi full cewe ya, gw mau kaya gini aja deh biar kaga cape kerja
Menurutku kita perlu hati-hati sama narasi “inflasi pendidikan”. Karena kalau narasi ini diterima mentah-mentah, kesimpulan yang muncul bisa bahaya. Sekolah tinggi percuma, kuliah percuma, sarjana kebanyakan.
Padahal menurutku root cause-nya bukan itu.
Tesisnya kan kayak gini "problem utama Indonesia bukan kebanyakan orang kuliah, tapi terlalu sedikit pekerjaan formal dan produktif yang butuh orang berpendidikan tinggi""
Kalau mau bilang “inflasi pendidikan”, definisinya harus jelas dulu. Inflasi pendidikan itu terjadi ketika gelar makin banyak, nilainya makin turun, dan jumlah lulusan pendidikan tinggi jauh melebihi kebutuhan pasar kerja.
Indikatornya apa? berapa banyak penduduk yang benar-benar lulus perguruan tinggi? apakah pekerjaan formal cukup banyak? apakah industri, kantor, startup, pabrik, dan perusahaan produktif tumbuh cukup untuk menyerap mereka?
Nah, kalau lihat Indonesia, indikatornya belum cocok untuk bilang akar masalahnya adalah sarjana kebanyakan. Penduduk yang tamat perguruan tinggi 2025 baru sekitar 11%. Di tenaga kerja, D4/S1 ke atas juga sekitar 10,44%.
Jadi agak susah bilang “hampir semua orang bisa kuliah”. Faktanya, yang kuliah sampai lulus masih sedikit. enggak ada 20% dari total penduduk kita.
Yang lebih kelihatan justru sebaliknya. pekerjaan formal dan high-skill kita belum cukup banyak. Pekerja informal masih sekitar 59% dari total pekerja. Artinya banyak orang masih hidup dari kerja yang tidak stabil, tdk pnya BPJS, dan gaji layak.
Kalau pakai analogi Sim City, ini gampang kebayang. Kamu bisa bangun sekolah dan kampus, tapi kalau kotanya tidak punya cukup zona industri, kantor, dan bisnis, lulusan itu mau kerja di mana?
Masalahnya bukan sekolahnya kebanyakan. Masalahnya kotanya tidak cukup dibangun untuk menyerap orang yang sudah sekolah.
Itu yang menurutku terjadi di Indonesia. Anak mudanya disuruh sekolah tinggi, tapi setelah lulus, lapangan kerja formalnya sempit. Akhirnya perusahaan bisa bikin proses seleksi makin panjang, makin ribet, makin mahal buat pelamar, karena supply pelamar jauh lebih besar dari demand pekerjaan bagus.
Jadi kalau ada fresh graduate harus isi data panjang, online test berlapis, FGD, interview, psikotes, sampai MCU untuk posisi entry-level, itu bukan bukti bahwa pendidikan kita kebanyakan. Itu gejala pasar kerja yang timpang.
Dan di titik ini, menurutku jangan dibalik jadi menyalahkan anak muda yang kuliah.
Problemnya ada di kebijakan. Kenapa pemerintah? Karena yang bisa mengatur arah investasi, industrialisasi, perizinan, kualitas pekerjaan, dan belanja negara ya pemerintah. Bukan individu pencari kerja.
Contoh, daripada kebijakan populis seperti MBG dijadikan jawaban utama, menurutku lebih masuk akal kalau energi dan uang negara dipakai untuk membangun pabrik, industri, dan pekerjaan layak.
Kalau orang tua punya kerja yang layak, mereka bisa kasih makan anaknya sendiri. Mereka bisa sekolahkan anaknya sampai lulus. Anak itu juga punya peluang masuk lapangan pekerjaan yang lebih sehat.
Jadi kesimpulannya, jangan kejebak narasi “sarjana kebanyakan”. Sarjana kita masih sedikit. Yang kurang itu pekerjaan produktif, industri, perusahaan, dan kebijakan ekonomi yang serius menyerap tenaga kerja terdidik.
Yang harus diturunkan bukan aspirasi pendidikan rakyat. Yang harus dinaikkan adalah kualitas ekonomi dan jumlah pekerjaan layak.
Fetish orang Indonesia dengan pemeringkatan. Padahal ini mah cuma bullshit
University of Gottingen, almamaternya Oppenheimer, Max Born dan punya 47 peraih nobel, itu rankingnya di bawah UI dan UGM. Terus jadi University of Gottingen itu lebih buruk dari UI dan UGM?
my Quant Ahli rasi Perbintangan intergalaksi melalui IG story terbarunya menulis begini :
Kalau ada yg ga happy IHSG +9% dan saham2 naik 15-20% lalu nyinyirin saya karena kasih public informasi keras Time Support tgl 9 June IHSG bs Rebound = FIX SAKIT JIWA. Gw kerja siang malam sama team buat tenangin public ga di bayar, kok bisa2 nya ada yg ga happy market ijo. Memang kondisi belum sempurna pulih tapi Jgn jadi Racun lah. Bawa narasi Rupiah ke 30,000 IHSG ke 3000 lah.
IHSG bisa kok ke 1000, bisa jg Indonesia tutup toko.
Anda para iblis yang dapat cuan dari menebar fear akan jadi GEMBEL kalau IHSG dan Indonesia tutup
Pake lah empati mu.
Itu retail pemula udah stress berat GIVE THEM A BREAK! Market ga akan turun 1 garis lurus kebawah akan ada Rebound juga.
At least apresiasi pak Donni, Prof Dasco dan Pak Purbaya kemarin.
Jgn Nyinyir terus !
*tumben ga bawa bawa IQ Gorilla
🤣
Bangladesh Pakistan India malay maju? Justru di masa politik etis Hindia belanda itu sejajar dgn negara besar asia lain nya.
Pendidikan belanda juga yg menghasilkan kusno, djuanda, hatta, yamin, semaun, tan dll.
Kita jelek itu karena ga nerusin apa yg udah belanda bikin.