#DearNoa hri ini nugas di luar kelas ngambil foto objek, panas2an bentar buat ambil 4 foto, g taunya malah bkin sakit kepala gara2 kepanas an. nyoba tiduran di kelas g makin baik, pindah ke lab mau nyelesein tugas lain yg baru bgt kemaren ditugasin ehhh mlh di kasih tugas baru🧍♀️
Gue paham banget kalo karir sebagai VTuber atau virtual idol ini sangat bergantung dengan kedekatan emosional penonton. Semakin kuat attachmentnya, semakin baik untuk karirnya.
But I wanna be real for a second.
VTuber ini bukan the usual idol yang udah lewat media training atau pelatihan lainnya, kita cuma abang-abang biasa yang kebetulan punya waktu luang dan memutuskan untuk streaming pakai avatar anime. The usual idol aja masih bisa kepeleset dan buat salah, apalagi kita-kita ini.
Personally gue ingin Arkanites punya ekspektasi yang lebih sehat. I don't want you to put me on a pedestal, as if I'm a saint who makes no mistakes. I'm just a human.
You can disagree with me, you can critique me, you can question my actions. If our values don't align and you decide to stop following me, that's completely okay. Kalau seandainya gue berbuat salah sampai merugikan orang lain, tolong jangan dibela.
I might help you to go through your bad days, but please don't depend on me for your wellbeing. I genuinely want you to be happy even without me.
Question everything, question everyone.
Komunitas Ini Gak Akan Pernah Sehat Kalau Terus Menyalahkan Korban.
Ada satu pola yang selalu bikin aku geram tiap kali kejadian serupa muncul di linimasa. Saat figur publik ketahuan berperilaku gak pantas ke salah satu penggemarnya, bukannya fokus ke perilakunya, sebagian fansnya malah sibuk nyari alasan buat nyalahin korban.
Kenapa masih minor tapi nonton kontennya? Kenapa gak langsung stop? Kenapa gak cutoff dari awal?
Kalau ada orang dewasa yang chat ke anak di bawah umur dengan cara yang gak senonoh, terus pas ketahuan alasannya cuma "aku kan gak tau dia masih minor," artinya dia sendiri sadar kalau perilaku itu memang gak pantas dilakukan ke siapa pun.
Kenapa aku peduli banget sama isu kayak gini? Sehari-hari aku kerja di bidang entertainment, jadi aku sering banget megang komunitas dari berbagai kalangan, termasuk komunitas penggemar. Yang aku amati, komunitas yang sehat itu tidak akan bela figur publiknya mati-matian, tapi justru berani jujur pas ada yang salah. Komunitas fanatik tuh umurnya pendek.
Balik ke soal cutoff tadi. Ini yang paling sering jadi senjata buat nyalahin korban, seolah tanggung jawab menjaga batas itu ada di pihak yang lebih lemah posisinya. Padahal secara power dynamic, yang pegang kendali penuh atas percakapan itu ya yang lebih dewasa, yang lebih punya pengaruh, yang notabene figur publik dengan follower dan exposure jauh lebih besar.
Minor yang diajak ngobrol oleh orang yang dia kagumi, apalagi kalau itu publik figur yang dia ikutin kontennya, adalah situasi yang jelas tidak setara. Ada rasa segan, ada rasa gak enak, ada juga rasa senang karena diperhatiin sama orang yang dia idolakan.
Berharap anak di bawah umur bisa langsung sadar dan cutoff percakapan yang mengarah ke hal gak pantas itu sama aja kayak berharap dia punya kematangan emosional setara orang dewasa. Padahal justru itu yang bikin dia masih disebut minor.
Terus ada juga argumen "ngapain sih nonton konten kayak gitu kalau masih di bawah umur." Ini juga logika yang keliru. Konten publik itu terbuka buat siapa saja yang bisa akses platformnya, dan terlepas dari persoalan usia, jelas tidak etis mendekati penonton secara personal dengan cara yang gak semestinya.
Aku ngerti rasanya kecewa kalau sosok yang kita dukung selama ini ternyata berbuat salah. Tapi kekecewaan itu harusnya diarahkan ke perilakunya, bukan dialihkan jadi serangan ke korban. Karena begitu komunitas mulai membiasakan pola pikir "korban juga salah kok," itu bakal jadi preseden buruk buat kasus kasus berikutnya. Korban lain yang mau speak up jadi mikir dua kali, takut malah dia yang dihujat rame rame.
Padahal keberanian buat ngomong itu udah berat banget buat dijalani, apalagi kalau posisinya masih anak di bawah umur menghadapi figur publik dengan basis penggemar yang besar.
Aku selalu percaya, cara sebuah komunitas memperlakukan korban itu jadi cerminan kedewasaan komunitas itu sendiri. Komunitas yang sehat itu bukan yang selalu kompak membela, tapi yang berani mempertanyakan, yang berani bilang ini salah meskipun yang salah itu orang yang selama ini mereka dukung.
Jadi kalau ke depannya ketemu kasus serupa, coba deh pause sebentar sebelum ikutan nge judge korbannya. Tanya ke diri sendiri, siapa sebenarnya yang punya kendali lebih besar dalam situasi itu. Siapa yang seharusnya lebih paham batasan. Siapa yang sebenarnya berada di posisi lebih rentan.
Semoga kita semua, siapa pun itu, gak pernah jadi bagian dari yang memperberat beban orang yang lagi kesulitan menanggung apa yang terjadi sama dirinya.
Ga ada manusia yg siap di kasih cobaan. Jaga diri kalian semuanya ya, sedih boleh tapi jangan terlalu di bawa2 kan ke kehidupan kalian terlalu mendalam, pikiran diri kalian masing2.
Jaga diri selalu, jaga boundaries. Pokoknya kalo ada yang aneh-aneh, LARI.
Some of them still exist out there because the victims haven't spoken up yet or decided not to.