gue bahkan udh mulai nyicil buat guidebook (andai gw resign) buat mempermudah pengganti gw. krn i know how it felt gitu krg guidance pertama kali gw masuk sini, and be kind sih to people intinya.
Apakah benar orang Indonesia lebih menghargai ilmu berbayar dibanding ilmu gratis?
Mari kita coba riset.
Saya jualan produk ini dgn sistem bayar seikhlasnya tanpa minimum. Hasilnya banyak sekali yg gak bayar. Ada jg yg bayar Rp100, tapi ada jg yg bayar 100rb.
Saya mulai jual ini 8 Juni, dan per sore ini 15 Juni sudah ada 1500 orderan.
Ok per saya posting ini akan saya ubah minimum bayar Rp4.900. Kita lihat apakah cukup banyak yg mau beli. Padahal di luar sana banyak yg jual 20rb-30rb 😄
Fun Fact :
1. Dulu yg dapet THR itu cuma PNS, tapi semenjak pekerja demo Pekerja swasta juga dapet THR
2. Dulu juga jam kerja 16 jam ++ tapi semenjak demo jadi 8 jam.
Macet mu yg dirasa sekarang bisa terkonversi jadi bahagia dan sejahteramu di masa depan.
Jerman tuh salah satu negara yg bisa MEWUJUDKAN ini.
Ausbildung di usia 50+ pun BISA.
Di usia 40 lu tiba2 mau SEKOLAH or KERJA di bidang baru, BISA!
Lu mau jadi PENGACARA, BISA!
I love my mother But I don't want to be like her. I love my father. But I don't want a husband like him. I loved my childhood. But I don't want my children to grow up the way I did.
🚨 Unpopular Opinion
Salah satu quote paling toxic adalah "Kerja Keras Tidak Akan Menghianati Hasil"
Misalnya ada 2 orang:
🧒 Dimas
- Kerja + perjalanan = 10 jam/hari
- Gaji 6 juta/bulan
- Bisa nabung 50% gaji (3 juta)
Butuh waktu 1 tahun 5 bulan untuk terkumpul 50 juta
🧔🏻Ferry Irwandi
- Influencer/content creator
Butuh waktu 1,5 jam untuk terkumpul 50 juta
Fenomena ini juga ada penelitiannya :
- Kerja keras
- Kecerdasan
- Berbakat
Tidak menjamin seseorang menjadi sukses atau kaya.
Kalau kerja keras saja menentukan kesuksesan, petani dan kuli bangunan pasti sudah jadi miliarder. Namun Faktanya, keberuntungan sering kali lebih menentukan dari pada kerja keras
sebagai fresh grad yang masih menggebu-gebu ngejar company gede, kalian tahu nggak se-nggak masuk akal apa lowongan top company sekarang?
- lulusan top campus
- jurusan tertentu, kalau beda otomatis gugur
- IPK minimal 3,5
- fresh graduate dipersilakan, tapi diutamakan punya pengalaman magang
- diutamakan punya pengalaman relevan minimal 1 tahun
- punya pengalaman organisasi, preferably pernah jadi leader
- fluent in English, lebih bagus lagi kalau bisa Japanese/Mandarin/dll
- achievement (award, honors, scholarship, teaching experience, international exposure, etc)
- PALING GONG: wajib isi kontak perusahaan sebelumnya (manager). bjir, gue cuma magang, yakali kasih nomor manager😭
DEMI APA, mostly kualifikasi itu sebenarnya gue punya. secara administrasi juga sering lolos.
TAPI BELUM REZEKI.
Kenapa? karena selalu mentok di user interview😭
Iya, gue sadar mungkin skill gue masih harus diasah. Tapi kadang mikir juga, sebenarnya yang diharapkan dari fresh grad dengan pengalaman magang itu apa sih? Skill se-dewa apa yang diminta?😭😭😭
Jika kamu menikah, kamu akan menyesal. Jika kamu tidak menikah, kamu juga akan menyesal. Jika kamu punya anak, kamu akan menyesal; jika tidak, kamu juga akan menyesal. Kierkegaard mengatakan hal ini 200 tahun lalu sebagai berikut:
"Apa pun yang kamu pilih, kamu akan menyesal. Karena masalahnya bukan pada pilihannya, melainkan kamu meromantisasi kehidupan yang tidak kamu jalani. Manusia selalu menganggap jalan yang tidak ditempuh itu menarik dan misterius. Oleh karena itu, masalahnya bukan membuat pilihan yang paling benar. Melainkan memilih dan memutuskan penyesalan mana yang akan kamu jalani."
Keputusanmu apa?
gw 25, beberapa kali interview suka kena judge "jadi kamu dari lulus gak ada pengalaman kerja di kantor/perusahaan? trus bisanya ngapain? ini kamu cuma belajar macam² aja tapi gak kerja². freelance pun gak relevan". setemplate itu sampe gw mau muntah 🤏🏻
Sebagai tenaga pendidik, hundred percent agree with this 😂
Mahasiswa yang oon tapi kerjaan beres (karena ey ay) templatenya selalu sama:
- Malas membaca
- Gak mau berkawan dengan "why"
- Ditanya hal dasar gak paham
- Maunya cepet beres
Padahal AI itu udah mempercepat dan mempermudah banyak hal, apalagi buat yang udah di industri.
Tapi tetep aja if the basic things (empat hal yang disebut bang imre) gak pernah dikuatin, mahasiswa akan selalu kalah.
Aku dulu pernah ada di posisi yang mirip juga. Saran aku, banyak2 riset dulu, figure out what you're actually looking for in the professional world. Karena tiap orang punya tujuan beda2 (ada yang cari koneksi, ada yang pengen berkembang, ada yang ngejar work-life balance, dan ada yang fokus cari uang)
At that point in my life, I had no luxury to prioritize anything other than money. So I decided to pursue opportunities that could help me build more capital than I had before.
And I did it. I switched to tech with a Psychology background, managed to become a Software Engineer for a US company, and earned my first USD 2k/month at the age of 23.
The key is knowing what you're really looking for. Setelah itu, riset sebanyak mungkin, compare your options, and do your own math. Make sure the trade-offs make sense for your situation.
Semoga berhasil!
Akun ini ngasi tahu bagaimana cara membaca makalah ilmiah dengan tepat. Dia merekomendasikan satu esai pendek klasik yang harus dibaca oleh setiap pemula penelitian: How to Read a Paper oleh S. Keshav.
Sumber bacaannya menjelaskan metode tiga tahap yang dirancang untuk membantu akademisi membaca artikel penelitian secara lebih efisien dan sistematis. Dijelaskan bahwa pembaca sebaiknya tidak langsung melahap seluruh teks, melainkan memulainya dengan pemindaian cepat untuk memahami gambaran umum sebelum memutuskan untuk mendalami kontennya.
Tahap pertama bertujuan menentukan relevansi makalah, tahap kedua berfokus pada pemahaman isi tanpa detail teknis yang rumit, dan tahap ketiga melibatkan analisis kritis yang mendalam. Selain teknik membaca, teks ini juga memberikan panduan praktis dalam melakukan survei literatur dengan memanfaatkan referensi dan nama peneliti kunci.
Pendekatan ini bertujuan untuk menghemat waktu serta mengurangi rasa frustrasi yang sering dialami oleh mahasiswa pascasarjana.
Setuju banget, kak!!!
Realitanya posisi level manajerial buat di industri FMCG di Indonesia mayoritas mensyaratkan 5–8 tahun pengalaman.
Meanwhile, gw justru bisa dapat kesempatan kerja di level manajerial di perusahaan FMCG importer, retailer, dan wholesaler di luar negeri dengan berbekal pengalaman kerja 3 tahun.
Kadang yang bikin sulit bukan kompetensinya, tapi persyaratannya yang terlalu ribet dari yang dibayangkan 😄😂
Living abroad benar-benar mengubah perspektif & cara berpikir gue.
Ternyata, kita bisa mulai APAPUN dari nol tanpa melihat usia.
Standard sosial di Indonesia jadi terlihat toxic. Tentang, usia sekian harus lulus S1, usia sekian harus kerja, menikah, punya anak, yadda-yadda.
Gue udah kerja di beberapa negara dan megang posisi penting di perusahaan. Kali ini gue mau bahas yang jarang dibahas expat lain: stereotipe.
Realitanya, emang penilaian seorang berdasarkan negara asal mereka itu ada. Orang lebih terbiasa bekerja sama dengan sesama yang lebih familiar, jadi memang ada ya treatment berdasarkan preference, tapi itu cuma filter sosial. Bukan penentu hasil.
Gue jujur aja, sebagai orang dari Indonesia, diliatnya sebelah mata. Kita dinilai jelek. Fair sih, negara kita juga berantakan SDM-nya. Bahkan pas gue di Aussie ada beberapa tempat yang blacklist pekerja dari Indo.
Loh, terus kok bisa gue kerja sampai jadi manajer? Jawabannya simply karena writing CV lebih bagus dan rapi daripada native sana. Gue jabarin point-point yang orang dapet ketika hire gue berikut achievement dari tempat sebelumnya.
Kuncinya bukan cuma nulis "tanggung jawab", tapi gue jabarin clear points tentang value apa yang bakal mereka dapet kalau hire gue, lengkap dengan metrik achievement konkret dari tempat sebelumnya.
Di level global, data dan kejelasan itu yang diperlukan.
Yang mau beli template CV di sini:
https://t.co/SRqSPTR4ww
BELI KALAU PERLU AJA
gw pendosa, ibadah mood2an, ortu pensiun, kakak divonis skizo, dan posisinya adek gw masih kuliah 2 orang
at that time gw satu2nya harapan, semua bergantung sama gw seorang
waktu itu cuma nyeplos “Tuhan, bantu aku”
DUARRR gak lama dr situ God show his power!
kerjaan dilancarkan, dapet kerjaan freelance, mulai rintis usaha kecil2an bareng temen
hasilnya gw bisa beresin kuliah dua adik sampe wisuda, bantu pemulihan kakak, dan nyisihin sebagian uang untuk ortu
ini bukan dongeng, tapi kejadian nyata yg pernah gw alami
semenjak hari ini itu, setidaknya gw berterima kasih lewat jalur ibadah yg emg seharusnya gw lakukan
-salary start from 70+
-kerjaan gapernah dibawa pulang
-pulang selalu tenggo, overtime 1.5x rate
-cuti seminggu per 3 bln, bisa diakumulasi
-air quality single digit
-view cakep
-gapernah macet
-gapernah antri war tiket taylor swift, twice, f1 dan gp
aku 8 bulan nganggur padahal top 3, pengalaman magang, riset, organisasi lengkap. puluhan nolak, ada yang bilang overqualified, underqualified, inilah, itulah. orang bilang kurang amal, bilang kurang rajin nyari. padahal emang sebingung itu, sesusah itu
Spill kantor green flag kalian dong! 🫵🏻
Aku duluan ya:
• Gajian selalu on time
• Asuransi kesehatan dicover 80% oleh company
• Free lunch halal food dari Senin - Jumat
• Cuti full sebulan (30 hari) + Tiket PP senilai 18-20jtan full dicover
• Employment Visa + Work Permit senilai 40jt full dicover oleh company
• Operational car + BBM full dicover
• Accomodation dapet unit apartment (senilai 20-25jtan per bulan)
• Tunjangan komunikasi 2jt per bulan
• Bonus kuartal 4x dalam setahun
• Bonus tahunan 2x dalam setahun
kalo disuruh ngejelasin masa depan yang lo pengen secara detail 5 tahun kedepan, lo bisa ga? 🔮
mungkin pertanyaan ini terasa sulit dijawab, dan lo ga sendirian kok.
#taugakalo ada latihan sederhana yang bisa ningkatin optimisme? bahas yuk!