Sebagai wong Palembang, sangat relate dgn statement sender tersebut.
Beberapa waktu lalu, aku pergi ke salah 1 kedai mie yamin yg ada di salah 1 daerah Palembang. Sejak motor terparkir, aku sudah melihat ada tukang parkir di kedai tersebut.
Selesai aku belanja, aku keluarkan motorku sendiri tanpa dibantu si tukang parkir.
Setelah aku menyalakan mesin motor, tukang parkir dengan enteng meniup peluit yg mengalung dilehernya.
Responku? Pura2 tidak melihat dan langsung nyelonong pergi.
Kejadian kedua, saat ke indomaret mau tarik tunai. Setelah tarik tunai ternyata lagi2 dihadang tukang parkir. Tanpa ba bi bu, aku langsung bilang "pak, aku barusan tarik tunai (sambil menyodorkan uang pecahan besar)" dan tukang parkir tidak jadi memungut uang dariku.
Solusi kalo ketemu tukang parkir liar : sodorkan uang 100 rb.
Cara ini gak sepenuhnya ampuh. Tapi, kebanyakan tukang parkir menolak uang pecahan besar dari kita.
Izin join. Sebenernya ada beberapa masakan yg pernah dimasak. Cuma gak semua di dokumentasiin. Kadang juga langsung dihapus setelah buat makan sosmed 😫
Hasilnya Adonannya
Pertama kali belajar berkebun pas awal covid tahun 2020an. Awalnya belajar menanam sayur hidroponik metode rakit apung da berlanjut metode konvensional. Karna hasil panen dulu melimpah, aku jual dan kasih ke orang terdekat.
Sempet menanam bunga juga sebagai penangkal alami.
Ngeliat hasil panen warga X, kepikiran buat kembali memulai berkebun