Dalam buku Wawancara Dengan Gabriel Garcia Marquez yang pernah saya terjemahkan (sudah terbit, cari saja ๐ค), saat membicarakan realisme magis, dia menyebutkan salah satu trik untuk mengelabui pembaca (dewasa ya. kalau pembaca kecil, cerita semacam ini jatuhnya ya fabel. Realisme magis bukan sekadar perihal dongengan).
Kata-kata persisnya saya lupa, tapi kira-kira begini:
Kalau kau bilang ke orang-orang, "Barusan aku lihat gajah terbang!" mana mereka percaya.
Tapi kalau kau bilang, "Tadi, di lapangan sana, aku melihat kawanan gajah. Ada 7 ekor gajah dewasa asyik melayang-layang, 5 ekor gajah kecil baru bisa meloncat-loncat, dan 2 ekor gajah yang sudah sangat tua hanya duduk-duduk saja di pinggir lapangan," mungkin orang-orang awalnya tetap tidak percaya. Akan tetapi, setelah memikirkan angka-angka spesifik tadi, mereka mungkin akan mulai penasaran. "Yakin 7? bukan 6 atau 9?" "Gajah 2 ekor tadi sudah tua sih ya, makanya cuma duduk-duduk."
C/Berita di postingan memakai teknik yg sama. Narasinya dibikin fantastis (lewah, berlebihan), supaya pembaca sekilas lupa bahwa si jenat "ditemukan tewas". Ditemukan. Tewas.
Berarti, kemungkinan besar dia sedang sendirian di kamar. Lalu dari mana coba si penulis cerita tahu bahwa si jenat tewas dengan alat vital copot gara-gara 62 kali onani.
Enam puluh dua!
Angka yg sangat spesifik.