WAJAAAR BGTTT PLSSS!!
aku perna dikasi nasihat sm atasan aku di kantor:
kalo km di umur 20an masi figuring out mau jadi apa? lanjut kuliah atau kerja? klo kerja, mau kerja dimana? mau fokus kerja di role apa? etc.. itu WAJAR BANGETT.
Gapapa buat nyoba semuanya.
Gapapa kalo sekarang masi gatau arahnya kemana.
Gapapa kalo sekarang masih ngerasa stuck.
Yang nggak boleh itu losing your sparks for learning. Coba jalanin dulu apa yang lagi kamu kerjain sekarang, and take every experience as part of the learning process. And trust me—you’re building the person you’ll become🥹
Kenetralan akademisi itu oxymoron.
Semua dari kita berpihak. Some said it out loud. Some said it quietly. Some pretend that they don’t have any even though they absolutely do.
YaAllah pak, maksudnya ada yang lebih genting itu seperti ini pak.
Bagi mereka, untuk ke sekolah aja butuh perjuangan. Ada yg naik seutas tali, ada yg berenang, ada yg harus mendayuh perahu dulu. Bapak tau ini tidak?
Bayangin Norwegia, negara yg secara sistem pendidikan dan teknologi jauh di atas Indonesia aja masih membatasi penggunaan AI buat anak SD. Soalnya mereka paham fondasi critical thinking itu harga mati dan harus dibangun sejak dini.
Kalo anak SD dibiasakan pakai AI buat menyelesaikan masalah, konsekuensi jangka panjangnya parah. Anak jadi ketergantungan, malas ngebangun proses berpikir, dan terbiasa nyari jawaban instan tanpa bener-bener paham masalahnya.
Meanwhile, di suatu negara, ada yang Wapresnya udah kayak tech bro perusahaan besar. Tiap pidato atau bahas pendidikan, ngomongnya AI dan computational thinking terus.
Padahal buat sampai ke tahap itu, ada banyak step yang harus dibangun dan dibentuk dulu kek literasi dasar, kemampuan bernalar, kualitas guru, kurikulum yg jelas, dan budaya berpikir kritis.
Pakar Hukum Ketenagakerjaan Universitas Gadjah Mada, Nabiyla Risfa Izzati, LL.M,Ph.D, @nabiylarisfa menyatakan bahwa norma pasal pengupahan di Undang-Undang Guru dan Dosen, telah gagal dalam melindungi hak konstitusional para Dosen untuk mendapatkan Upah yang layak.
I'll say it.
Kurikulum tidak akan pernah bisa "mengejar kebutuhan industri".
Jadi, "tidak perlu lagi dikejar", karena terbukti tidak pernah berhasil dengan cara apapun, kecuali utk keterampilan vokasional yang sangat spesifik seperti menjahit, mengiris, mengganti oli, dsb.
Mari kita kembali ke fundamental keilmuan yang kita butuhkan untuk bisa menavigasi everything life has to offer. Education, in the era of AI disruption, should be radically more philosophical than ever.
There. I said it.
indo peers let’s stop acting like MT/ODP is the only wow way to start a career... whether you begin as staff, an intern, a volunteer, or anything else, it’s valid! pasti ini karena kenalnya ya kalo bare minimum lulusan S1 harus jadi MT/ODP
Proker kkn gw tentang bahaya online gambling lewat simulasi web yg gw bikin sendiri jadi mereka main sambil liatin gw nyetting kapan mereka menang kapan kalah, semoga 30 an audiens karang taruna yg hadir jadi menjauhi barang ini