Guys, gue baru baca sesuatu yang bikin gue mikir keras. Dan semakin gue pikirin semakin gue yakin ini adalah jawaban paling jujur dari pertanyaan yang sudah lama menggantung:
kenapa Indonesia tidak pernah benar-benar maju?
Negara-negara yang berhasil jadi maju hampir semuanya melakukan dua hal yang sama.
Dua hal yang sederhana.
Dua hal yang sebetulnya tidak butuh teknologi canggih atau sumber daya alam melimpah untuk dilakukan.
Fokus ke pendidikan.
Dan berantas korupsi sampai ke akarnya.
Dan dari presiden pertama sampai presiden kedelapan tidak ada satupun yang benar-benar melakukan keduanya sekaligus dengan serius.
Lihat Korea Selatan.
Tahun 1960-an, Korea Selatan adalah negara miskin yang bahkan lebih miskin dari beberapa negara Afrika. GDP per kapitanya di bawah Ghana.
Tidak punya sumber daya alam berarti.
Tidak punya modal besar.
Yang mereka punya hanya satu hal:
keputusan untuk taruh semua energi negara ke pendidikan.
Pemerintahnya menginvestasikan anggaran besar untuk sekolah, guru, dan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan.
Bukan sekadar melek huruf tapi mendidik generasi yang bisa berpikir, berinovasi, dan bersaing di level global.
Hasilnya?
Lima puluh tahun kemudian Korea Selatan melahirkan Samsung, Hyundai, LG, BTS dan menjadi salah satu ekonomi terbesar di dunia.
Bukan karena nikel.
Bukan karena batu bara.
Tapi karena manusianya.
Lihat Finlandia.
Negara kecil di ujung utara Eropa yang tidak punya sumber daya alam luar biasa.
Yang mereka lakukan adalah menjadikan guru sebagai profesi paling bergengsi dan paling kompetitif di negara itu.
Untuk jadi guru di Finlandia kamu harus bersaing ketat seperti masuk fakultas kedokteran.
Gajinya layak, penghargaan sosialnya tinggi, dan kepercayaan pada guru sangat besar.
Hasilnya?
Sistem pendidikan Finlandia konsisten masuk peringkat terbaik di dunia.
Dan SDM-nya menjadi fondasi ekonomi yang kuat tanpa bergantung pada ekspor komoditas.
Sekarang lihat China.
Banyak orang membahas China dari sisi ekonomi atau geopolitiknya.
Tapi ada satu hal yang jarang dibahas:
kenapa China bisa tumbuh jadi adidaya dalam waktu yang relatif singkat?
Salah satu jawabannya adalah pemberantasan korupsi yang dilakukan dengan cara yang tidak pernah dilakukan Indonesia.
Di China pejabat yang terbukti korupsi tidak cukup hanya dipecat atau dipenjara beberapa tahun.
Xi Jinping menetapkan bahwa korupsi di atas 3 juta yuan sudah memenuhi syarat untuk hukuman mati.
Dua jenderal senior militer Li Shangfu dan Wei Fenghe dihukum mati.
Bukan karena mereka orang kecil tanpa koneksi.
Mereka adalah orang-orang paling berkuasa di sistem militer China.
Pesannya ke seluruh aparatur negara sangat jelas:
tidak ada yang terlalu tinggi untuk dijatuhkan.
Uang negara bukan uang pribadi.
Dan konsekuensinya nyata bukan basa-basi.
Hasilnya?
Uang negara yang sebelumnya bocor ke kantong pejabat mulai mengalir ke tempat yang seharusnya:
infrastruktur, teknologi, riset, pendidikan.
Dan China tumbuh menjadi kekuatan ekonomi nomor dua di dunia.
Sekarang lihat Singapura.
Lee Kuan Yew membangun negara ini dari titik nol bahkan lebih buruk dari nol, karena Singapura diusir dari Malaysia dan tidak punya sumber daya alam apapun.
Tidak ada air bersih yang cukup.
Tidak ada lahan pertanian.
Tidak ada minyak bumi.
Yang dia lakukan pertama kali bukan membangun jalan tol atau gedung pencakar langit.
Yang dia lakukan pertama adalah membuat korupsi menjadi sangat mahal ongkosnya dan membuat pendidikan menjadi prioritas utama negara.
Pejabat di Singapura digaji tinggi karena Lee Kuan Yew sadar bahwa gaji yang rendah adalah undangan untuk korupsi.
Tapi di sisi lain, hukuman untuk yang tetap korupsi meskipun sudah digaji tinggi luar biasa beratnya.
Tidak ada kompromi.
Tidak ada maaf karena koneksi politik.
Lima puluh tahun kemudian Singapura adalah salah satu negara dengan GDP per kapita tertinggi di dunia. Dari negara yang diusir dan tidak punya apa-apa.
Dan sekarang kembali ke Indonesia.
Kita punya nikel terbesar di dunia.
Kita punya batu bara.
Kita punya sawit.
Kita punya lautan yang luasnya luar biasa.
Kita punya 270 juta manusia salah satu populasi terbesar 3 di dunia.
Tapi kita tidak pernah benar-benar fokus ke pendidikan.
Dan kita tidak pernah benar-benar berantas korupsi sampai ke akarnya.
Anggaran pendidikan 20% yang diamanatkan konstitusi dipotong untuk membiayai program makan siang yang tata kelolanya amburadul.
Guru honorer masih ada yang digaji di bawah UMR. Infrastruktur sekolah di daerah terpencil masih memprihatinkan.
Dan kurikulumnya berubah-ubah tergantung siapa menterinya.
Koruptor di Indonesia rata-rata divonis 3 tahun 3 bulan. Harvey Moeis yang terlibat korupsi tambang timah Rp300 triliun divonis 6,5 tahun di tingkat pertama.
Sementara Nadiem dituntut 18 tahun untuk kasus yang kerugian negaranya bahkan belum terbukti mengalir ke rekeningnya.
Hukum kita bukan soal seberapa besar kerusakan yang kamu buat.
Hukum kita soal seberapa besar ancaman yang kamu buat terhadap kepentingan yang sedang berkuasa.
Dan ini yang menurut gue paling penting untuk diakui dengan jujur:
bukan soal siapa presidennya.
Dari Soekarno sampai Prabowo setiap pergantian presiden selalu ada narasi yang sama.
Narasi perubahan.
Narasi pemberantasan korupsi.
Narasi investasi pada SDM.
Dan setiap kali di balik narasi itu selalu ada kepentingan politik yang lebih besar dari niat untuk memajukan negara.
Bukan karena semua presiden jahat.
Tapi karena sistem yang ada tidak dirancang untuk menghasilkan pemimpin yang benar-benar bebas dari kepentingan di belakangnya.
Setiap presiden naik ke atas dengan bantuan koalisi dan koalisi selalu punya harga yang harus dibayar.
Harga itu dibayar dengan kebijakan, dengan proyek, dengan perlindungan dan ujungnya rakyat yang menanggung.
Selama sistem itu tidak berubah siapapun yang duduk di kursi presiden akan menghadapi tekanan yang sama.
Dan sangat sedikit manusia yang bisa menolak tekanan itu ketika harga politisnya terlalu besar.
dua hal yang membuat negara maju fokus ke pendidikan dan berantas korupsi sampai ke akarnya bukan hal yang sulit dipahami. Semua orang tahu.
Semua presiden pasti tahu.
Tapi mengetahui dan melakukan adalah dua hal yang berbeda ketika sistem politiknya sendiri dibangun di atas fondasi yang membuat keduanya hampir mustahil dilakukan secara bersamaan dengan sungguh-sungguh.
Dan sampai fondasi itu diubah kita akan terus merayakan pertumbuhan ekonomi di atas kertas, sambil terus melihat uang negara bocor, guru honorer digaji tidak layak,
dan orang-orang terbaik kita memilih pergi ke luar negeri karena di sana kepintaran dihargai bukan dihukum.
“kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur sppg, kami mau melapor ke TNI, TNI punya dapur sppg, kami mau melapor ke DPR, DPR pun punya dapur sppg. jadi ini jalan terakhir kami untuk mengadu, kepada konstitusilah kami berharap”
—ucap seorang guru, pendidik anak bangsa. ironi.
Guys, di tengah situasi di mana hampir semua partai politik sudah masuk ke koalisi pemerintah, di mana oposisi formal praktis tidak ada, di mana DPR sudah tidak bisa diharapkan untuk jadi pengawas yang jujur muncul satu pertanyaan yang serius:
siapa yang masih berani bicara jujur soal kondisi negara ini?
Dan jawabannya yang paling mengejutkan justru datang dari seorang mahasiswa filsafat semester akhir yang bahkan tidak punya ijazah SMA formal.
Namanya Tiyo Ardianto.
Ketua BEM KM Universitas Gadjah Mada.
Latar belakangnya sendiri sudah luar biasa.
Tiyo bukan lulusan SMA negeri favorit.
Dia lulusan pendidikan nonformal paket C dari sekolah alternatif di Kudus.
Tapi dengan ijazah itu dia berhasil masuk Fakultas Filsafat UGM dan bertengger di peringkat 100 besar terbaik saat seleksi masuk.
Sebelum jadi aktivis, dia sudah jadi penyair yang karyanya masuk buku antologi se-Asia Tenggara, menjadi sutradara teater sejak usia 16 tahun, menang lomba baca puisi nasional mengalahkan lebih dari 4.000 peserta,
dan pernah dipuji langsung oleh istri WS Rendra karena karakter suaranya yang mengingatkan pada si Burung Merak.
Kemampuan berbicara di depan massa, kemampuan merangkai kata, kemampuan membaca situasi semua itu bukan kebetulan.
Itu dilatih selama bertahun-tahun sebelum dia naik ke panggung politik kampus.
Ketika terpilih sebagai Ketua BEM KM UGM pada Januari 2025, hal pertama yang dia lakukan adalah memutuskan BEM UGM keluar dari Aliansi BEM Seluruh Indonesia.
Alasannya sederhana tapi menohok:
forum mahasiswa nasional itu sudah disusupi kepentingan politik.
Ada menteri, ada kapolda, ada kepala BIN daerah yang hadir di dalam forum yang seharusnya independen.
Bahkan ada karangan bunga dari Kepala BIN Daerah Sumatera Barat terpajang di depan ruang sidang.
Bagi Tiyo itu bukan sekadar hiasan.
Itu simbol bahwa kekuasaan sedang mencoba menjinakkan daya kritis mahasiswa sebelum mereka sempat bergerak.
Dan alih-alih ikut diam dan menikmati "perlindungan" itu Tiyo memilih keluar.
Kalimatnya yang viral waktu itu:
"Kami memilih jalan sunyi tapi bercahaya setia bersama rakyat Indonesia."
Dari situ kritiknya tidak berhenti.
Justru makin keras dan makin spesifik.
Soal MBG:
dia mempertanyakan kenapa anggaran pendidikan 20% yang seharusnya wajib justru dipotong untuk membiayai program makan gratis.
Menurutnya, uang Rp225 triliun itu kalau dipakai dengan benar bisa menggratiskan seluruh biaya kuliah di PTN se-Indonesia.
Dia juga menuding ada data keracunan MBG yang sengaja ditutupi supaya programnya terlihat sukses di mata presiden.
Soal BBM:
dia menyebut kenaikan Pertamax sebagai bukti nyata kegagalan pemerintah mengelola anggaran sementara efisiensi di kabinet yang gemuk dan biaya perjalanan dinas pejabat ke luar negeri tidak pernah disentuh sama sekali.
Soal Kepala BGN:
dia mempertanyakan kenapa posisi sepenting itu diisi bukan berdasarkan kompetensi di bidang gizi, tapi berdasarkan kesetiaan politik.
Dan dia menyebut kalimat yang paling keras tapi paling jujur: "Semua rakyat boleh menderita pejabatnya tidak boleh."
Reaksi pemerintah?
Predictable.
Gerakan black campaign langsung dilancarkan secara terorganisir.
Akun-akun anonim menyebarkan fitnah bahwa Tiyo menggelapkan dana beasiswa KIP.
Pesan WhatsApp berisi berita palsu dikirim langsung ke nomor handphone ibunya di kampung.
Dua puluh sampai tiga puluh pengurus BEM UGM lain juga menerima ancaman serupa di ponsel masing-masing.
Ada yang mengikutinya secara fisik.
Ada teror digital berupa ancaman penculikan dari nomor luar negeri.
Tapi fitnah soal beasiswa itu runtuh sendiri begitu diperiksa.
BEM UGM secara aturan kampus tidak memegang uang, tidak punya akses ke dana beasiswa, dan tidak punya kewenangan apapun soal KIP.
Yang terjadi justru sebaliknya BEM UGM menggalang dana sosial secara terbuka untuk membantu mahasiswa penerima KIP yang sempat terlantar karena pencairannya terlambat dari pemerintah.
Itulah yang diputarbalikkan menjadi tuduhan korupsi.
Dan kemudian datang kontroversi yang menggerus sebagian simpati publik terhadap Tiyo.
Dalam sebuah diksi terbuka, dia membuat perumpamaan seekor kucing gemuk yang kepalanya dipenuhi jamur scabies sampai tidak bisa melihat lalu menyebut nama kucing itu "Prabodoh Subiantol."
Sebuah plesetan nama presiden yang langsung memantik kemarahan luar biasa dari berbagai kalangan, termasuk dari orang-orang yang sebelumnya mendukung gerakannya.
Ini bagian yang perlu dilihat dengan jujur dari dua sisi.
Di satu sisi dalam tradisi sastra dan teater, perumpamaan hewan untuk menyindir penguasa adalah hal yang sangat lazim.
Dari Aesop sampai George Orwell, satir menggunakan fabel adalah senjata kritik yang sudah diakui sepanjang sejarah.
Dan frustrasi yang menumpuk dari seorang aktivis yang keluarganya diteror, yang kawan-kawannya diancam, yang gerakannya difitnah itu bisa membuat kalimat meledak tanpa filter.
Di sisi lain panggung politik Indonesia bukan panggung teater.
Ketika batas antara kritik kebijakan dan serangan personal dilanggar terlalu jauh di ruang publik simpati publik yang susah payah dibangun bisa runtuh dalam hitungan menit.
Dan itulah yang terjadi.
Tapi ada yang jauh lebih penting dari kontroversi kalimat itu yang harus diperhatikan.
Ketika seorang mahasiswa semester akhir yang tidak punya partai, tidak punya anggaran, tidak punya perlindungan institusional yang kuat berani mengkritik program senilai Rp335 triliun, berani menyurati UNICEF, berani menarik keluar organisasinya dari forum yang sudah disusupi kepentingan
dan kemudian dibalas bukan dengan debat substansi tapi dengan teror ke ibunya dan ancaman penculikan dari nomor luar negeri
maka yang sebenarnya diperlihatkan oleh pemerintah bukan kewibawaan.
Yang diperlihatkan adalah ketakutan.
Karena kalau kritiknya tidak ada bobotnya tidak perlu segitu besarnya upaya untuk membungkamnya.
Dan inilah konteks yang paling penting:
Tiyo muncul bukan dalam situasi normal.
Dia muncul di tengah situasi di mana semua partai sudah bergabung ke koalisi, di mana DPR sudah tidak bisa diharapkan mengawasi eksekutif secara jujur,
di mana media mainstream sudah semakin berhati-hati, dan di mana orang-orang yang berani berbicara keras satu per satu menghadapi konsekuensi hukum atau tekanan sosial yang berat.
Di ruang kosong itulah seorang mahasiswa filsafat dengan ijazah paket C mengisi posisi yang seharusnya diisi oleh oposisi formal yang sudah tidak ada.
Tiyo Ardianto bukan sempurna.
Kontroversi kalimat kucing scabies itu adalah pelajaran mahal tentang betapa berbahayanya kalau kritik yang tajam kehilangan kontrol dan melewati batas yang tidak perlu dilewati.
Kritik kebijakan yang berbasis data dan argumen jauh lebih sulit dibungkam dibanding ejekan personal yang mudah dijadikan senjata balik.
Tapi di luar kesalahan itu yang dia lakukan selama ini adalah fungsi yang seharusnya dijalankan oleh oposisi yang sehat: mengawasi, mempertanyakan, dan menuntut pertanggungjawaban atas uang rakyat.
Dan fakta bahwa pemerintah merespons dengan teror ke ibunya alih-alih dengan debat substansi itu sendiri sudah menjawab pertanyaan siapa yang sebenarnya ketakutan dalam cerita ini.
🚨 BANTU SEBAR YA TEMEN2 YG IKUT #DEMO DI GEJAYAN YOGYAKARTA BERSAMA MAHASISWA UGM JOGJA.
🚨 Waspada ditempat sebelum hal2 yg tidak diinginkan terjadi. #IndonesiaGelap
1. CCTV : CCTV yang tadinya mati sudah mulai aktif dan mulai tiba2 zoom wajah para mahasiswa dan warga sipil di tempat.
2. Orang berbaju hitam : tolong waspada dgn beberapa orang berpakaian hitam ini dicurigai ada beberapa penyusup yang sedang disana.
3. Orang menggunakan Jaket Ojol : beberapa ada yg membawa senpi 🤯
Source: presiden.netijen.indonesia
buat buzzerr kalo mereka nanya nih
Emang kalo presidennya Anies Ganjar bakal jadi lebih baik?
nih gw kasih tahu........
Setidaknya kalo 01 atau 03 ga akan ada:
- MBG
- Korupsi MBG /hari nyampe 1M
- gabung bop
- mentri Bahlil
- menteri sugiono menlu linglung
- mentri Pigai
- jalan2 ke LN dalam 18 bulan sebanyak 58x trip
- Wapres yg muncul pas ada yg viral2 doank kaya depat 4 pilar MPR kemaren
- Gada rumor Buna / Tiwi