@empty__core Aku jualan Tutor Aplikasi adobe lifetime cuma 100k, skali daftar doang pake akun ente sendiri, gak kenak banned internet, garansi sebulan, kalo ke banned uang balik
Are you struggling to pay a huge amount on paid courses?
I'm giving you access to 20+ FREE Courses
1. Artificial Intelligence
2. Machine Learning
3. Cloud Computing
4. Ethical Hacking
5. Data Analytics
6. AWS Certified
7. Data Science
8. BIG DATA
9. Python
10. MBA
To get it, just:
1. Like & Retweet
2. Comment "ALL"
3. MUST be Following (so that I can dm)
----
Maaf yes!!!
Kemarin-kemarin lupa kalau ada bikin thread...
Tapi, semoga suka dengan ceritanya...
Maaf banyak salahnya... hihihi...
BTW, kalau mau baca ceritaku yang lain boleh cek di link bawah ini ya..
https://t.co/0BQZBtDGi3
Difollow aja dulu nggak papa kali...
PLEASE!
“Siska...” suara memanggil itu terus menghantui Siska.
Siska tetaplah Siska. Sikap manusia kadang tidak bisa berubah, apapun yang dihadapinya, ia akan kembali pada sikap semula. Sekali pembohong tetap pembohong. Ada suatu petuah berkata: “Orang jahat hidupnya lebih lama!”
Masih menyebar fitnah, menjilat kiri kanan, menyikut hal yang tidak patut.
Percaya atau tidak dengan cerita ini kembali pada pembaca. Baung buruknya, ambil baiknya jika memang ada.
Setiap kali ia menutup matanya, bayangan Ratna hadir. Wajahnya yang terdistorsi oleh rasa sakit dan kemarahan selalu muncul di kelamnya, seolah memanggil-manggilnya.
ujar Bu Melati penuh amarah kali ini.
Tidak ada yang menjawab, semuanya diam, begitu juga dengan Pak Herman yang kebingungan dengan pernyataan Bu Melati.
Kenyataannya ia adalah pengkhianat yang membiarkan Ratna mati dengan penuh penderitaan. Kebencian semakin membelenggunya, menjadikannya semakin terisolasi dari dunia sekitar.
Malam demi malam, Siska merasa semakin dekat dengan kehancuran.
Di sisi lain, Siska, memilih jalan yang berbeda. Ia terus menganggap dirinya sebagai korban dalam cerita ini, meskipun sudah mengakui, tetap saja, arogansi dalam dirinya tetap saja menggebu. Rasa bersalah? Jelas! Mau disalahkan? Belum tentu!
Namun, mereka berusaha untuk bertahan. Mencari kedamaian, berusaha menghidupkan kembali semangat yang dulu ada di antara mereka berdua. Memulihkan apa yang telah hilang. Meski jiwa mereka tidak benar-benar pulih.
Setiap langkah mereka di lorong puskesmas terdengar menggema, dan setiap bisikan malam seperti ancaman yang tak terucapkan. Mereka tahu, meskipun mereka sudah meminta maaf, tidak ada yang benar-benar bisa menghapus beban perasaan yang mereka rasakan.
Winda dan Dina juga sudah meminta maaf kepada Ratna dengan cara mendatangi makamnya. Mereka yang memang merasa bersalah telah melakukan segala cara untuk memperbaiki kesalah mereka, tapi tetap dihantui oleh ketakutan.