Beckham hanya menang tampang itu adalah salah satu mitos sepak bola paling populer sekaligus paling keliru.
Banyak sekali yg terjebak dgn halo effect krn memang popularitas selebritasnya yang luar biasa besar menutupi kualitas teknis Beckham.
✅Ballon d'Or, Runner-up 1999. Pemain biasa aja nggak mungkin hampir menang Ballon d'Or.
✅FIFA World Player of the Year, runner-up dua kali (1999 & 2001).
✅Salah satu aktor kunci treble winner Man Utd, 1999.
✅ Bikin 109 assist di Man Utd
✅Pemain Inggris pertama yg tampil 100 kali di UCL
Beckham adl pemberi crossing terbaik dlm sejarah Premier League. Akurasi umpan panjangnya mencapai presisi milimeter.
Jelas bukan pemain bola biasa aja..
Lebih memilih bangga dengan pujian dr US sbg tolak ukur keberhasilan,drpd membuka mata & hati dgn kenyataan yg terjadi di masyarakat nya sndiri. Pdhal Kl lihat gmn kualitas menu "mbg nya US" di kota kecil, yaa wajar aja mereka ngasih pujian. Ga ada sesuatu yg wow
Emha Ainun Najib ato biasa dipanggil Cak Nun memprediksi dari tahun 2012 bahwa Iran akan diserang oleh Israel dan US dan Arab Saudi akan bela Israel. Cak Nun di 2012 belum tahu ada variabel baru yang disebut Board of Peace sehingga masih menanyakan kira-kira Indonesia bela mana. Tapi, kita rakyat Indonesia di 2026 tahu Indonesia akan bela siapa.
Kira2 gini bit Gervais soal orang2 yg kerap tersinggung saat politkus idolanya diserang:
"Knp kalian merasa tersinggung demi mereka? Mereka bahkan nggak akan melihatmu jika kamu terbakar, kecuali ada kamera di dekat situ. Mereka sedang bermain game dan kamu itu cm skornya."
Airmata yang Tidak Seharusnya Jatuh
Dari Seorang Warga, Mantan Diaspora, dan Kader Muhammadiyah untuk Ira Puspadewi
Ada kalanya sebuah berita membuat kita berhenti sejenak, menarik napas dalam, lalu bertanya, "Mengapa seseorang yang begitu rapi jalan hidupnya harus menerima nasib seberat ini?"
Itulah yang saya rasakan ketika membaca kabar vonis terhadap Ira Puspadewi, seorang perempuan yang bagi saya mewakili integritas, profesionalisme, dan dedikasi, baik sebagai pemimpin BUMN maupun sebagai kader Muhammadiyah.
Saya mengenal nama Ira bukan dari kasusnya, tetapi dari rekam jejaknya. Ia bukan sekadar perempuan karier yang sukses. Ia pernah pulang dari dunia korporasi internasional, meninggalkan posisi aman dan mapan di luar negeri untuk mengabdi di tanah air. Ia memimpin Sarinah, Pos Indonesia, sampai ASDP. Dan di setiap tempat, ia membawa jejak yang sama: rapi, tertib, tanpa gaduh, dan jauh dari gaya hidup glamor pejabat.
Dan yang paling membuat saya tertegun. Ira adalah kader Muhammadiyah. Tercatat resmi sebagai Wakil Bendahara II Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata Muhammadiyah.
Seorang muslimah yang menjaga prinsip, yang sudah terbiasa bekerja dalam sunyi, memberi dalam diam.
Ketika membaca kembali kisah-kisah yang dituliskan sahabat lamanya, saya menemukan potongan-potongan kecil yang justru paling menyentuh. Ira yang naik kelas ekonomi di pesawat meski memimpin BUMN besar. Ira yang memilih menginap di hotel Amaris ketika direktur lain memilih hotel bintang lima. Ira yang malah menampung teman di rumahnya ketika sang teman sedang menghadapi masa sulit.
Kita sering bicara soal integritas, tapi Ira menunjukkannya justru di saat-saat yang tak terlihat kamera. Itu yang membuat kasus yang menimpanya terasa janggal bagi banyak orang.
Terlebih ketika Ketua Majelis Hakim sendiri menyatakan dissenting opinion. Bahwa apa yang dilakukan Ira adalah aksi korporasi yang sah, dilindungi Business Judgment Rule, dilakukan dengan itikad baik, dan melalui proses yang transparan. Bahkan uji tuntas dilakukan oleh tujuh lembaga, termasuk BPK, BPKP, Deloitte, dan PWC.
Di titik itu, saya bertanya sendiri. Kalau seorang profesional yang mengikuti prosedur, melakukan uji tuntas, tidak mengambil keuntungan pribadi, dan bekerja dengan integritas pun tetap tersandung, apa kabar yang lain?
Sebagai seorang warga negara, mantan diaspora yang dulu kembali dengan semangat ingin melihat Indonesia lebih maju, dan sebagai kader Muhammadiyah yang percaya pada nilai keadilan, kejujuran, dan kerja keras, saya merasa perlu menuliskan dukungan ini.
Bukan dukungan untuk membela membabi buta.
Bukan pula untuk mengintervensi proses hukum.
Namun sebagai pengakuan atas manusia yang saya lihat bersih jalannya, yang saya harap mendapatkan keadilan seadil-adilnya. Seorang perempuan yang tidak hanya membangun perusahaan, tetapi juga membangun manusia: teman, sahabat, dan komunitasnya.
Ira telah memberi banyak pada bangsa ini. Lebih dari sebagian besar dari kita.
Ia pulang ketika banyak memilih menetap di luar negeri.
Ia bekerja ketika banyak memilih kenyamanan.
Ia menata sistem ketika banyak memilih zona abu-abu.
Dan bagi saya, seorang yang bekerja sejujur dan sekeras itu, tidak seharusnya berdiri sendirian ketika badai datang.
Saya hanya bisa berharap, dan ikut mendoakan, agar proses berikutnya menghadirkan keadilan yang sebenar-benarnya. Agar suara jernih seperti pandangan Hakim Sunoto menjadi pijakan bagi upaya banding. Agar nama baik yang tercoreng dapat dipulihkan. Dan agar sejarah kelak mencatat bahwa Ira Puspadewi adalah contoh seorang muslimah profesional Indonesia yang tetap tegak meski diuji dengan keras.
Sebagai warga, sebagai kader, dan sebagai sesama manusia, saya ingin mengatakan. Ira tidak sendiri.
Dan kebenaran, jika memang berpihak kepadanya, semoga menemukan jalannya kembali.
(Ismail Fahmi)
Para Buzzer Termul dan Istana bilang, buat apa demo yg hanya bs timbulkan kekacauan dan macet? OK, tanya, bagaimana caranya? Sedangkan ini, ICW yg datang ke Gedung DPR RI dg baik² saja, Senin lalu, gimana coba cara mrk diperlakukan. Apalagi ke Istana deh.
#YangPentingPasti
Di setiap kesempatan Mbah Nun selalu memberi pendidikan dasar politik kpd khalayak jauh sampai ke pelosok, krn masy berhak dan harus tahu. Paling sederhana misalnya perbedaan antara Negara dan Pemerintahan.
Negara adl Asosiasi Inklusif yg di dlm-nya trdapat seluruh elemen fisik, budaya, masy, dsb yg membentuk suatu entitas. Pemerintahan adl bagian dari Negara yg punya tugas/fungsi khusus utk mnjalankan Negara.
Ketika kiai, uztad, gus melulu mengajar fiqh dan tasawuf, mengajak taqwa, mendorong kepatuhan kpd kiai, tapi kemudian bernegosiasi dengan kekuasaan dan mengkhianati jutaan kening umat yang mencium tangannya;
mbah Nun mjadi benteng melawan proyek Kedung Ombo, menunjuk hidung kekuasaan di rumah mereka, menaikkan kapolres2 ke panggung utk dikumbah masy, mempertemukan 2 kelompok konflik, mau 'dijadikan tumbal' agar trilyunan ganti rugi bisa cair, keras melawan pelarangan pemakaian jilbab secara umum di 80an, mengantarkan sholawatan ke panggung2 shingga mjd populer spt skrg, membuka pintu kadipiro selebar-lebarnya utk sambat, dan tetap memarahi kami kalau terlihat tidak ngapa2in. Fiqh dan tasawuf bukan tdk penting, tapi segera tuntaskan agar kemslahatan umat dan muamalah jg terkejar.
Di saat masy dilindas pinjol, hukum yg kek bajingan, ketidakadilan agraria, dll, bukan tasawuf, tatacara wudhu yang benar, atau setinggi apa celana pria agar tdk najis ketika sholat yg mjadi penyelesainnya. Tapi memperbanyak pengetahuan, sinau bareng, dan mengembalikan martabat yg sengaja dikerdilkan kekuasaan agar kita menjadi bodoh.
Islam adl rahmatan lil 'alamin, dg syarat kita jug punya receiver yg kompatible utk menerima limpahan sinyal rahmat. Blio mjd HUB yang menyambungkan ke khalayak, agar pengetahuan politik, ekonomi, iphone, isu subsidi, dan masy Samin tidak hanya menjadi komoditi higclass dan privilege tapi juga bisa dikunyah dg ringan. Blio mengantarkan islam ke depan pintu, menyajikannya dg lezat dan gurih, substant, tanpa syarat. Free! lil 'alamin! Blio melunakkan yang kaku dan menegaskan yang abu-abu
#caknun #bukanjumatberkah #yajumatsaja
Ngai Mado Dera
Artinya adl Pohon rindang yang menjadi tempat burung² berteduh, singgah, dan pulang. Beliau menjadi manusia ruang yg menjadi tempat berteduh orang² terbuang.
Satu waktu mbah Nun bersama rekan² seniman, budayawan, dan penyair menghadiri acara di Kasultanan Ternate. Hingga tiba saatnya Sultan Ternate memberikan penghargaan Ngai Mado Dera utk beliau.
Sang Sultan berkata kurang lebih, "Aku persembahkan penghargaan tinggi Kasultanan Ternate, Ngai Mado Dera, kepada mu".
Sumbang dan riuhlah suasana. Kok bisa Cak Nun yg dapat? Kan bisa lainnya. Lainnya lebih pantas. Muncul rasa tidak puasa dan tidak ikhlas.
Kemudian Sultan menyambung, ".. yang siapapun menyandang gelar ini dan ingkar akan artinya dan amanahnya, maka ketika mati nanti badannya akan menjadi makanan hewan² di hutan".
Makin riuhlah suasana.. "yawis Cak Nun saja!". Tiba² semua legowo.
--
Saya yakin kami² ini tidak berani menerima amanah dan resiko seperti itu. Tapi sepertinya beliau tdk memandang itu sbagai beban. Karena sperti yg selalu simbah katakan, " ..mendekat²lah selalu kpd Allah walaupun kita ini tidak pantas".
#72tahunCakNun