seperti biasa, hasil riset dari Meridian selalu BEDA dan 'ilmu Mahal ' ini ...
Kenampakan hasil dari pengukuran imbal hasil berdasarkan deviasi Standar dari rata-rata historisnya (Sigma _based Return) .
grafik ini tidak menampilkan persentase penurunan biasa (seperti -2% atau -5%),
tapi yang ditampilkan ini adalah
๐ญ๐ข๐ง๐ ๐ค๐๐ญ ๐ค๐๐๐๐ง๐จ๐ซ๐ฆ๐๐ฅ๐๐ง ๐๐ญ๐๐ฎ ๐ค๐๐ฅ๐๐ง๐ ๐ค๐๐๐ง
dari sebuah penurunan harga.
Apa yg menarik? ๐ฏ
$BBCA itu minusnya udah -2.93 , udah hampir -3
Klasifikasinya?
ini sudah SANGAT EKSTREM
CMIIW, kalau Sigma -2.93 berarti ibaratnya ini udah termasuk di area yang di luar 99.7% batas normal,
jadi 'kans' ini bisa terjadi tuh cuman 0.3 %
alias ini udah RARE banget !
EXTREME dan emang sangat JARANG terjadi.
dan ini sangat sangat LANGKA !
*CMIIW ๐
Source : Meridian Research Indonesia
Valuation-wise, Indonesia is arguably one of the cheapest equity markets in Asia today. Many well-known blue-chip companies are trading at what can only be described as crisis-like multiples despite maintaining healthy balance sheets, dominant market positions, and attractive dividend yields.
BBCA trades at roughly 11x forward earnings and 2.6x book value. Bank Mandiri trades at around 6x forward earnings and 1.2x book value. BRI trades at approximately 7x forward earnings and 1.3x book value. Astra sits at 6x forward earnings. Kalbe trades at 9x forward earnings. Amman trades at roughly 10x forward earnings. The list goes on.
Many of these companies also offer high single-digit dividend yields, with some names approaching double-digit yields. On paper, this should attract significant investor interest. Yet share prices continue to drift lower.
The obvious question is: where are the buyers? Where are all the investors who have spent years believing Indonesiaโs long-term potential? Indonesiaโs weight in MSCI Emerging Markets remains only around 0.5-0.6%, remarkably small relative to the size of its economy, population, and long-term growth aspirations.
More importantly, where is Danantara? It was presented as a potential new source of domestic capital and a stabilizing force for Indonesian financial markets. If the local market is trading at distressed valuations, this should be the type of environment where a large domestic institutional investor helps establish confidence.
The problem, however, is that cheap valuation alone is rarely enough. Markets ultimately pay for growth.
Indonesiaโs core challenge today is not valuation. It is earnings growth. Aggregate earnings growth for the market has slowed materially, with many sectors struggling to generate meaningful expansion. Compare that with South Korea and Taiwan, where investors are being offered direct exposure to AI, semiconductors, advanced manufacturing, memory, and high-performance computing. Foreign investors are naturally willing to pay higher multiples for companies whose earnings are compounding rapidly.
Currency concerns add another layer of complexity. Investors are not simply underwriting Indonesian corporate earnings. They are also underwriting the rupiah. If currency depreciation continues to offset equity returns, valuation discounts can persist far longer than expected.
There is also a credibility issue that should not be ignored. For years, many foreign investors have complained that parts of the Indonesian market function primarily as distribution channels rather than genuine capital formation venues. Domestic equity sales teams routinely promote names that later become exit liquidity for local institutions seeking to reduce exposure. Over time, repeated experiences like this erode trust.
The persistent allegations of wash trading, questions around effective free float, concentrated ownership structures, and concerns over genuine liquidity have further damaged confidence. Investors do not simply buy low valuations. They buy governance, transparency, liquidity, and confidence in future earnings.
This is why cheap markets can remain cheap for years. A stock trading at 6x earnings can still fall to 5x. Valuation itself is not a catalyst.
The harsh reality is that Indonesia does not have a valuation problem. It has a growth and confidence problem.
Until investors see stronger earnings growth, more credible policy execution, better market governance, improved liquidity, and a clearer path for capital to generate attractive real returns, low multiples alone will not be enough to attract meaningful foreign capital back into the market.
Cheap without growth is a value trap. Cheap with deteriorating confidence is even worse.
Global investors are rapidly losing confidence in Indonesia as the nationโs stocks tumble at the fastest pace worldwide and its currency sinks to all-time lows https://t.co/laOzvsf8t2
Guys, Ferry Latuhihin baru bicara lagi.
Dan seperti biasa tiga prediksi sebelumnya sudah terbukti semua dia tidak menarik kata-katanya.
"Saya masih yakin Juli dolar ke Rp22.000."
Bukan ugal-ugalan.
Bukan menakut-nakuti.
Tapi analisis yang disampaikan dengan sangat tenang oleh orang yang rekam jejaknya bicara sendiri.
Dan sebelum gue lanjut ada satu hal yang harus diluruskan dulu.
Soal tuduhan "agen Soros" ini yang paling menggelikan:
Setiap kali Ferry memperingatkan bahaya langsung dicap agen Soros.
Agen asing.
Mau menghancurkan Indonesia.
Ferry langsung jawab:
Agen itu orang dalam.
Mana ada orang di luar pagar kayak kita disebut agen. Insulting my intelligence.
Dan Prof. Rhenald Kasali menambahkan:
Yang namanya Soros itu business entity bukan political entity. Motifnya cari untung.
Dia itu seperti white hacker kalau lihat celah dia masuk.
Dia bukan mau jatuhkan rezim.
Dia warning bahwa kebijakan Anda salah.
Artinya:
Soros menyerang mata uang suatu negara bukan karena benci negara itu.
Tapi karena kebijakan negaranya sendiri yang menciptakan celah.
Pound sterling Inggris dihajar Soros.
Bank of England dibobol.
Bukan karena Inggris punya musuh tapi karena kebijakannya salah.
Dan kalau Indonesia diserang spekulan bukan karena ada agen.
Tapi karena kebijakan kita sendiri yang menciptakan celah itu.
Dan ini diagnosa Ferry yang paling menohok:
Saat krisis Asia 1998 Thailand, Malaysia, Korea Selatan, Indonesia jatuh bersamaan.
Itu fenomena regional. Contagion effect.
Sekarang? Kita jatuh sendiri.
Currency Malaysia menguat terhadap dolar kita melemah.
Currency Korea menguat kita melemah.
Currency Thailand menguat kita melemah.
"Saat currency lain menguat terhadap dolar kita tetap melemah.
Berarti boroknya memang borok kita sendiri.
Bukan systemic risk. Unique risk.
Kita satu-satunya."
Dan ini lebih berbahaya dari 1998.
Karena di 98 kita jatuh bersama ASEAN dan bangkit bersama ASEAN. Sekarang kita jatuh sendiri. Dan harus bangkit sendiri. Tanpa momentum regional yang membantu.
Dan ini rantai kausalitas yang Ferry jelaskan:
Harga minyak sekarang 117 dolar per barel padahal asumsi APBN hanya 70 dolar.
Perang Iran tidak akan selesai dalam hitungan bulan.
Ferry yakin bisa 5 tahun ke depan.
Iran punya kepentingan menjaga harga minyak tinggi karena itu sumber devisa utamanya.
Setiap kenaikan 1 dolar per barel di atas asumsi APBN tambahan beban fiskal Rp6,7 triliun.
Selisih 47 dolar berarti tekanan ratusan triliun.
Lalu: beban subsidi melambung defisit melebar kepercayaan turun rupiah melemah biaya impor naik inflasi naik daya beli turun.
Dan April 2026 inflasi masih single digit.
Tapi Ferry yakin: Mei 2026 double digit.
Karena produsen sudah mulai beli bahan baku di harga minyak baru yang dua kali lipat dan belum di-pass through ke harga akhir. Sekarang sudah mulai dipass through.
Dan ini soal kabinet yang paling berani Ferry bilang:
"108 menteri dan wakil menteri tidak ada satu pun yang jelas orang-orangnya."
"Amerika cuma punya 16 menteri.
Negara kita yang income per kapitanya 1/20 Amerika punya 108.
Pemborosan yang sangat dahsyat."
"Beda sama zaman Soeharto.
Soeharto cuma lulus sekolah rakyat tapi yang diambil Sumitro Joyo Hadikusumo, Wijoyo Nitisastro, Sumarlin, Emil Salim.
Teknokrat semua.
Begitu kabinet Prabowo diumumkan
pasar langsung baca:
dolar mulai naik sistematis."
Ini bukan soal suka atau tidak suka orangnya.
Ini soal bagaimana pasar membaca sinyal dari komposisi kabinet.
Dan pasarnya sudah membaca hasilnya terlihat dari rupiah yang terus melemah sejak hari pertama kabinet diumumkan.
Dan ini soal kebijakan antimarket yang Ferry sebut:
Ojek online dipaksa komisi 8%.
Ferry langsung bilang: "Tukang ojek sendiri tidak setuju loh.
Mereka sadar kalau Gojek dan Grab kolaps 7 juta ojek online jadi pengangguran.
Tiap satu ojeker menghidupi tiga orang."
Danantara dibentuk untuk kelola aset ribuan triliun. Badan ekspor satu pintu dibentuk untuk atasi under invoicing.
Ferry bilang: "Ini kayak BPPC dulu Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh. Akhirnya petani cengkeh di Manado kaing-kaing. Pohonnya pun akhirnya enggak ada."
Dan sekarang sudah terjadi:
buyers batu bara internasional
mulai pindah ke Australia.
Bukan karena Australia lebih murah.
Tapi karena tidak ada kepastian supply dari Indonesia. "Saya deal dengan government entity saya tidak tahu apakah mereka bisa commit."
TBS sawit petani sudah anjlok 20% baru beberapa hari setelah kebijakan ekspor satu pintu diumumkan.
Dan ini yang paling mengerikan dari analisis Ferry:
"Outlook 5 tahun ke depan saya: very grim."
"50% anggota Apindo:
tidak akan ekspansi 5 tahun ke depan.
68% anggota Apindo:
tidak akan rekrut karyawan 1 tahun ke depan."
Ini bukan ngarang.
Ini data langsung dari pelaku usaha di lapangan.
Dan recovery-nya tidak akan cepat seperti 98.
Di 98 ada IMF yang menolong.
Ada momentum regional.
Ada kepercayaan terhadap institusi.
Sekarang: "Saya yakin IMF pun tidak mau membantu kita."
Kenapa? Karena masalah kita bukan masalah likuiditas jangka pendek yang bisa diselesaikan dengan pinjaman darurat.
Masalah kita adalah structural problem dan institutional problem yang jauh lebih sulit dan jauh lebih lama untuk diselesaikan.
Dan Prof. Rhenald Kasali menutup dengan satu kalimat yang paling tepat:
"Ancaman terbesar dari suatu turbulensi bukanlah turbulensi itu sendiri tetapi adalah denial. Penyangkalan."
Dan itulah yang sedang terjadi. Prabowo bilang orang desa tidak pakai dolar.
Purbaya bilang fundamental kuat.
Perry mengganti definisi stabilitas.
The Economist disebut bego.
Sementara IHSG turun 22% sepanjang tahun berjalan. Rupiah di Rp17.700. Investor kabur. 40 triliun keluar dari pasar saham hanya di Q1.
Bukan karena dia mau Indonesia hancur.
Tapi karena dia melihat data yang sama yang dilihat oleh seluruh investor asing yang sedang keluar dari pasar Indonesia dan tidak ada sinyal dari pemerintah bahwa ada yang akan berubah.
"Pemerintah ini asik membangun mimpi tapi tidak membangun ekonomi."
Dan rakyat yang tidak pernah pegang dolar yang makan tempe dari kedelai impor, yang isi gas dari tabung yang harganya naik, yang cari kerja di pasar yang sudah mulai menutup lowongan mereka yang menanggung semua tagihannya.
Pertumbuhan GDP Vietnam sangat luar biasa 5 tahun terakhir
2021 +2.25%
2022 +8.12%
2023 +5.05%
2024 +7.09%
2025 +8.02%
Pasar modalnya juga digadang2 akan promosi dari MSCI Frontier ke Emerging Market
Apakah bobot Indonesia akan turun?
Studi kasus Argentina dan Saudi Arabia
Udah belajar analisa bertahun-tahun.
Prediksi harga aset? Bener terus!
Tapi kok kayaknya gak berkembang ya?
Inilah yang dinamakan terkendala modal.
Saat kamu modalmu cuma 2 juta, 100% sebulan (yang mana susah banget dilakuin dan resikonya besar banget) cuma ngasih kamu 2 juta.
Sementara itu, di luar sana orang yang analisanya gak sejago kamu, dengan modal 200 juta, cuma butuh 5% sebulan buat dapat 10 juta sebulan.
- Lebih tidak beresiko
- Hidupnya lebih nyaman
Ini yang dinamakan leverage dari kapital.
Modal itu penting banget dalam trading.
Saya juga ngalamin di trading saya. Terutama di crypto, karena sering banget kayak gini
Saat saya deposit "cuma" 100 USDT:
- Best case scenario: Bisa banget jadi 2000 atau lebih dalam sebulan
- Worst case scenario: Terlikuidasi di trade pertama
Di luar itu, bisa banget pakai risk per trade yang proper. Tapi buat nge-growing 100 USDT capek banget rasanya.
Tapi saat ada modal 2000 USDT aja, kerasa banget bedanya.
Saya cukup trading dengan risk 5%, bisa dapet 10-15% seminggu.
Atau kalau dalam nominal 200-300 USDT seminggu. Baru tuh mulai bisa hidup nyaman.
Ini pun masih bukan manajemen resiko yang proper ya. Masih lebih mudah untuk rungkad kalau saya loss 3-4 kali berturut-turut aja biasanya langsung ketrigger pengen revenge trading (soalnya udah loss 20%, pengen balikin)
Tentu bakal beda lagi kalau kalian punya modal 10000 USDT misalnya
Ngarah 5% sebulan aja (Ini masih konservatif ya). Udah dapet 500 USDT tuh udah hampir 2x UMR Bandung dan 1.5 lebih UMR Jakarta.
Jadi PR kalian kalau mau trading, dan sudah punya ilmu: cari cara buat dapet modal!
Mindsetnya sama kayak mau buka usaha. Harus ada modal dulu!
Bedanya kalau buka usaha bisa minjem ke bank. Kalau trading, jangan ya!
BREAKING: According to our analysis, ~$920 million worth of crude oil shorts were taken 70 minutes before an Axios report claimed the US and Iran were near a "14-point" deal to end the war.
At 3:40 AM ET today, nearly 10,000 contracts worth of crude oil shorts were taken without any major news.
This is equivalent to ~$920 million in notional value, an unusually large trade for 3:40 AM ET.
At 4:50 AM ET, just 70 minutes later, Axios reported that the US is "close" to a "memorandum of understanding" to end the Iran War.
By 7:00 AM ET, oil prices had fallen over -12% with these crude oil shorts gaining approximately +$125 million.
Minutes later, Iran launched the "Persian Gulf Strait Authority" and oil prices surged +8%.
What just happened?
๐จBREAKING: Brent crude oil fell -8.2% to $99.5/barrel as the US and Iran work toward a deal to end the war.
This is the first time oil broke below $100 in 2 weeks.
Ngapain lah futars futurs susah sendiri
Spot ajalah trading tu
Nih caranya:
Step 01
Setiap sekitar jam 7 pagi WIB, buka Coinmarketcap, lalu filter biar yang di-display top 200.
Lalu sortir berdasarkan top gainers di 24 jam (lihat gambar)
Step 02
Screening satu-satu. Maksimal 10. Buka tradingview. Cek apakah si aset tersebut di timeframe 1 hari membuat candle bullish dengan volume besar
Definisi candle bullish:
- Hijau. Body besar
- Wick ke atas minim atau tidak ada
- Close-nya lebih tinggi daripada high sebelumnya
Definisi volume besar: Lebih besar dari rata-rata 5 bar sebelumnya
Step 03
Masuk posisi beli dengan stop loss di bawah low candle tersebut. Masuk dengan resiko yang terukur (ukur sendiri). Lalu tunggu beberapa hari
Step 04
Exit jika (pilih):
- Sudah mencapai 2R atau cuan sebesar 2 kali resiko
- Membentuk candle bearish (kebalikannya candle bullish)
- Trailing atau pindahin stop loss setiap dia membentuk low baru
Kalau saat screening tidak menemukan sesuai kriteria step 02 sampai 10 kali, lupakan. Screening lagi besok
Ilustrasi ada di gambar semua. Cari aja yang kayak gini
GM!
Sekalian jangan lupa join membership Volubit buat dapet ilmu dan sinyal berkualitas.
Murah bang gak kayak yang lain
join sini:
https://t.co/mgJ3Z37pdL
๐จOil anjlok -11% dalam sehari setelah kabar perundingan damai mendekati kesepakatan (tergantung mood Trump)
FTSE Russell : Status Secondary Emerging dipertahankan, tidak masuk Watch List. FTSE terus pantau reformasi pasar modal terkait transparansi kepemilikan, free float, dan tata kelola. Keputusan soal perlakuan saham Indonesia akan dikonfirmasi menjelang review Juni 2026
Vietnam : naik dari Frontier ke Secondary Emerging efektif 21 September 2026, implementasi bertahap hingga 2027. Ini berpotensi mengalihkan sebagian aliran dana asing dari Indonesia ke Vietnam.
Mesir : Tetap di Watch List, berisiko turun dari Secondary Emerging ke Frontier karena jumlah saham eligible belum memenuhi syarat minimum.
Nigeria : Naik dari Unclassified ke Frontier efektif 21 September 2026 setelah masalah repatriasi modal terselesaikan.
Yunani : Naik dari Advanced Emerging ke Developed efektif 21 September 2026.
Seperti di film Doraemon.
Sebuah unggahan yang diposting ulang oleh Menteri Keuangan Jepang, Katayama.
Perusahaan minyak besar Jepang, ENEOS, untuk pertama kalinya berhasil memproduksi bahan bakar sintetis (e-fuel), yang dibuat tanpa menggunakan minyak bumi, dari CO โ di udara dan air di fasilitasnya di Yokohama.
Skala produksi pabrik percontohan saat ini masih sangat kecil, yaitu 1 barel per hari (kira-kira seukuran satu drum), tetapi perusahaan bertujuan untuk meningkatkannya hingga 10.000 barel per hari pada tahun 2040.
Meskipun masih dalam tahap eksperimental, bahan bakar ini menarik perhatian sebagai bahan bakar baru yang dapat mengurangi ketergantungan pada minyak bumi.
Dalam rentang waktu yang kita jalani saat ini, peralihan dari minyak tampaknya dimulai bersamaan dengan peralihan dari dolar AS.