Min @pln_123 , mohon info untuk wilayah Kecamatan Sukosewu Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. Terjadi pemadaman aliran listrik. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Kira2 kenapa ya min?.
lama2 napas aja kena pajak ini
makanya gausah maksain program yang ngabisin anggaran, gaji dan tunjangan lo ketinggian, staf sana sini korup, jalanin BUMN dengan bener, pilih orang2 yang capable di bidangnya. enak bener kerja kagak tapi minta2 duit ke rakyat. tolol kok berjamaah
Sering kita lihat. Jika orang kuat scr ekonomi atau politik berkasus saat diusut hasilnya "Tak ada dua alat bukti yg cukup". Tp kalau orang kecil diusut dlm satu kasus meski punya alibi kuat dan tak cukup alat bukti dibilang "Nanti saja jelaskan pengadilan".
Kritikan Untuk Orang-orang NU
Oleh: Gus Baha
NU itu terlalu banyak pengajian umum. Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang. Itu lampu merah. Orang kaya suka ulama. Suka kiai. Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama.
Saya ga mau ngaji yang ribet itu. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang. Ribet.
Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau.
Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya.
Banyak yang datang minta pengajian umun, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja. Kalo kiai diatur-atur, kan ribet.
Bukan saya anti. Dan itu perlu. Tapi sudah over. Tapi tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan.
Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia. Klop. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang. Musibah. Terutama di Jawa Timur.
Saya keluar dari kantor PWNU Jawa Timur, langsung dikasih voucher umroh. Saya jawab, tidak, saya kiai Jawa Tengah.
Makanya saat saya diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas … Saya mau asal, disediakan naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas.
Ya, saya ngajinya kitab para pendiri pesantren itu. Bukan ngaji Gus Baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy’ari, dll.
Ini kan musibah. Selama ini dzurriyah, para cucu tidak peduli dengan naskah pendiri. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah. Naskah masyayikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya.
Saya punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas. Saya dikasih Mbah Moen. Akhirnya, para cucu ngaji ke sini.
Coba, Sirojut Tholibin di cetak di mana-mana, termasuk Yaman. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes.
Kiai-kiai NU itu sudah alim. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal. Ini kan sudah mau pinter, di suruh goblok lagi.
Anda itu ngaji, sampai buka kamus, meneliti tiap kata, harusnya ngajarnya seperti itu. Agar tetap alim.
Ada kiai yang sehari manggung 3 kali. Padahal, pasti dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?
Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik.
Akhirnya ya goblok beneran. Pondok NU juga ikut-ikutan tren. Bikin acara, ya pengajian umum. Yang datang banyak.
Masak, pondok NU mengundang Ustad/Kiai yg tidak jelas. Karena ikut tren tadi. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka. Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari.
Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali. Kiai tidak boleh diatur orang kaya. Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain. Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang ‘Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji, daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas’. Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya.
Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama. Itulah NU. NU itu harusnya melahirkan kiai – allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang. Dan saya melihat sudah lampu merah. Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy’ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab.
Keilmuan, kealiman ini jangan habis. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah. Jika kita terus begini, bisa habis.
Copas FB Samsul Arifin
istri rosulullah, sahabat dan tabi'in kalo ke kuburan beliau tuh biasa aja. salam & mendoakan. cukup
sekarang kuburan yg katanya wali aja jalan pake lutut & cium2 nisan. dinasehatin bilangnya adab. ceilah adab, orang tua lu noh minta diajarin save kontak watsap aja lu bentak2 :(
Gua sampai sekarang masih bingung
Saat kita kecelakaan, motor kita diangkut terus pasca kecelakaan kita mau ambil motor disuruh nebus sekian
Itu konsepnya gimana ?
orang sudah terkena musibah masih disuruh pusing mikir cari uang untuk nebus motor kita bekas kecelakaan 🤦♂️
Pernahkah Anda berpikir, keputusan kecil bisa membawa dampak besar?
#AniesAmbilKeputusan kali ini bahas hal yang mungkin remeh bagi kita, tapi berpengaruh besar bagi orang lain.
Saat bepergian sendirian, saya selalu memilih menggunakan jasa porter, meski hanya membawa satu koper. Kenapa? Karena ada dua alasan penting:
1. Memberikan kesempatan kerja bagi para porter di bandara atau stasiun, yg penghasilannya bergantung pada jasa harian.
2. Memberikan pesan personal kepada mereka, tentang pentingnya mengelola penghasilan, seperti menabung atau membiayai pendidikan anak.
Langkah kecil ini bukan hanya soal membantu secara ekonomi, tapi juga mencoba mendorong perubahan positif yg lebih besar.
Bagaimana menurut Anda? Apa keputusan kecil yg pernah Anda ambil dan membawa dampak besar dalam hidup orang lain? Share di kolom komentar!
Mahfud MD: Kalau anda tidak sangat terpojok sekali jangan berurusan dengan pengadilan (hukum), anda lapor ke Polisi sapi hilang satu, untuk ngurus biayanya itu 5 sapi lagi
Wkwkwkkk..
Kmrin yg benci Ahok aja kelihatan kocak (Pendukung buta Anies). Persis kocaknya sama yang benci Anies (Pendukung buta Ahok).
Lha kok berharap Anies duet sama Ahok. Namanya apa kalo gak kocak kuadrat. Wkwkwkkk.