THE NEW ERA OF MLBB HAS BEGUN
🇷🇺🇩🇪 @TSpirit_MLBB are your #MSC2026 at #EWC2026 Champions! Taking home $1,000,000
Making history as the FIRST EVER Western MLBB Champions but also
EUROPE'S FIRST EVER Global MOBILE MOBA Title and the FIRST ORG to win BOTH TI and a MLBB Major
HISTORY HAS BEEN MADE
🇷🇺🇩🇪 @TSpirit_MLBB obliterates @onic_esports🇮🇩 3-0 to give EECA's First Ever MLBB Finals
and for the FIRST TIME EVER in the history of MLBB:
NO MALAYSIAN TEAMS
NO INDONESIAN TEAMS
NO PHILIPPINES TEAMS
First Ever "NO MAJOR REGION" MLBB Finals
#EWC2026
Statement on behalf of UEFA and its 55 National AssociationStatement on behalf of UEFA and its 55 National AssociationStatement on behalf of UEFA and its 55 National AssociationStatement on behalf of UEFA and its 55 National Associations
Ada orang Jerman yang tahu Pela-Gandong lebih dalam dari kebanyakan orang Maluku.
Namanya Dieter Bartels.
Dieter Bartels selesai dari sekolah periklanan di Jerman. Tapi beliau tidak mau menghabiskan sisa hidupnya di kantor percetakan. Jadi Beliau pergi. Keliling dunia. Salah satu tujuannya: Indonesia.
Tahun 1964, pertama kali menginjakkan kaki di sini dengan visa turis 2 minggu.
Namun ternyata tinggal selama 3 bulan.
Visa diperpanjang tiap dua minggu, ceritanya waktu itu masih bisa diurus lewat polisi setempat. Dan rupanya Indonesia terlalu nyaman untuk ditinggalkan begitu saja.
Singkat cerita, beliau sampai di Amerika Serikat. Tidak punya ijazah SMA. Masuk Community College. Dapat nilai tertinggi. Diizinkan lanjut kuliah. Akhirnya sampai di Cornell University, New York dan sedang mengerjakan disertasi untuk gelar Ph.D.
Waktu itu beliau sedang ada di Belanda. Dan di sana beliau menyaksikan sesuatu yang mengubah arah penelitiannya selamanya.
Sekelompok pemuda Maluku melakukan pembunuhan terhadap seorang polisi di depan Kedutaan Besar Jerman di Den Haag(1970an).
Beliau bertanya, Siapa orang-orang ini?
Karena penasaran, beliau kembali ke perpustakaan Cornell. Membaca semua yang bisa ditemukan tentang Maluku, mulai dari zaman Portugis.
Dan tahun 1974, beliau terbang lagi ke Indonesia. Mengajukan izin penelitian. Masuk ke Maluku Tengah. Kebetulan yang tidak pernah beliau rencanakan, tapi tidak pernah beliau sesali.
Penelitiannya berfokus pada satu hal yang dianggap banyak orang sudah cukup diketahui:
Pela-Gandong.
Ikatan persaudaraan lintas agama yang selama berabad-abad menjadi perekat komunitas Muslim dan Kristen di Maluku Tengah.
Salah satu bukunya "Dibawah Naungan Gunung Nunusaku" sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan menjadi salah satu referensi paling penting tentang budaya Maluku.
Ada dua jilid, Jilid 1 Kebudayaan dan Jilid 2 Sejarah.
Lalu 1999 datang.
Kerusuhan. Konflik. Maluku terbakar.
Dieter Bartels tetap datang.
Bukan untuk meneliti. Tapi karena dia perlu tahu sendiri apa yang sedang terjadi dan kenapa sesuatu yang seharusnya menjadi perekat, justru gagal menahan perpecahan.
"Kerusuhan seharusnya tidak terjadi jika semua elemen masyarakat mengerti betul apa itu Pela-Gandong," katanya.
Sekarang usianya sudah tidak lagi muda.
Tapi hampir setiap tahun, dia masih kembali ke Maluku. Masih meneliti. Masih bertanya.
Di pengantar bukunya, ada satu kalimat dari penulisnya yang sulit saya lupakan:
"Prof. Bartels adalah orang Maluku — lebih dari orang Maluku itu sendiri."
Dan di ujung obrolan kami, dia menitipkan satu harapan yang sederhana tapi berat:
Semoga ada orang-orang Maluku yang mau melanjutkan penelitiannya.
Bukan karena dia menyerah. Tapi karena beliau tahu cerita tentang tanah ini seharusnya diteruskan oleh mereka yang lahir dan besar di sini.