@Adeirmagustin07@karyakarsa_id Iya kan...Maaf banget ya. Di kampung tak bisa online kak. Masih repot banget. Belum sempat buka laptop malah. Rumah masih rame terus setiap hari, anggota keluarga berdatangan jenguk adek yang bentar lagi mau lahiran. Sabar ya. Pasti lanjut kok. ๐๐
โJangan. Kita akan menyulitkannya. Tunggu saja disini,โ tegas Akik Uging.
Aku melihat Akik Uging, sepertinya mengetahui apa yang dilakukan Manang Taji dalam renungannya. Ia yang paling bersikeras menahan kami tidak mengganggu Manang Taji.
Akan update Part 15 "Gawai Manang" disini. Terima kasih banyak buat kalian yang sudah memberi dukungan ๐. Part 16 nya sedang dipersiapkan, tentunya akan lebih dulu update di @karyakarsa_id.
#Ceritakalimantan
https://t.co/1LCpRHMNah
@elvrd1505@karyakarsa_id kemungkinan Part 16 kak, tergantung alurnya juga sih. tapi kalau tanggung, tidak mungkin maksain ada part 17 nya. Part 16 nya sedang dipersiapkan. jadi lihat finishnya nanti. terima kasih sudah bertanya๐
Di ruang tamu, untuk kedua kalinya, Manang menenggak air ramuan. Ia meringis menekan dadanya.
Pertanyaan besar muncul di benakku. Apa yang terjadi? Siapa lawannya, dan sekuat apa sebenarnya lawan Manang Taji?
***
Bersambung....
Part 16 akan lebih dulu update di @karyakarsa_id๐
Manang Taji kemudian menenggak secangkir air ramuannya. Napasnya terengah-engah, seakan sudah melakukan aktivitas berat. Ia lalu memberi isyarat pada kami untuk membantunya berdiri. Kami segera memapahnya ke ruang tamu.
Tiba-tiba, terdengar suara pecahan benda dari ruangan tempayan, membuat kami terperanjat kaget.
โManang?โ gumamku, bergetar.
โApa yang terjadi?, apa kita masuk saja, barangkali dia butuh bantuan,โ ujar Bunai berdiri di dapur, mengangkat dagu, memperhatikan Manang.
Detak jantungku semakin kencang. Aku cemas memikirkan putriku di sana. Aku berusaha menajamkan pendengaran, mencoba mendengar sesuatu. Tapi selama beberapa menit berikutnya, yang ada hanya hening. Tak ada suara tangisan Ami dan Tumi.