Eh kalau beneran konser tahun depan cuma mau bilang gausah ke konser SNSD ya adik2 ga worth it.. lagu nya lagu jadul, dance ga energik, ga rekomen pokoknya jadi gausah di tonton ya 😊👍🏻🙏🏻
Skill penting dalam kehidupan dewasa setelah menikah adalah bisa juggling antara hobi dan keluara, dan harus ikhlas kalo waktu buat hobi udh ga sama lagi kaya pas lajang😌
Tumbuh di keluarga dengan miskin struktural memang begini. Izin ikut cerita yang serupa juga ya kak.
Lebaran tahun ini aku ajak sekeluargaku staycation di Jakarta selama 3 hari 4 malam.
Nginep di apart 3 kamar, wara-wiri full pake driver, dine out di resto, dan wisata.
suamiku jujur awal nikah dia gbs pake mesin cuci krn semuanya selalu ibu dia yang kerjain 😅 akhirnya ku ajarin. salah? gak ku ambil alih. ku ajarin terus² an sampe ibunya sendiri blg ke dia "enak msh jadi anak ibu kan ga perlu pegang mesin cuci"
trs dia jawab—
Bapak diminta gantiin pampers anak. Masangnya miring. Anak bocor. Kasur basah.
Istri dateng, ganti ulang, beresin kasur, ganti sprei.
Bapak berdiri di samping, angkat bahu: "Yaudah kamu aja deh, Ma. Aku emang gak jago ginian."
Bapak merasa itu pengakuan jujur atas kelemahan Bapak. Rendah hati. Bahkan mungkin lucu.
Pak, itu BUKAN kelemahan. Itu STRATEGI. Dan strategi itu punya nama di dunia psikologi: Weaponized Incompetence. Ketidakmampuan yang dijadikan senjata.
Bukan Sekadar Perkenalan Pemain
Semalam, saya menyaksikan satu momen yang rasanya akan diingat banyak orang: pengenalan Mariano Peralta di TikTok Live Persib.
Banyak momen yang benar-benar membuat saya merinding.
Coba perhatikan, ada berapa generasi yang berkumpul di sana. Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga mereka yang rambutnya mulai memutih. Semua menunggu momen yang sama.
Lalu jubah hitam itu dibuka.
Sorak kegembiraan langsung pecah. Namun, yang paling nyaring justru suara anak-anak. Di situlah saya sadar, yang sedang diperkenalkan bukan hanya seorang pemain baru, melainkan juga sebuah kenangan yang kelak akan melahirkan generasi Bobotoh berikutnya.
Begitulah rasa memiliki diwariskan. Bukan lewat ceramah, bukan pula karena dipaksa, melainkan lewat momen-momen sederhana yang mereka alami sendiri.
Sulit menemukan klub yang begitu menyatu dengan budaya dan masyarakatnya seperti Persib. Klub ini bukan hanya bermain untuk sebuah kota, tetapi tumbuh bersama orang-orang yang mencintainya.
Mungkin dua puluh atau tiga puluh tahun lagi, anak-anak yang bersorak malam itu akan menggendong anak mereka sendiri. Lalu mereka akan bercerita, "Dulu saya ada di sana, saat Peralta pertama kali diperkenalkan."
Dan dari cerita-cerita sederhana seperti itulah, Persib akan terus hidup, berpindah dari hati satu generasi ke generasi berikutnya.