Review buku Tubuh yang Tumbuh karya Feby Indriani. Bukunya berisi kumpulan esai tentang perempuan, segala curahan hati sang penulis tentang perjuangan dan perjalanan perempuan yang bertumbuh. Topiknya beragam mulai dari tubuh perempuan, masyarakat memperlakukan perempuan, impian, pernikahan, feminisme, femisida, hingga menua. Semua disampaikan dengan bahasa indah, puitis, dan mudah dicerna.
Menurutku buku ini surat cinta dari mba Feby Indriani untuk seluruh perempuan di muka bumi ini. Beberapa esai emosional karena berdasarkan kisahnya, terutama di esai “Haid Pertama”, bahas momen haid pertama sang penulis yang kurang mengenakkan, aku pun nanya ke sahabat perempuan ku, dia juga dapat pengalaman serupa, dia diomelin huhu. Sedih, seharusnya kan dirangkul, mereka masih remaja dan bingung.
Kemudian di esai “R.I.P. Impian-Impian Ibu Kita”, haru juga, penulis cerita bagaimana mimpi ibunya jadi penyanyi terkubur. Banyak perempuan di luar sana yang mengorbankan mimpinya untuk merawat keluarga dan anak, bukan berarti itu gak mulia ya, cuma alangkah indahnya jika para perempuan bisa meraih impian sekaligus merawat keluarga. Merawat keluarga dan anak bukan tugas perempuan saja kan, laki-laki juga harusnya kerjasama.
Review buku Olenka karya Budi Darma. Menceritakan Fanton, seorang pria yang terobsesi dengan perempuan yang ia temui di lift apartemen bernama Olenka. Cerita mengalir ke arah Olenka, suaminya Wayne, dan tentu Fanton.
Bukunya tentang obsesi cinta, pergulatan batin, dan keterasingan. Karakter-karakter di buku ini dibuat jauh dari kata wajar. Fanton yang sableng dan berambisi mendapatkan Olenka, Olenka yang bertalenta dan misterius, hingga Wayne penulis mokondo yang sinting, kelakuan mereka bertiga dijamin bikin otak ngebul.
Latar novel ini Bloomington, Indiana, Amerika Serikat. Benar, seperti cerpen Orang-Orang Bloomington, dan ada beberapa nama karakter di cerpen tersebut muncul dalam novel ini.
Selalu mengagumi bahasa yang digunakan oleh Budi Darma dalam menulis. Dengan karakter orang barat, namun diksinya Jawa atau Indonesia sekali, mulai dari sampean, sekonyong-konyong, jancuk, hingga ngluruk. Alasan lainnya menyukai karya Budi Darma juga karena dia begitu julid saat mendeskripsikan karakter, contoh “Seperti biasa wajah M.B. cerah. Mungkin otaknya kosong, semua dianggapnya menyenangkan.” Kemudian begitu ganjil obsesi Fanton ke Olenka, seperti di kutipan ini:
“Kadang-kadang, saya ingin memperlakukan tubuhnva seperti sebuah peta. Kalau dapat melakukannya demikian, saya akan menggulungnya, kemudian membukanya di atas ranjang, atau di atas meja, atau di atas lantai, atau di atas rerumputan.”
Lagi baca-baca trivia film War of the Worlds (2005), katanya Steven Spielberg (sutradaranya) gak mau lagi buat film bareng Tom Cruise. Soalnya si Tom di lokasi syuting suka ngajak orang convert ke Gereja Scientology, bahkan Steven diajak hahahaha 😂 . Dulu sempet nonton film ini dan baru tau adapatasi dari buku karya H.G. Wells, dirilis tahun 1898. Keren banget imajinasinya tahun segitu udah nulis sci-fi alien menginvasi bumi, wow 🤯 penasaran mau baca versi bukunya.
Kemarin perdana ke Kios Ojo Keos, diajak temen booktok, ada diskusi buku Sang Raja karya Iksaka Banu. Jadi beli bukunya penasaran, fiksi sejarah tentang sepak terjang Nitisemito, pengusaha kretek asal Kudus 📚
Obsession (2026) Perlahan menyerang jantung. Jujur capek banget nonton ini huhu. Film tentang ketololan seorang pria cupu. Horor yang sukses bikin engos-engosan, dengan latar gelap mencurigakan, jump scare dar der dor dan akting apik para cast, terutama Inde Navarrette 👏🏻. Penjahat utama tentu Baron, what a moron.
Backrooms (2026) Misteri horor psikologis yang penuh kejanggalan, keganjilan dan trauma. Menegangkan sudah pasti, nonton ini seperti mimpi pas tidur maghrib-maghrib terus kebangun keringetan dan linglung. Ide cerita pintar, desain produksinya gila dan keren banget. Musiknya juga bikin penonton ikutan menyelam ke ruang tanpa ujung. Akting Chiwetel Ejiofor & Renate Reinsve memukau.
Hoppers (2026) Konyol, jenaka dan emosional. Ingin menyelamatkan hutan kota, seorang remaja tak sengaja pindah ke tubuh berang-berang. Setiap lawakan lucu dan banyak karakter yang memorable. Suka banget perbedaan mata para hewan pas ke manusia dan sesama hewan, genius sih. Pesan dari sang nenek tentang amarah benar banget huhu 🥹
Review buku Oni Jouska karya Asep Ardian. Bukunya menceritakan Oni Jouska, seekor ikan remora muda cacat yang tak ingin jadi parasit seperti koloninya. Oni pun bertualang ke lautan dan menemukan ada perang berkecamuk antara dua klan makhluk laut. Berkat kegigihan dan kekuatan tersembunyinya, Oni jadi sosok penting dari salah satu klan. Nah salah satu misinya adalah bertemu manusia.
Suka sekali dengan cerita fabel ini, karakter Oni Jouska ini punya mimpi besar walau dengan keterbatasannya. Emosional melihat karakter Oni berkembang dan bertumbuh, dulu penuh emosi negatif karena koloni atau kelurganya tidak suportif. Dia bertemu teman baru dengan segala cerita dan luka, membuatnya jadi bijaksana dan berempati. Oh iya ikan remora ini ikan yang suka nempel ikan-ikan besar, numpang hidup gitu lah.
Kemudian buku ini bahas isu lingkungan yang mana sampah-sampah manusia merusak rumah mereka. Oh iya dua klan yang sedang berperang itu bernama Denaya dan Dustha. Denaya pro manusia dan Dustha membenci manusia. Banyak sekali sindiran untuk manusia dan saya setuju.
Buku ini bisa juga dibilang dongeng atau legenda, karena menyelipkan kisah makhluk hidup di bumi sebelum manusia hadir. Bukunya imajinatif sekali dan ceritanya pun ringan, saat baca ini otak langsung membayangkan versi film pasti akan wah. Ayo Ryan Adriandhy dan tim Visinema Pictures baca bukunya, siapa tau tertarik dibuat film animasinya hehe.
Total halaman buku ini 130, bahasanya mudah dimengerti dan ada beberapa ilustrasi yang indah.
Kutipan yang mengena di pikiran pun banyak, salah satunya ini:
“Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu, manusia. Apa kau diciptakan oleh Sang Pencipta untuk menjadi kuat? Apa kau pernah merasa ingin mengakhiri hidupmu karena kau tak tahu bertahan? Aku selalu ingin bertahan, meski tak selalu tahu caranya.“ 🐟
Disclosure Day (2026) Film fiksi sains yang mendebarkan dan membelalakan mata. Ide cerita menarik, visualnya cakep, aktornya beberapa ada yang bagus dan EMILY BLUNT paling bersinar, multilingual diva. Durasi agak panjang dan penuh banget. Babak akhir seru banget sih, puncaknya 📺
Review buku Makamkan Ibu di Samping Ayah karya Kalis Mardiasih. Menceritakan tentang tiga kakak-beradik yang harus menengok luka lama saat sang ibu berwasiat ingin dimakamkan di samping ayah mereka, sosok yang meninggalkan mereka tanpa pamit.
Tema utama buku ini keluarga dan bakal relate ke anak-anak korban perceraian, jadi siap-siap terguncang. Kita diajak berkenalan dengan Aji anak sulung yang selalu berbakti dan jadi tameng terdepan, Vikra anak kedua yang avoidant dan memendam rahasia besar serta Lini anak bungsu yang jadi people pleaser.
Selain dari sudut pandang ketiga bersaudara itu, kita juga melihat sudut pandang sang ibu dan ayah yang menciptakan trauma.
Suka dengan mba Kalis yang menyelipkan isu perempuan seperti perempuan di dunia kerja, nasib perempuan lansia, juga bagaimana masyarakat yang judgmental dengan seorang janda, kemudian bahas juga isu sosial seperti PHK, bisnis “cuci cuci”, sampai kesehatan mental.
Novel ini tentang luka masa kecil dan hubungan orang tua–anak. Pas itu Mba Kalis pernah mampir ke TikTok LIVE ku bilang “Buku ini teman untuk anak dari semua keluarga-keluarga prahara yang gagal cemara di Indonesia”. Bener banget, gak semua keluarga tuh cemara.
Bukunya cuma 142 halaman dan bahasanya juga mudah dimengerti. Alurnya maju mundur dan banyak kutipan yang memilukan, salah satunya ini:
“Tubuh perempuan yang selalu punya pendapatnya sendiri ini ternyata sedang menahan sakit berlipat-lipat. Segala nyeri ia tata rapi di balik punggung yang dipaksa tegak.”
Oh iya dari judul dan tema bukunya, kayaknya berpotensi diangkat ke layar lebar hehe.
Review buku The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway. Bukunya menceritakan tentang Santiago, nelayan tua yang gagal mendapatkan ikan selama delapan puluh empat hari. Di hari delapan puluh lima ia kembali melaut dan umpannya dimakan ikan marlin raksasa. Karena perahunya kecil ia terbawa oleh ikan tersebut ke tengah laut dan petualangannya dimulai.
Bukunya tentang ketekunan, ambisi manusia dan mencari validasi. Dicap payah, karakter Santiago bersikeras mengembalikan harga dirinya dengan membawa pulang ikan marlin raksasa. Walau banyak rintangan, dia bertekad membawa pulang ikan tersebut.
Sendirian di tengah laut, banyak percakapan bergemuruh di kepala Santiago, mulai dari overthinking, ragu sampai penyesalan. Bagaimanapun ia tidak menyerah dan mempertahankan ikan marlin itu. Manusiawi sekali, menggerutu namun tetap dilakukan.
Oh iya aku baca versi penerbit Narasi, terjemahannya lumayan, terus halamannya cuma 160an jadi cepat selesainya. Lewat buku ini kita jadi tahu proses melaut seorang nelayan dengan peralatan seadanya dan mendapatkan fakta tentang ikan marlin, penyu serta hiu.
Buku ini jadi novela klasik wajib baca karena perjuangan Santiago yang menginspirasi. Banyak kutipan memantik rasa semangat, salah satunya ini:
“Manusia bisa dihancurkan, tapi tidak bisa dikalahkan”
Review buku Entrok karya Okky Madasari. Bukunya menceritakan dua perempuan beda generasi yang hidupnya terkoyak-koyak di era orde baru. Marni, seorang ibu yang buta huruf, masih memuja leluhur dan gigih mencari uang. Rahayu, anaknya yang religius, berpendidikan dan tidak sejalan dengan ibunya.
Cerita disampaikan lewat dua sudut pandang mereka. Siap-siap geram, murka, gusar, dan berang saat melihat aparatur negara dan penguasa mengendalikan kehidupan mereka. Dalam novel ini kita tahu kalau penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang sudah mengakar sejak dahulu kala. Korbannya bukan hanya Marni dan Rahayu, ada banyak sekali.
Kagum sekali dengan karakter Marni, dengan keterbatasannya dia bertekad mengubah nasib. Ketekunan dan kegigihannya membuat mimpi besarnya terwujud, namun harus ditempeli “benalu berseragam”.
Walaupun buta huruf, Marni memiliki pemikiran yang progresif dengan memberdayakan diri sendiri dan para perempuan di sekitarnya. Dulu ia pernah jadi kuli angkut di antara laki-laki, ingin punya entrok/BH yang mana zaman dulu barang mewah karena mahal, terus dia ingin punya sawah biar bisa memperkerjakan tetangganya khususnya para perempuannya biar bisa cari nafkah, dan lain sebagainya. Berbeda dengan anaknya Rahayu yang keblinger agama.
Bukunya penting untuk dibaca, fiksi sejarah yang membahas militerisme, kekejaman orde baru, perjuangan perempuan, kemiskinan, hingga agama.
Kutipan apik banyak sekali di buku ini, salah satunya mungkin ini:
“Aku juga membencinya. Benci atas kesabaran dan penerimaannya pada nasib. Benci atas ketidakberdayaannya mengubah hidupnya. Apakah Teja tak pernah bermimpi saat tidur?”
Review buku Harmonium karya Budi Darma. Bukunya berisi kumpulan esai tentang sastra. Total ada sepuluh esai, jujur mau mengulas buku ini deg-degan karena aku gak ada latar belakang sastra, cuma penggemar cerpen dan novel dari Budi Darma aja. Bukunya informatif, aku jadi tahu..