Bahasa perlu ditanamkan sejak dini lewat dua kebiasaan: membaca dan menulis.
Membaca membuat anak akrab dengan bahasa tulis. Menulis jurnal membuat anak berlatih mengamati hidupnya sendiri. Menulis fiksi membuat imajinasinya bekerja.
Kaidah penting, tetapi kebiasaan berbahasa jauh lebih mendasar.
https://t.co/20US7bwxUD
Komunikasi efektif itu bukan soal banyak bicara, melainkan membuat orang lain lebih mudah memahami.
Empat kuncinya:
1. Ringkas: Jangan bertele-tele.
2. Relevan: Pahami kebutuhan audiens.
3. Mudah dipahami: Hindari jargon.
4. Tepat sasaran: Jelaskan tujuan pesan.
Bicaralah bukan untuk terdengar pintar, melainkan agar orang lain tidak tersesat.
https://t.co/FICcjPlv7I
Gw mau ngomel agak panjang. Monggo dibaca.
Dalam supply-demand, ketika supply naik, harga jadi turun.
Hal yang sama terjadi pada IPK tinggi dan cum laude.
Kalau semua orang cum laude, maka cum laude berhenti jadi istimewa.
Ketika terlalu banyak lulusan berpredikat cum laude, nilai IPK sebagai sinyal kualitas jadi turun "marwah"-nya.
Gw pernah liat wisuda suatu kampus, rektornya dengan bangga mengumumkan rata-rata IPK adalah 3,65.
Peserta sidang wisuda tepuk tangan.
Gw bingung karena implikasinya jadi ada beberapa kemungkinan:
1. >50% mahasiswanya pintar sekali
2. Kurikulumnya super mudah
3. Dosen2nya mengamalkan hadits "Barangsiapa memudahkan urusan orang lain yang sedang kesulitan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat" di dunia perkuliahan alias Dosen Bonus
Fenomena ini ga langka, malah cukup aman disebut "jamak", yaitu: Fenomena "false signalling"
Semua orang tampak unggul di transkrip, tapi memble saat uji kompetensi di dunia nyata.
Sama halnya di level wajib belajar 12 Tahun. Mulai jarang gw dengar cerita anak tidak naik kelas. Tapi justru makin sering terdengar berita anak SMA tidak bisa perkalian dasar.
Balik lagi ke soal IPK.
Kalau terlalu banyak orang cum laude, predikat itu berhenti jadi istimewa. Nilai IPK sebagai sebuah indikator sinyal : disiplin, kualitas kognitif, dan pencapaian akademik, jadi turun nilainya.
Market akhirnya mencari sinyal lain yang relevan: portofolio, sertifikasi, prestasi, pengalaman, atau balik lagi dari mana kampus asalnya.
Gw gatau bagaimana cara mengakhiri omelan ini, masih panjang sebenernya. Dan gw pun enggak tau solusinya mulai dari mana. Tapi gw cuma mau bilang:
"Ketika sistem pendidikan berhenti menjadi juri yang jujur, Market menghukum dengan berhenti percaya"
[Omelan ini terinspirasi setelah baca tulisan Guru Besar UGM Eduardus Tandelilin di bawah ini]
Saya setuju, tapi tidak semua guru yg ada saat ini, melainkan guru yang cakap, seperti di Finlandia dan Australia guru2 umumnya lulusan dari perguruan tinggi terkemuka
Aku, dulu. SPP: 90 ribu/semester. Kost 75 ribu/tahun di Gondokusuman. Bus ekonomi Pkl - Smg Rp 1.500, Smg -Yogya: Rp 1.800. Sarapan (nasi 1/2, oseng, mendoan 1) = Rp 150. Honor naskah TTS Mekar Sari sekali muat Rp 8.000. Kertas HVS 70 grm di Toko Merah: 4 ribuan/rim.
SPP: 180 ribu/semester.
Jumlah SKS berdasarkan IP.
Kost 150 ribu/tahun di Blimbingsaei.
Nasi+telur+teh = 450 rupiah di warung sederhana
Nasi+tempe+tahu di bu darno: 150 rupiah.
Bis Aspada, kobutri : 150 rupiah