🚨 WATCH: Japan players bowed to their fans after the final whistle, thanking them for their support throughout the World Cup journey.
https://t.co/qb4gDpKKbi
The #legendary#Mazda 787B 🧡💚
The winner of 1991 24 Hours of #LeMans.
⛩️🇯🇵⛩️ It remains the 1st and only #Japanese car and the only rotary-powered vehicle to ever win the prestigious endurance race.
Piala Dunia 2006: Panggung Generasi Greatest of All Time
Piala Dunia 2006: Mungkin Turnamen dengan Kumpulan Pemain Terhebat yang Pernah Ada
Kalau ada yang bilang Piala Dunia 2006 adalah Piala Dunia paling "stacked" sepanjang sejarah, rasanya sulit untuk membantah.
Bayangkan satu turnamen yang mempertemukan tiga era sepak bola sekaligus.
Di satu sisi, ada para dewa yang sedang menari untuk terakhir kalinya.
Di sisi lain, ada para monster yang sedang berada di puncak performa.
Dan di belakang mereka, berdiri anak-anak muda yang nantinya akan menguasai sepak bola dunia selama hampir 20 tahun.
Semua hadir di Jerman 2006.
Ini adalah panggung terakhir Zinedine Zidane.
Sang maestro yang mengangkat Prancis ke final, mengacak-acak Brasil, lalu menutup kariernya dengan salah satu momen paling ikonik dalam sejarah sepak bola.
Di turnamen yang sama, Ronaldo Nazário datang sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia saat itu. Cafu mengejar rekor tampil di tiga final beruntun. Roberto Carlos memainkan turnamen terakhirnya. Luís Figo, David Beckham, Pavel Nedvěd, Oliver Kahn, Francesco Totti, Alessandro Del Piero, Cannavaro, Juan Pablo Sorín, Hernán Crespo, Hidetoshi Nakata, Henrik Larsson, Jan Koller, hingga Shunsuke Nakamura juga sedang menjalani bab terakhir mereka di panggung terbesar.
Satu era sedang mengucapkan selamat tinggal.
Namun para legenda itu belum benar-benar habis.
Mereka masih harus berhadapan dengan generasi yang sedang mencapai bentuk terbaiknya.
Buffon.
Pirlo.
Gattuso.
Ronaldinho—pemain terbaik dunia saat itu.
Kaká yang tinggal selangkah menjadi Ballon d'Or.
Thierry Henry.
Michael Ballack.
Miroslav Klose.
Juan Román Riquelme.
Andriy Shevchenko.
Steven Gerrard.
Frank Lampard.
Didier Drogba.
Michael Essien.
Iker Casillas.
Carles Puyol.
Xavi Hernández.
Rafael Márquez.
Park Ji-sung.
Zlatan Ibrahimović.
Mereka bukan sekadar pemain hebat.
Mereka adalah wajah sepak bola dunia pada pertengahan 2000-an.
Lalu, lihat daftar pemain mudanya.
Lionel Messi
Cristiano Ronaldo
Luka Modrić
baru mencicipi atmosfer Piala Dunia.
Andrés Iniesta, Cesc Fàbregas, Sergio Ramos, Fernando Torres, Philipp Lahm, Bastian Schweinsteiger, Lukas Podolski, Robin van Persie, Wesley Sneijder, Arjen Robben, Franck Ribéry, Javier Mascherano, Carlos Tévez, Daniele De Rossi, Andrea Barzagli, Guillermo Ochoa, Yaya Touré, Asamoah Gyan.
Saat itu mereka hanyalah "anak-anak".
Tidak ada yang menyangka sebagian besar nama itu akan menguasai Ballon d'Or, Liga Champions, Euro, Copa América, hingga Piala Dunia selama dua dekade berikutnya.
Coba pikirkan.
Di satu stadion, kamu bisa melihat Zidane mengatur tempo.
Di stadion lain, Ronaldinho sedang melakukan elastico.
Ronaldo Nazário masih berburu rekor gol.
Buffon menjaga gawang.
Cannavaro memimpin pertahanan.
Pirlo mengendalikan permainan.
Henry berlari di sisi kiri.
Riquelme menghipnotis lawan.
Lalu di bangku cadangan atau sebagai pemain muda, ada Messi, Cristiano Ronaldo, Iniesta, Ramos, Lahm, Schweinsteiger, Modrić, Robben, Van Persie, Sneijder, hingga Ribéry yang sedang menunggu giliran mengambil alih dunia.
Kapan lagi sejarah mempertemukan nama-nama seperti itu dalam satu turnamen?
Itulah mengapa Jerman 2006 terasa berbeda.
Bukan hanya karena Italia juara.
Bukan hanya karena sundulan Materazzi atau headbutt Zidane.
Melainkan karena di sanalah kita menyaksikan kematian satu era, puncak era berikutnya, dan kelahiran era Messi–Cristiano Ronaldo—semuanya terjadi dalam waktu empat minggu.
Mungkin tidak akan pernah ada Piala Dunia lain yang mampu mengumpulkan begitu banyak legenda masa lalu, pemain terbaik di masanya, dan calon legenda masa depan dalam satu panggung yang sama.
¡MÍSTICA VIKINGA!
🇳🇴 retumban los cuernos en la tribuna, Martin Ødegaard se adueña del bombo en la cancha y toda la selección rema junta con su gente para celebrar el pase histórico a los 16° de final. 🌊⚔️
omunión absoluta en su estado más puro. ¡Se vale soñar en grande con este equipo! ¿Hasta dónde crees que llegará Noruega en esta Copa del Mundo? ¡Déjamelo en los comentarios!
👇 @ererling @herrelandslaget
#Noruega #Odegaard #Vikingos #Mundial2026 #FestejoHistorico #ModoFutbol #VikingClap #Pasion #SorpresaMundialist