Tere Liye. JK Rowling. Ahmad Dhani. Nobuhiro Watsuki.
Mereka yang bikin aku punya prinsip: menyukai karya tanpa menyukai pembuatnya itu sah-sah saja.
Tapi prinsip ini punya batasnya.
Pertanyaannya bukan "boleh atau tidak", tapi sejauh mana kelakuan "problematik" seseorang masih bisa kita abaikan?
Karena ada perbedaan besar antara:
salah ngomong,
beda ideologi sama kita,
toxic di sosmed,
attitude buruk,
php-in orang / genit,
misoginis / sexist / homophobic,
rasis / intoleran,
plagiat,
manipulatif,
selingkuh,
korupsi / tipu-tipu,
KDRT / kekerasan fisik,
pelecehan seksual,
pedofilia,
sampai pembunuhan.
Semuanya memang bisa disebut "problematik". Tapi bobot moralnya jauh berbeda
Ketika seorang kreator sudah melewati batas, apalagi sampai ada korban, ada baiknya kita berhenti mengkonsumsi karyanya.
Kenapa?
Karena menikmati karya seseorang itu bukan tindakan yang netral.
Setiap pembelian dan konsumsi adalah bentuk dukungan, entah kita sadar atau tidak. Popularitas memberi kekuasaan. Dan di sisi lain, korban bisa semakin terluka ketika pelaku masih terus dipuja.
Ini terutama relevan kalau pelakunya masih hidup, masih dapat royalti, masih aktif berkarya, atau pakai fandom sebagai tameng dari kritik.
Tidak ada tempat bagi pelaku kejahatan untuk terus bersinar.
Tapi sebelum memutuskan untuk cancel total atau tetap konsumsi karyanya, sebaiknya kita pertimbangkan dulu:
Seberapa berat kesalahannya?
Apakah tuduhan sudah terbukti?
Apakah dia menyesal dan berubah?
Apakah konsumsi kita memberi keuntungan langsung ke dia?
Apakah karyanya sendiri mengandung propaganda yang berbahaya?
Apakah kita masih bisa mengkritik orangnya sambil tetap menikmati karyanya?
Jawabannya mungkin berbeda-beda untuk setiap orang.
Mungkin ada karya yang susah banget dilepas, karena pernah menemani masa paling berat dalam hidup, sudah terlanjur jadi bagian dari identitas, atau punya nilai emosional yang dalam.
Manusiawi kok, membuang semua keterikatan itu, tentunya tidaklah mudah.
Jadi, gapapa jika kita sanggupnya untuk bilang dalam hati:
"Karya ini memang berarti buat hidupku. Tapi pembuatnya tetaplah orang yang buruk."
@ANYWAYSDOLAN menghindari bad books secara total itu ironis. justru kemampuan berpikir kritis justru lahir dari berhadapan sama ide buruk. lu bilang jgn rapuh terhadap judgment tapi sistem good vs bad books sendiri dibangun dari ritual nge-judge. dasar snob intelek
π "kalau dulu saya di luar pemerintah, sekarang saya presidennya. tiap hari saya dapat laporan intel. saya ngertilah. saya udah tahu siapa yg biaya-biayai. pada saatnyalah kita tertibkan itu semua."