Sekarang aku kuliah semester 7 dan pacarku bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik di kotanya. Terima kasih pacarku, karena selalu percaya dan terus belajar. Selalu berusaha yang terbaik untukku dan masa depan kita.
Kisah ini di mulai dari 7 tahun lalu. 2019 tepatnya bulan maret tanggal 15. Aku masih SMP waktu itu, menjabat sebagai sekretaris OSIS. Siang itu sebelum pulang sekolah, guru pembina OSIS memberi selembaran kertas. Isinya pemberitahuan mengikuti "KKP OSIS se-Jawa Tengah 2019"
Karena aku selalu merasa semua laki-laki harus punya sifat yang bertebaran di sosial media. Dia yang awalnya minder, pemalu, bahkan no life (nolep). Aku bangga melihat dia yang sekarang. Seseorang yang lebih matang dan tidak close minded
Satu hal yang aku pelajari dari hubunganku sendiri. Kalau saat itu aku memilih menyerah, mungkin aku tidak bersamanya di versi terbaiknya sekarang. Dia yang lebih dominan, manly, dan bertanggung jawab. Mungkin juga aku tidak akan pernah menemukan orang yang tepat.
Sesederhana "aku mau kamu lebih dominan. Tolong atur." Setelah bilang itu, biarkan dia yang atur makan siang kalian atau rencana lainnya. Jangan protes makanannya gak enak atau kegiatannya gak seru. Cukup diam dan nikmati. Berikan apresiasi.
Media sosial mengajarkan bahwa laki-laki harus siap menjadi orang paling dominan. sampai istilah "cowo bingung" mulai masif digunakan. Tapi di balik itu, apakah kita sebagai perempuan pernah protes untuk setidaknya meminta hal itu?
Dia melakukannya murni karena dia belum tahu. Aku mencintainya, jadi aku tidak pernah kehabisan energi untuk memberi tahunya. Di sisi lain, dia selalu memikirkan nasihatku. Dia melihat sudut pandangku dan perlahan membenahinya.
Sampai sekarang 2026 ketika aku menulis cerita ini, aku masih bersamanya. Kalau dia melakukan kesalahan, aku protes saat itu juga. Memberitahu apa yang salah padanya. Aku jarang 'ngambek' dengan hal-hal itu. Aku sadar betul, dia tidak dengan sengaja melakukannya.
Sejak kejadian itu, dia benar-benar berubah. Dia membenahi semuanya meskipun terkadang aku tidak percaya. Dia terus meyakinkanku, bukan dengan perkataan, melainkan lewat perlakuan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Aku mulai menaruh kepercayaan padanya.
Di tahun ketiga itu kita dilanda banyak masalah, sampai puncaknya aku kecewa dan memutuskan untuk meninggalkannya. Dia menolak dan beberapa hari kemudian mengajak bersama lagi. Akhirnya kita balikan dan aku berjanji pada diriku "ini kesempatan terakhirnya"
Oh iya, karena kita beda kota, kita tidak selalu ketemu. Dia ke kotaku setiap weekend 2 atau 3 bulan sekali. Alasannya karena waktu itu kami gak punya banyak uang untuk terus bertemu. Dia punya motor beat wana merah yang sudah tua. Aku tidak pernah mengeluh atau protes.
Aku terlihat lebih mencintainya. Aku sering minta maaf, membujuk, dan hal lain yang seharusnya tidak aku lakukan. Waktu itu aku berpikir "Aku tunggu sampe capek deh. Mungkin dia masih bisa berubah."
Waktu terus berlalu hingga 3 tahun kami berpacaran. Tepatnya, tahun 2022.
Pernah iseng tanya cita-citanya apa, dia jawab Presiden. Konsisten sampai 3 kali.
Sampai akhirnya dia menceritakan seluruh kisah di hidupnya. Tentang masa kecilnya yang kurang bahagia, sama sepertiku. Sekarang aku tahu alasan mengapa dia punya sifat-sifat itu.
Dia orang yang lucu, santai, dan kalem. Awal hubungan aku menilai dia orang yang seperti itu. Tapi di balik itu, dia adalah orang yang pesimis, introvert, dan jalan hidupnya ditentukan arah angin. Dimana angin berhembus, dia ikut alias tidak ada tujuan pasti.
Aku ingin mengalah waktu itu, karena aku pikir sangat tidak sopan kalau menjalin hubungan dengan orang yang dekat dengan teman kita sendiri. Tapi dia menolak, katanya mau terus dekat denganku. Akhirnya, 5 April 2020 dia juga menyatakan perasaannya. Aku menerimanya
Bulan Maret 2020 tepat 1 tahun acara itu, aku baru tahu kalau dia pernah dekat dengan salah satu temanku yang juga ikut di acara itu. Lebih tepatnya, kami masih satu kabupaten. Hanya beda sekolah.
Hatiku sedikit sakit. Aku beranikan diri bertanya. Dia mengakui, iya.
B membalas storyku dengan candaan. Aku balas dan terus membalas. Sampai akhirnya aku yang saat itu masih kelas 9 SMP memutuskan untuk menyukainya. Mentalku yang memang sekeras baja mengungkapkan perasaan itu. Dia tidak membalas iya/tidak. Aku denial. Mungkin belum, pikirku
Karena dia absurd seperti yang aku bilang, dia suka post meme random. Dia juga suka membalas story whatsapp yang aku post dengan candaan. Sampai akhirnya tanggal 13 Januari 2020 ketika viralnya seorang kriminal KS di Inggris, Reynhard.
Sebut saja namanya B. Perkenalan kita singkat. Aku yang duluan memintanya menyimpan nomorku. "Save I dari SMP 1 ..." dia balas "Sv back B dari SMP 2..."
Oh, beda kota kita.
Kami saling berkenalan di grup itu, karena mungkin sebelumnya belum saling kenal. Saling melontarkan candaan dan nostalgia. Sampai akhir tahun sebelum wabah corona menyerang, aku berkenalan dengan salah satu laki-laki absurd yang akan menjadi pemeran utama di tulisan ini.
3 hari berlalu begitu cepat. Kami saling berpamitan dan berjanji akan bertemu lagi entah kapan. Sepulang dari sana, salah satu dari kami membentuk beberapa grup chat karena dalam 1 grup dibatasi hanya sekian ratus orang saja.