Itu tulisan marah-marah Pram yg dimuat di Majalah Pujangga Baru Februari tahun 1953. Sejauh yg saya temui, judul esai dari Pram yg paling ga ada adab ya ini, lolos sensor lagi. π€£
Ini cuplikan isinya dari langganan saya, belum sempat saya minta fotokan, sudah terlanjur dikirim.
From Hellenism to Islam
Cultural and Linguistic Change in the Roman Near East
ed. Hannah M. Cotton et al. Cambridge Univ Pr, 210
PDF π―
https://t.co/r6G1lZhet1
Narasumber bukan entitas yang statis. Mereka bisa berubah. Bisa menarik pernyataan. Bisa menyangkal juga. Dan perubahan itu tidak selalu berarti bahwa mereka sejak awal berbohong.
Ada banyak kemungkinan, bisa jadi
mengalami tekanan, mendapat ancaman hukum, mengalami intimidasi fisik atau digital, atau mungkin ada tawaran lain.
Karena itu, dalam jurnalisme atau dalam hal ini film dokumenter, perubahan sikap narasumber tidak otomatis dibaca sebagai bukti bahwa laporan sebelumnya salah, dan Papua baik-baik saja. Tetapi juga tidak boleh diabaikan begitu saja. Justru di situlah pentingnya verifikasi berlapis dan prinsip informed consent.
Narasumber adalah manusia yang berada dalam relasi kuasa. Semoga Mama Yasinta sehat selalu.
@scudder_9 Asli cringe banget.
Banyak orang ga sadar Bahasa Indonesia itu kurang cocok di rap karena jumlah suku katanya dominan lebih dari 1, kalimat jadi lebih panjang, kurang masuk ke ritmik cepat rap, maknanya telat sampe. Kalo pake kalimat pendek maknanya akan terlalu ringan.
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck itu kan isinya full ngeroasting orang Minang. Mulai dari kebiasaan omong besar, merasa paling unggul, paling beradat, paling agamis. Belum lagi ntar tulisan2nya AA Navis.
Ini method gw untuk stay sane being adult so far:
1. It is what it is nrimo ing pandum acceptance phase Gusti Allah mboten sare dewe wani iso rak iso kudu iso
ini method gw untuk stay sane being adult so far:
1. 1 bulan 1 buku (epub/borrow for free option)
2. 1 minggu 1 film
3. find new niche to explore & study about
4. party max 3x sebulan
5. ragewalk