Bayi berisik, balita rewel, nenek kakek yg jalannya lambat etc adalah dinamika wajar di ruang publik. Orang-orang yg nggak siap keluar rumah untuk menghadapi dinamika semacam itu dipersilakan gak usah keluar rumah sama sekali 👍
Waktu koas stase ipd dan bedah pernah ngedampingin bule2 exchange/elektif dari yurop, diajak ke poli mereka kaget ngeliat ruang tunggunya rame bgt dan list nomor antrian pasiennya sampe 100an per hari dihandle cuma sama 2-3 dokter, katanya di negaranya 1 hari poli max 15 px🙃
Bedanya Qatar dengan Saudi
Syekh Dr. Yusuf al-Qaradawi (الله يرحمه) menjelaskan sikapnya terhadap pangkalan militer AS di Qatar, bahwa dia telah mengingkari itu di depan publik, di mimbar dan semua itu diketahui oleh para pemimpin Qatar.
Dia mengatakan sikap tegasnya itu tidak membuat penguasa Qatar mengintimidasinya atau menangkapnya atau memenjarakannya. Padahal Syekh Dr. Yusuf al-Qaradawi hidup 'menumpang' di Qatar dan selama ini mendapat perlakuan yang baik dan penghormatan dari penguasa Qatar. (Kalau di Saudi, ulama yang berani menyuarakan berlawanan dengan penguasa akan ditangkap dan dipenjara, sudah banyak yang mengalaminya)
Menurut Syekh Yusuf al-Qaradhawi seorang alim harus menyampaikan kebenaran tak peduli pemerintah suka maupun tidak, tapi itu semua bukanlah berarti memusuhi pemerintah.
Berikut adalah transkrip lengkap dari video wawancara Syekh Yusuf al-Qaradhawi tersebut ke dalam Bahasa Indonesia:
Pewawancara:
"Syekh Qardhawi, sebenarnya setiap kali nama Anda disebut, biasanya topik pangkalan militer Al-Udeid yang merupakan pusat komando militer Amerika di Qatar, tempat Anda tinggal sekarang, selalu diungkit. Apa komentar Anda mengenai keberadaan pangkalan ini? Saya ingin menanyakan hal ini langsung kepada Anda."
Syekh Yusuf al-Qaradhawi:
"Saya menolak keberadaan pangkalan tersebut di Qatar. Saya juga menolak adanya kantor perwakilan Israel di Qatar. Saya telah menyatakan penolakan tersebut secara terbuka. Rakyat Qatar tahu hal ini, dan di atas segalanya, Emir Qatar pun mengetahui posisi saya. Saya tidak berbasa-basi dalam masalah ini."
"Bahkan ketika Shimon Peres (mantan Presiden Israel) datang ke Qatar setelah pembantaian Qana, saya berkhutbah dan mengatakan bahwa mereka yang berjabat tangan dengan Peres harus mencuci tangan mereka tujuh kali, salah satunya dengan tanah. Saya sampaikan itu secara terang-terangan."
Pewawancara:
"Lalu, apa reaksi dari pihak otoritas resmi di negara tempat Anda tinggal saat ini terkait kecaman Anda terhadap kunjungan tersebut dan keberadaan pangkalan itu? Apakah Anda mendengar tanggapan balik dari mereka?"
Syekh Yusuf al-Qaradhawi:
"Wallahi, yang terpenting bagi saya adalah saya telah menyampaikan pendapat saya secara terbuka, dari atas mimbar, disiarkan langsung di televisi, dan disiarkan ke seluruh dunia melalui saluran televisi Qatar. Saya telah mengatakannya, namun mereka tidak menangkap saya. Apakah Anda ingin mereka menangkap saya setelah itu?"
Pewawancara:
"Tidak, saya hanya bertanya Syekh Qaradhawi, apa reaksi mereka? Saya menanyakan ini sebagai sebuah informasi."
Syekh Yusuf al-Qaradhawi:
"Mereka mengetahui posisi saya dan mereka menghargainya. Yang terpenting bagi saya adalah menyatakan pendapat saya. Saya telah menyatakan pendapat dalam banyak hal. Tugas saya bukan untuk selalu setuju dengan penguasa."
"Saya mengatakan apa yang saya lihat benar, apakah itu sesuai atau bertentangan dengan mereka. Saya tulus dalam hal ini. Ini bukan berarti saya memusuhi atau sangat setia buta. Ini adalah pendapat seorang ulama Muslim yang wajib mengatakan apa yang ia yakini sebagai kebenaran. Sebagaimana firman Allah: (Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada siapa pun (selain kepada Allah)…"
Kōzō Okamoto was a Japanese revolutionary who joined the Japanese Red Army and fought against the Israeli occupation in the 1970's.
In 1972, he took part in the Lod Airport operation in Israel, in coordination with the PFLP – General Command. He was captured and sentenced to life imprisonment.
In 1985, he was released in a prisoner exchange and moved to Lebanon, where he was granted political asylum. Protected by Palestinian factions, he spent the rest of his life as a symbol of international solidarity with Palestine.
He once declared: “I gave my youth to the Palestinian cause. As long as there is oppression, resistance is not only a right, it is a duty.”
anak-anak di gaza tidak memiliki shelter.
dan kalian bom tenda-tenda, tanpa peringatan.
jangan tanya anak mana yang dipilih, karena bayipun kalian sundut pakai rokok.
zionis bengis pelaku genosida.
berkeraklah di neraka.
Makanya gw bilang, ITB itu melting pot beneran, semua jenis pinter dari kaya, menengah, ampe miskin.
Yg kaya jadi napak tanah, yg miskin/menengah pun terbuka khasanahnya di dunia ga kesentuh.
Semua, insyaAllah akan bergerak menuju kehidupan yg menjadi lebih baik
Paham bgt rasanya cemas anak rewel di pesawat, tapi sbg dokter anak, saya harus ingatkan: Jangan pernah kasih obat penenang (sedasi/antihistamin) ke anak sehat cuma biar tidur di kabin.
Di ketinggian, tekanan udara rendah. Obat penenang bisa menekan dorongan napas anak (depresi pernapasan). Bukannya tenang, anak justru berisiko kekurangan oksigen (hipoksia).
Plus sebenarnya ada alasan kenapa anak kadang lebih rewel di pesawat. Hal ini ada hubungannya dgn ketidaknyamanan di telinga krn perubahan tekanan udara yg mendadak. Justru dengan menangis, saluran tuba akan terbuka sehingga tekanan udara di dalam telinga dan lingkungan menjadi sama.
Stay safe teman2
The U.S. backed Israel's Gaza blockade, cutting aid under "security" claims, yet condemns Iran for defending itself in Strait of Hormuz.
Double standard: Israel's crimes are OK while Iran's defense against aggressors is condemned. International law is not tool of convenience.
BREAKING NEWS !!! 🇮🇷🇮🇷🇰🇼
Secara resmi, Ayatullah Mojtaba Ali Khameini menyatakan bahwa Kami akan menerima negosiasi dan gencatan senjata dengan tiga syarat.
Pertama,
Melucuti senjata nuklir Israel. Kondisi
kedua:
Mengakui Palestina sebagai negara merdeka dan membebaskan semua tanahnya.
ketiga:
Amerika Serikat menandatangani komitmen bahwa mereka tidak akan ikut campur dalam urusan negara regional mana pun mulai sekarang.
Padahal para sejarawan sepakat bahwa kalo bukan karena Islam, maka nggak ada Indonesia. Anehnya ada orang menikmati hidup di Indonesia tapi berkoar-koar benci Islam. Umat Muslim gak boleh ngapa-ngapain dengan alasan pluralisme, tapi yang benci Islam bebas ngomong apa aja.
FYI, si cewek ini diaspora Iran yang senang ketika negaranya dibom sama US-Israel. Dia bahkan minta agar negaranya dibom terus sampai rezim mullah hancur.
Tahu-tahunya, sepupunya malah jadi korban pengeboman brutal US-Israel.
Bukannya menyalahkan US-Israel, dia masih saja nyalahin rezim Iran dan IRGC.
Dia lupa, pengeboman itu ya hasil dari dukungan dia sendiri.
Ga ngerti lagi sih gw. Sebagian diaspora Iran udah terlalu benci sama rezim mullah.
1) Mau anak kami sembuh dari batuk, makanya minum obat, beli di toko, kan udah ada BPOM yang ngawasin, udah aman lah ya. Tapi kena gagal ginjal, mesti cuci darah terus seumur hidup. Tinggal nama.
2) Mau ngilangin stres abis belajar bareng temen, jajan di Indomaret, duduk santai di kursi. Pegang pintu kesetrum gara-gara grounding listrik gak bener. Pulang tinggal nama.
3) Mau pulang kerja, abis lembur, pulang telat tengah malam, Alhamdulillah target tercapai. Di jalanan ketemu begal, geng motor, atau klitih tergantung daerah. Mereka bawa senjata tajam. Tinggal nama.
4) Mau liat klub sepakbola lokal, bareng anak buat ngajarin mereka sportivitas, sambil ngilangin stres. Di stadion ada keributan, aparat gak bisa deeskalasi, semprot gas air mata, semua orang kesulitan cari pintu keluar. Tinggal nama.
5) Mau beli martabak tengah malem karena laper. Ketemu polisi mabuk bawa senjata api. Ketembak. Udah gitu dibilang tawuran pula. Tinggal nama.
6) Mau jalan-jalan darmawisata bareng guru dan sekolah, sewa bis, aman lah ya mestinya udah memenuhi segala syarat makanya perusahaannya bisa nyewain. Ternyata bisnya gak dimaintenance dengan baik. Rem blong. Pulang tinggal nama.
7) Mau kerja di pabrik. Ambil kerja berbahaya di tempat smelter nikel. Pabrik kaya gini harusnya diawasin bener lah ya biar ada mitigasi. Yakin Insya Allah aman. Pabriknya meledak. Tinggal nama.
8) Mau berangkat kerja. Di depan ada truk bawa barang. Banyak jembatan timbang di sana sini, mestinya gak akan over dimensi dan overload lah ya. Gak akan lolos tuh dari jembatan timbang. Truknya rem blong karena ODOL, ambruk, ketimpa. Tinggal nama.
9) Mau belajar lebih tinggi, jadi dokter spesialis. Di kampus kena bully. Depresi. Udah gak kuat lagi. Tinggal nama.
10) Jadi PNS ngurus kerjaan Pemda. Dipanggil pengadilan buat jadi saksi ahli korupsi. Ilang. Pas ketemu kepala ilang. Tinggal nama.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, ada dokter internship meninggal di tempatnya bertugas karena campak... kalau ini bukan wake up call supaya Menkes serius mendata, menelusur, mengejar imunisasi dan menindak antivax sih sudah tak tahu lagi ya bicara apa. Lansia bisa kena.
⚡️🇬🇧BREAKING:
Dr. Rahma Al-Adwan [@doctor_rahmeh] was arrested again today by London’s Met Police over social media posts for the fifth time.
Seven officers handcuffed and detained her, transported her in a van, and took her to Charing Cross Police Station over posts criticizing Israel and “Jewish supremacy” during the Gaza genocide.
Tanpa menghilangkan rasa simpatik kepada hewan-hewan ini, saya selalu penasaran kenapa kisah sedih hewan-hewan lebih mudah viral ketimbang soal anak-anak yang jadi korban di medan perang, seperti di Palestina.
Ada Hind Rajab (5 tahun), ia terperangkap dan tewas dalam mobil di Gaza setelah ditembak tentara Israel 29 Januari 2024. Yang terbaru ada bayi satu tahun disulut rokok dan ditusuk paku kakinya untuk memaksa ayahnya memangku atas tuduhan tentara israel.
“Kuning telur bikin kolesterol naik?”
Saya sering menemukan pasien yang makan telur… tapi kuningnya dibuang.
Alasannya klasik: takut kolesterol naik.
Padahal justru di situlah masalahnya.
Selama bertahun-tahun, kuning telur dianggap sebagai “musuh jantung”. Tapi ilmu kedokteran terus berkembang. Banyak penelitian terbaru menunjukkan: pada orang sehat, telur bukanlah penyebab utama kolesterol tinggi.
Masalah sebenarnya sering datang dari pola hidup: kurang aktivitas, konsumsi gula berlebih, dan makanan ultra processed.
Telur hanya ikut “disalahkan”.
Sebelum kalian buang kuning telur lagi besok pagi, ada baiknya pahami dulu faktanya.