matilah kita kalau salah pilih pasangan 🥲
bayangin pulang kerja udh capek, masih harus masak, cuci piring, cuci baju, beresin rumah, sementara pasangan tinggal pulang, makan, trs istirahat.
makanya ini reminder jg buat aku sendiri, kalau nanti pilih pasangan, lihat juga how he handles responsibility. punya inisiatif atau harus selalu disuruh? peka sama keadaan sekitar atau harus selalu dikasih tau? bisa lihat pekerjaan rumah sebagai tanggung jawab bersama atau masih menganggap itu “urusan perempuan”?
choose someone who knows how to carry his own weight, sebelum akhirnya kamu yang carry everything.
Ternyata ada penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang memilih single, tidak menikah, dan tidak mau memiliki hubungan romantis itu cenderung menjadi target stereotip negatif dan diskriminasi.
Stereotip negatif itu antara lain kurang bahagia, kurang sukses, kurang dewasa, atau “cacat” secara pribadi.
Penelitian juga menunjukkan bahwa tekanan sosial berlebihan untuk menikah dapat berdampak negatif pada kesehatan mental, seperti stres, kecemasan, dan penurunan kesejahteraan.
Tapi yang menarik adalah, orang yang memilih single secara sukarela (voluntary singlehood) malah punya kepuasan hidup yang tinggi jika memang pilihan itu sesuai dengan nilai dan tujuan pribadi mereka.
Semoga bermanfaat!
Sumber:
-“Cat Ladies” and “Mama’s Boys”: A Mixed-Methods Analysis of the Gendered Discrimination and Stereotypes of Single Women and Single Men
-Singleness, Religiosity, and the Implications for Counselors: The Indonesian Case
KETIKA NEGARA BARU BERGERAK SETELAH RAKYAT SUDAH KEHABISAN NAFAS !!!
29 Juni 2026.
Gedung DPR ramai.
Para pejabat berdatangan, jas rapi, mikrofon siap.
Konferensi pers digelar.
Pernyataan demi pernyataan meluncur.
Dan di luar sana, rakyat masih menunggu sesuatu yang benar-benar terasa di kantong mereka.
Pertanyaannya bukan apa yang diumumkan hari ini. Pertanyaannya adalah: kenapa baru sekarang?
Pejabat di konpers ini kompak menyebut ketidakpastian global sebagai biang kerok.
Harga minyak naik, rupiah melemah, inflasi merayap.
Narasi yang terdengar familiar, bahkan terlalu familiar.
Karena kalimat yang sama sudah diulang-ulang selama bertahun-tahun, sementara kondisi di lapangan tidak juga membaik.
Rupiah melemah lebih dalam dari negara-negara tetangga.
Bukan lebih ringan, lebih dalam. Artinya ada yang salah bukan hanya di luar, tapi juga di dalam. Tapi soal itu, tidak banyak yang berani bicara hari ini di ruangan itu.
GAS INDUSTRI TURUN.
TAPI KENAPA HARUS MENUNGGU PHK MENGANCAM DULU?
Ini yang disebut kabar baik hari ini. Harga gas LNG industri dipangkas dari USD 20-23 menjadi USD 13 per MMBTU. Industri keramik, tekstil, manufaktur boleh sedikit lega.
Harga itu sudah mencekik industri berbulan-bulan. Pabrik sudah merugi. Sebagian sudah memangkas produksi. Serikat pekerja sudah berteriak selama 10 hari sebelum akhirnya diundang rapat. Realisasi pasokan gas ke industri dari PGN bahkan hanya 47,5% sepanjang Januari-Mei 2026. Hampir separuhnya tidak terpenuhi.
Jadi pertanyaannya sederhana: kenapa pemerintah menunggu sampai ancaman PHK massal benar-benar di depan mata baru bertindak?
Di mana antisipasi?
Di mana early warning?
Ini bukan kebijakan proaktif, ini pemadam kebakaran.
BI RATE NAIK 100 BPS. KABAR BAIK UNTUK SIAPA?
Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin dalam satu bulan menjadi 5,75%. Langkah ini disebut berhasil menarik modal asing masuk ke SBN dan SRBI.
Tapi di sisi lain, suku bunga tinggi artinya kredit makin mahal. UMKM yang sudah megap-megap kini harus membayar bunga lebih besar. Cicilan rumah naik. Biaya pinjaman usaha membengkak. Modal asing memang masuk, tapi apakah itu dirasakan oleh pedagang kaki lima, pengusaha kecil, atau buruh harian? Atau hanya dirasakan oleh mereka yang bermain di pasar keuangan?
Stabilitas nilai tukar memang penting. Tapi stabilitas di atas kertas tidak selalu berarti stabilitas di meja makan rakyat.
APBN DISEBUT SEHAT. TAPI RAKYAT TIDAK SEDANG MEMBAIK
Angka makro yang bagus tidak selalu mencerminkan kondisi mikro yang sesungguhnya. Pertumbuhan ekonomi yang terlihat di atas kertas bisa saja sedang berjalan di atas penderitaan yang tidak terlihat di statistik.
Rp381 TRILIUN DISIAGAKAN. TAPI LIKUIDITAS BARU KERING SETELAH PEMERINTAH SENDIRI YANG MENARIKNYA
Ini bagian yang perlu dicatat baik-baik. Dana Rp281 triliun yang sekarang dikembalikan ke perbankan itu sebelumnya ditarik oleh Kemenkeu sendiri pada Juni 2026. Lalu perbankan menjerit kekurangan likuiditas. Lalu pemerintah panik dan mengembalikannya. Ditambah dana siaga Rp100 triliun sebagai tameng.
Artinya, krisis likuiditas perbankan ini sebagian adalah krisis buatan sendiri. Tangan kanan menarik, tangan kiri mengembalikan, lalu keduanya naik ke podium dan menyebut ini sebagai langkah strategis.
Tidak ada yang bicara soal daya beli yang terus tergerus.
Tidak ada yang bicara soal gelombang PHK yang sudah terjadi, bukan hanya yang mengancam. Tidak ada yang bicara soal harga bahan pokok yang tidak ikut turun meski pejabat bilang inflasi terkendali.
Tidak ada yang bicara soal kepercayaan investor yang sudah lama goyah bukan karena faktor global semata, tapi karena ketidakpastian kebijakan di dalam negeri sendiri.
Yang ada hanya deretan angka yang terdengar meyakinkan di hadapan kamera, sementara di luar gedung DPR, orang masih bertanya-tanya kapan beratnya hidup ini benar-benar berkurang.
Konpers selesai. Para pejabat kembali ke mobil dinas masing-masing. Dan rakyat kembali ke realita !!!
@yappingfess Tell me. Is it normal for us, girls, ketika pacaran, berperilaku kek pengemis gini dengan banyak mau serta minta diprovide ini itu, padahal BARU PACARAN???
Standar dan pola pikir kek gini really pissed me off. Cant you provide yourself, sampe harus ngemis ke laki yang BELUM SAH?
Kalo case saya kebalikannya.
Pas pacaran suami ngerokok sampe tahun ketiga pernikahan.
Tapi saya punya perjanjian dg suami yaitu saya blm mau punya anak, kalo dia blm berhenti merokok.
Jadi tiap kali ibu mertua saya nanyain “kapan punya anak?”, saya guyonin santai “tunggu anak ibu berhenti merokok” atau saya balik nanya “ya kapan anak ibu berhenti merokok?”😅 (wkwk maap emg mantu agak laen)
Jalan tahun keempat penikahan (tahun 2025), bergiliran ketiga bapak2 saya meninggal:
- Bapak Kandung saya meninggal krn penyakit jantung di Jan 2025.
- Bapak Mertua meninggal kena Kanker Colon (metastase ke Paru) di Jun 2025 (baru di-diagnosa 1 bulan terakhir sblm meninggal, udh stadium akhir dan akhirnya ga ketolong).
- Bapak Tiri saya meninggal kena Kanker Hati (metastase ke Otak) di Nov 2025 (ndilalah casenya mirip juga dg Bapak Mertua, baru di-diagnosa 1 bulan terakhir sblm meninggal, udh stadium akhir dan akhirnya ga ketolong).
2/3 bapak saya: bapak mertua dan bapak tiri saya perokok berat. Sedangkan bapak kandung saya gatau deh perokok apa bkn soalnya gapernah tinggal ama beliau.
Sejak Jun 2025, setelah bapak mertua meninggal, suami saya berhenti merokok. Full. Gapake dicicil-cicil. Dia terpukul bgt setelah rawat bapaknya yg kena kanker di sisa akhir hidupnya.
Kemudian alhamdulillah qadarullah setelah suami berhenti merokok, akhir bulan Agustus 2025 testpack garis dua. Emg omongan adalah doa. Dulu tiap kali ibu mertua tanya “kapan mau punya anak?” selalu jawab “tunggu mas berhenti merokok” eh skrg beneran pas udah berhenti merokok punya anaknya🥹
Memang bener kata dok @tirta_cipeng orang berhenti merokok itu harus dari motivasi / kesadaran diri sendiri, gabisa diingetin org lain. Walaupun cara berhenti merokoknya harus lewat contoh yg agak sedih, lewat org2 terdekat yg meninggal. Tapi alhamdulillah dg cara itu akhirnya suamiku sadar.
PINTU KA'BAH DI PERAYAAN IMLEK.
Dua orang Asisten Rumah Tangga (ART) tak kuasa menahan tangis saat majikan mereka menyerahkan sebuah angpau sebagai tanda terima kasih.
Mudah saja niteni-nya, kalau pagi-pagi sudah hujan dan deras bukan gerimis, itu artinya hujan yang terjadi berasal dari laut bukan darat. Sebab hujan di darat baru terjadi setelah jam 12 siang. Jadi mesti curiga, ada apa di laut kok bisa kirim hujan ke darat? Lalu cek: https://t.co/HblI0sVskL
Menstruasi tiap bulan, kehamilan beberapa kali, lalu diakhiri menopause.
Sementara kita laki-laki, secara biologi, ya hidup lurus-lurus aja.
Ayo kita sadari sebentar.
Perempuan itu setiap bulan berhadapan dengan biologinya sendiri.
Dengan nyeri datang rutin sekali.
Dengan emosi naik turun tanpa diingini.
Dengan darah yang keluar, tanpa permisi.
Lalu di satu fase hidup, perempuan mengandung.
Menumbuhkan manusia hidup dalam dirinya.
Membagi nutrisi tubuhnya, energinya, tidurnya, napasnya.
Rahim membesar puluhan kali lipat. Organ-organ perutnya bergeser. Trus hormonnya loncat-loncat menari tanpa henti.
Dan ketika semua itu selesai, di dekade ke 5 tubuh berkata,
Haha belum selesai.
Tiba-tiba Menopause datang.
Badan rasa jadi tungku panas, lelah, gelisah, tubuh terasa asing, tapi tetap harus menjalani semua fungsi dan perannya sebagai Ibu.
Sementara biologi kita laki-laki?
Bangun tidur.
Tarik napas.
Minum air.
Kerja seharian.
Lalu merasa wah hari ini produktif sekali.
Kadang kita demam tinggi sedikit saja,
Nada bicara langsung melemah.
Rasanya ingin nulis pidato perpisahan
Setelah memahami ini, aku sering bertanya dalam hati, bagaimana bisa perempuan setangguh ini.
Bayangkan kita laki-laki yang mengalami menstruasi.
Mungkin sebulan sekali kantor akan tutup.
Grup WhatsApp penuh keluhan.
Rumah sakit penuh drama.
Satu kram kecil, sudah minta dipijat se-RT.
Kehamilan?
Laki-laki lapar satu jam saja sudah gelisah.
Jadi kalau hari ini kita melihat perempuan tetap tersenyum,
tetap bekerja,
tetap mengurus keluarga,
tetap peduli orang lain,
Kita menyadari kekuatan versi berbeda.
Dan kita, para laki-laki,
Sudah selayaknya lebih menghargai dan menyayanginya. 🩷
Seorang siswa SMP Negeri 1 Surabaya, Harley Fatahillah Yodhaloka Sunoto (13), menanam puluhan ribu mangrove demi mengantisipasi kerusakan pesisir Kota Pahlawan.
Harley berhasil membudidayakan 18.200 mangrove dalam gerakan bernama "Mangrove Warrior".
Even with a ceasefire, nothing has changed. With harsh winter conditions Palestinians need us now more than ever.
100% net profits of fishnet and loud fruit will go to a Palestinian charity.
100% net profits astra cross will be donated to 2819 church
https://t.co/KGCESvLuNZ (NA)
Memang sulit dan tidak mudah. Tapi sebelum duduk di ruang guru, melewati gerbang sekolah, atau membuka buku dan laptop, kita sebagai guru harus menetapkan hati bahwa, seandainya di luar sana adalah tempat paling tidak aman bagi para siswa kita, kita tekadkan bahwa sekolah adalah tempat paling aman bagi mereka. Tidak ada ruang untuk perundungan.
Semua warga sekolah, termasuk guru dan penjaga kantin sekalipun harus memiliki kepekaan terhadap segala tindakan mengarah pada kekerasan dan perundungan. Kita tidak boleh pura-pura tidak melihat.
"kalian lagi apa?"
"loh kok teriak-teriak"
"hei, kok dorong-dorongan?"
Reaksi cepat dari warga sekolah pada secuil potensi kekerasan dan Bullying bisa menyelamatkan masa depan seorang anak manusia yang dikirim ke sekolah oleh orang tuanya, bukan dengan tujuan membawa luka ke rumah dan mengakhiri segalanya.
Semua anak layak diberi kesempatan untuk berprestasi dan kesempatan untuk melanjutkan hidupnya.
Bullying dan kekerasan dalam sekolah tidak bisa dimaklumi dan dinormalisasi.