walaupun enjoy being single tapi ada aja moment keinget beberapa kali hubungan ngga worth dan ngeliat temen punya pasangan wwuuuw when yh aku juga mau. tapi jadi mempertanyakan kelayakan diri ku sendiri. "aku kurang apa ya?" "kenapa ya ngga ada yang suka sama aku" and this book..
pernah ada di titik “ini gak bakal bisa dilupain.” rasanya terlalu dalam, terlalu lama. tapi ternyata itu cuma fase, and i'm done living there.
gak ada yang benar-benar stuck selamanya. because time heals, even when it's slow. yang dulu bikin sesak, sekarang cuma jadi bagian dari cerita. walaupun jalannya gak gampang. ada hari baik, ada hari yang bikin balik lagi ke awal. kadang inget tanpa alasan, kadang ngerasa sendiri banget.
no replacement, no distraction. just me and the process. and it was hard, but i did it, i still made it through.
WOIII UPDATE!!!
DIA (IYA YG WAKTU ITU) ada kemajuan dong 😭😭😭😭
Kemarin pagi pagi buta gue terbangun karna ada notif bernama kan dia, ga ekspek apapun, dan kita hari ini move WA 😭
@Desssyrosse berdamai dgn sebuah kesalahan adl sebuah bentuk kebodohan, terlalu sibuk menahan diri demi citra yg di inginkan oleh sekitar adl bentuk kemunafikan, lebih baik berjalan sendiri dgn ideologi drpd bergumul dgn kepalsuan.
Hidup cuma sekali, bukan untuk jd badut bagi org lain.
Racun Puan
★ 5
best read bulan ini ternyata jatuh kepada buku tipis ini. aku nggak bisa komentar panjang. setiap narasinya sederhana. tapi di balik kesederhanaan itu, tetap ada racun yang menebar ke mana-mana.
Gue jadi banyak merenung dan mempertanyakan, sebenarnya “sisi keibuan” itu wajib kah dimiliki perempuan? Apakah jika tidak memilikinya, ia menjadi ‘cacat’ dan bersalah?
Perempuan dibebankan begitu banyak, diperah begitu parah, dan saat ia telah hancur pun, mengapa ttp berdosa?