Hafalin 5 aturan ini untuk debat lawan HR :
1. Perusahaan WAJIB bayar kompensasi PKWT saat kontrak berakhir atau diperpanjang.
Pasal 15 PP 35 Tahun 2021✅
2. Sudah kerja 1 bulan atau lebih = berhak THR (penuh atau proporsional).
Pasal 2 Permenaker 6 Tahun 2016✅
3. Kalo PKWT diputus sepihak sebelum waktunya, perusahaan wajib bayar ganti rugi.
Pasal 62 UU 13 Tahun 2003✅
4. Sakit dengan surat dokter, gaji tetap dibayar penuh ga boleh di potong.
Pasal 93 UU 13 Tahun 2003✅
5. Perusahaan dilarang PHK pekerja yang sakit menurut dokter selama belum melewati 12 bulan.
Pasal 153 UU 6 Tahun 2023✅
SAVE AJA DULU SIAPA TAU BUTUH JANGAN LUPA SHARE BIAR PEKERJA LAIN AWARE 🚩
Btw, ternyata banyak orang yang clueless tentang berita sama sekali.
Ada loh yang gak tau kalau Nadiem divonis kemarin.
Ada loh yang gak tau kalau mahasiswa demo MBG itu karena pemborosan anggaran 1.2 triliun per hari.
Ada loh yang gak tau kalau Dadan ditangkap kejaksaan karena korupsi BGN.
Gimana caranya biar orang-orang tuh ngikutin, ngerti konteks, sampai tau apa yang sebenarnya terjadi itu susah.
Apa lagi di grassroot. Yang di pikirannya hari ini makan apa dan besok makan apa.
Semua itu abstrak buat mereka.
Gue mau nampol kalian pakai kenyataan.
Dan gue jamin, kalian belum siap dihantam realita ini.
Apa yang Fatimah Azzahra lakuin baru-baru ini di TV nasional, dan wakil BEM yg dulu.
Gue cap sebagai:
Entertainment Politik.
Kritik yang seharusnya tajam, malah berakhir cuma jadi HIBURAN.
Jadi bahan trending semalam, panen impression dan engagement di Twitter, lalu besoknya orang lupa dan lanjut hidup seperti nggak ada apa-apa.
Kenapa bisa gitu? Gue bahas di sini.
Baru beres nonton video ini di yt.
Dan saya tersadarkan kalo menjamurnya org yg jualan seblak, cilok, gorengan dan pedagang olahan tepung lainnya di jalanan bukanlah tanda kebangkitan ekonomi rakyat, tpi sinyal keputusasaan (necessity entrepreneurship) untuk menutupi status pengangguran.
Setidaknya ada 6 poin yg saya dapati :
• Jebakan low barrier to entry: Bisnis olahan tepung dipilih cuma krn modalnya murah dan gk butuh keahlian khusus.
Dampaknya, terjadi ledakan keseragaman yg memicu kanibalisme ekonomi (sesama pedagang kecil saling mematikan di radius beberapa meter saja)
• Romantisasi penderitaan oleh negara: Narasi "UMKM Pahlawan Ekonomi" dikritik sebagai alat politik agar negara bisa lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja formal dan jaring pengaman sosial.
• Paradoks data pengangguran: Angka pengangguran resmi terlihat turun, tpi pekerja sektor informal melonjak smpe 60%. Ini adalah fenomena pengangguran terselubung, tercatat bekerja, tapi pendapatan minim dan gk menentu.
• Perang Harga vs Hancurnya Daya Beli: Di tengah inflasi dan turunnya kasta kelas menengah, merek bukan lagi faktor penting. Pedagang terpaksa memotong margin keuntungan demi mempertahankan konsumen yg sensitif harga.
• Ironi "Negara Tepung" yg 100% Impor: Indonesia menopang jutaan pedagang kecil dari komoditas yg gak bisa tumbuh di tanah sendiri. Ketergantungan impor gandum yg mutlak membuat nasib pedagang cilok di jalanan sangat rentan terhadap konflik geopolitik dunia dan kurs Dolar.
• Model bisnis ini udah di titik jenuh. Para pedagang seperti berjalan di tempat, bekerja keras 12 jam sehari menghirup asap jalanan, tetapi posisi finansialnya gk bergeser maju sama sekali.
Source : https://t.co/YnzpIZpO3L
@inspladusseng@BBCIndonesia Jujur aja gw geram liat ketikan anda ini kak, knp enggak ketiknya "Mangsa dan makan aja sampai jadi tulang" kenapa harus cipok. Cipok kan cuma dicium, meski gw ngerti ini bhs alus hyperbola, tapi gw geram.
@mfsa118 Kakak di Malaysia, tolong sampaikan kepada masyarakat Malaysia, inilah yang terjadi ketika demokrasi diberlakukan kepada suatu bangsa yang kebanyakan masyarakatnya memiliki taraf ekonomi dan taraf pendidikan yang rendah.
Ada yang ngespill surat pemecatan wowo dari TNI.
Salah satu alasannya:
"sering ke Luar Negeri tanpa ijin dari Kasab (Kepala Staf Angkatan Bersenjata) ataupun Pangab (Panglima Angkatan Bersenjata)"
Ohh pantes moment sih ini haha
Gambar di bawah ini menunjukkan bagaimana Pulau Gebe hancur di tangan perusahaan milik Sherly Tjoanda.
Orang yang kekayaannya berasal dari penghancuran alam tidak layak disanjung dan dijunjung tinggi. Karena suatu hari nanti, halaman rumah Anda sendiri bisa tergusur jika orang seperti ini mendapatkan jabatan yang lebih tinggi.