ᅠ
ᅠ
Namun nasib baik tidak berpihak padanya kali ini. Kakaknya yang lebih dulu 𝘯𝘨𝘢𝘤𝘪𝘳 tanpa suara, ternyata turut membawa potongan martabak favorit-nya ikut bersama.
"Si anjir... BALIK KE SINI LU RHAUMA!!" teriak Rhasya menggema ke seluruh rumah.
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
Rhasya kemudian kembali duduk di tempatnya semula setelah menaruh piring di atas meja.
"Nih," gelas raksasa itu dia bawa ke hadapan wajah @NoktahKahwa.
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
Satu piring kecil diletakkan pada meja. Beberapa potong martabak yang sudah dia periksa potongan pisangnya pun ditaruh di atas sana.
Sisa martabak dia simpan di meja makan, baru setelah itu dia mengisi gelas besar yang biasa kakaknya bawa menuju kamar.
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
Jujur, remot kontrol itu hampir mendarat di dahi Rhauma, kalau saja indra pencium Rhasya tidak dengan segera mendapati bau manis dari plastik yang @NoktahKahwa bawa.
"Bikin kaget aja.."
ᅠ
ᅠ
@NoktahKahwa ᅠ
ᅠ
Tangan dan matanya sibuk bekerja sama mencari tontonan yang akan menemaninya menghabiskan martabak— kalau kakaknya benar-benar membelikannya.
Sampai dia dengar sayup-sayup suara memanggil namanya dari arah belakang.
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
Sebenarnya Rhasya tidak pernah benar-benar serius menanggapi pesan-pesan dari kakaknya itu. Menurutnya, Rhauma sampai di rumah sebelum melewati jam malam jauh lebih penting daripada martabak terang bulan.
ᅠ
ᅠ