81 tahun kemudian:
1. Persekusi tempat ibadah masih terus berlanjut.
2. Adil berupa pembungkaman & penyiraman air keras ke aktivis.
3. Bersatu dalam slogan, tapi Papua masih dibiarkan berjuang sendirian.
4. Semua perwakilan adalah rezim biadab
5. Gaji murah untuk buruh negara.
Bos itu tetap UANG RAKYAT, yang mereka sengaja MENYIMPANNYA Bukan untuk digunakan dalam aktivitas BISNIS atau USAHA, Jadi tidak bisa Negara mengambilnya hanya karena Rekening tersebut PASIF
Itu uang yang sengaja disimpan dari HASIL KERINGAT bukan Hasil MERAS apalagi MENIPU NEGARA, jadi TIDAK BISA DIKLAIM Itu jadi Milik Negara Tanpa Proses HUKUM (misal PENCUCIAN UANG, KORUPSI)
MENABUNG adalah hak prerogatif setiap warga negara. Menabung adalah hak untuk mendiamkan uang hasil keringat sendiri di tempat yang dianggap aman (bank), tanpa ada kewajiban untuk memutar uang tersebut dalam bisnis, usaha, atau transaksi aktif.
Ketika seseorang MEMILIH untuk tidak menyentuh tabungannya selama bertahun-tahun, itu adalah bentuk pilihan finansial "PRIBADI" bahasa Inggrisnya PRIVATE / PRIVACY. Oleh karena itu:
🔹️Pasif Bukan Berarti TAK BERTUAN: Mengklasifikasikan rekening yang pasif atau "diam" sebagai rekening yang "TAK TERURUS" sehingga bisa diambil alih oleh negara adalah LOGIKA yang CACAT dan melanggar hak kepemilikan.
🔹️Melanggar Fungsi Dasar Bank: Esensi rakyat menaruh uang di bank adalah untuk menitipkan harta dengan aman. Jika negara bisa mengambil dana tersebut hanya karena pemiliknya memilih untuk tidak melakukan transaksi, maka FUNGSI BANK sebagai tempat penitipan yang aman menjadi HILANG.
Tindakan mengambil alih dana tersebut—dengan alasan administrasi apa pun—pada hakikatnya adalah PERAMPASAN HAK MILIK PRIBADI atas uang yang legal dan halal.
Negara tidak memiliki hak moral maupun hak dasar untuk menyentuh uang hasil keringat rakyat yang sengaja disimpan tersebut.
:: WeKa ::
Serius nanya, emang kalau cabut laporan kita harus bayar polisinya lagi ya? Pelaku udah minta damai dan nyanggup bayar ganti rugi kurang lebih 50jt, tapi polisinya minta uang 70jt jg, saya komplain knp mreka minta uang sama pelaku lebih besar dari jumlah kerugian saya?
Mereka malah bilang "yaudah samain aja sama ibu" emg sistem kerjanya gini ya? Digaji tuh buat apa kalau tiap laporan di duitin semua? Shout out to p*lres dep*k
cc:threadsunqistblooms
Saya sih nggak terlalu kaget soal isu sensitif istana yang lagi beredar. Yang justru bikin saya kaget adalah fakta bahwa ternyata Komdigi bisa secanggih itu.
Bisa gerak cepat. Bisa responsif. Bisa menekan platform besar. Bisa bikin akses media sekelas YouTube/Google ikut kena tindakan (walaupun masih bisa diakses lewat VPN h3h3). Bisa bikin pernyataan resmi (padahal target subyek pembahasan di video bukan Komdigi, tapi Komdigi rela nyebokin).
Bahkan bisa sigap ambil langkah hukum dan bisa bypass aturan MK soal pedoman UU ITE yang nggak bisa digugat oleh badan/instansi.
Berarti kemampuan teknisnya ada.
Dan kalau kemampuan itu memang ada, harusnya ruang digital kita bisa jauh lebih bersih dari sekarang.
Harusnya iklan penipuan nggak semudah itu lewat. Harusnya nomor pribadi masyarakat nggak seenaknya dipakai SMS promosi.
Harusnya data kita nggak gampang bocor lalu dipakai buat nawarin pinjaman, j*dol, investasi bodong, sampai lowongan kerja palsu. Harusnya platform-platform digital yang merugikan masyarakat juga bisa ditindak dengan kecepatan yang sama.
Karena ternyata masalahnya bukan karena negara ini nggak punya alat. Alatnya ada. Jalurnya ada. Kapasitasnya ada.
Cuma selama ini kita terlalu sering melihat teknologi negara bekerja cepat ketika yang terganggu adalah kekuasaan, bukan ketika yang dirugikan adalah masyarakat.
Karena ternyata tombolnya memang ada.
Cuma rakyat sering kebagian tulisan:
“mohon menunggu”.
Tapi yaa kita sama-sama paham lah ya, kenapa isu-isu krusial yang lain terkesan sulit diberantas.
Sekelas warung remang-remang saja mesti "koordinasi" dulu biar bisnisnya tetap jalan.
Paham kan ya..
cc:cakraadinegara
Sekarang aku yakin kalau ada kecelakaan kereta di Indonesia mostly bukan salah KAI. Sejak isu kereta naik ini banyak berita dan video lewat:
1. Taksi, truk dan sepeda motor nerobos palang pintu perlintasan.
2. Ada orang jalan dengan santainya ketika kereta lewat.
3. Bocah ngeganjel rel.
Ini bukan ketidakprofesionalan KAI, ini ketololan warga. Pure tolol aja warga kita.
Jadi selama ini anggaran zakat atas nama Fisabillah (orang-orang yg berperang di jalan Allah) dipake oleh BAZNAS sendiri.
Dan sekarang minta rekomendasi (baca: perlindungan) dari MUI.
Konteksnya ga dijelasin jadi banyak yang misleading. Guideline ini buat PJSP (penerbit QRIS), bukan buat merchant. Selama QR code nya ga diubah, dekorasi di sekitarnya diperbolehkan kok
Saya pekan lalu ngobrol dengan salah satu orang tua yg anaknya kerja di BCA.
Ketika saya tanya, mengapa BCA pelayanannya maksimal? Jawabny singkat,"Karena mereka merasa butuh dengan nasabah."
Karena butuh, pelayanan kepada nasabah jadi maksimal.
Bandingkan dengan samsat. Mereka kan sebenarnya juga butuh dengan masyarakat karena kalau masyarakat gak bayar pajak, negara gak ada pemasukan.
Nah... karena mereka merasa GAK BUTUH, bodo amat sama pelayanan. Tulisan di kaca "jam pelayanan 08.00 - 15.00" tapi kalau anda datang jam delapan tepat, belum pada buka itu counter.
Barusan gw dari klinik, dokter giginya ada, tapi emang Mobile JKN nya yang LIBUR sampai tanggal 24 maret (hari ini).
Sistem kesehatan nasional. LIBUR LEBARAN. SISTEM. DIGITAL.
😭😭😭🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣😭😭😭
This means that a verified account with a paid partnership wants to kidnap me, torture me, and murder me. @elonmusk and his employees at @X refuse to remove this, so it’s clear that they support such a terror operation. This isn’t surprising - after all, they support genocide.
Padahal lagu ini tuh diciptakan Ismail Marzuki sebagai lagu satire untuk mengkritik pejabat korup yang ga peduli kesengsaraan rakyat. Di bait 2 juga Ismail Marzuki mengkritik perilaku masyarakat yang masih senang judi dan KDRT.
Ternyata sekarang kita blm jauh berubah.
kata "normalisasi" tu bkn ajakan utk melakukan, tp ajakan utk tidak menganggap aneh.
misal
"normalisasi lebaran gaada perayaan"
artinya bukan
"jangan merayakan lebaran"
tp
"kalo ada yg ga ngerayain lebaran ya jgn dianggap aneh"
masa gitu aja ga paham?
Tolong jelaskan bagaimana mengumpulkan 30-40 anak dalam satu kelas dan belajar bersama dgn papan tulis/whiteboard lebih boros energi dari belajar di rumah masing2 dgn AC/kipas, webcam, dan internet..
BBM semata? Pasti negaranya gak punya trotoar layak jalan dan bus sekolah 😗
Inilah kenapa persyaratan registrasi biometrik perlu ditinjau ulang, tidak terburu-buru dan terkesan menjadi salah satu solusi agar menghindari kejahatan digital.
Belum lagi jika kita membayangkan data biometrik ini di kemudian hari bocor, eksalasi dari kejahatan digital semakin tak terbendung. 🫠
Sampai bulan ini, Proyek MBG sdh menghabiskan 44 T APBN, setara :
254.335 unit rumah subsidi baru
1,46 juta unit Huntara Sumatera
87.301.587 jiwa tercover PBI BPJS
1.047.619 guru digaji cukup layak selama 1 thn
24 jt penduduk miskin mendapatkan sembako per 2 bln selama setahun