in a relationself. kalimat bio ini muncul lagi karena seorang bilang bagus, padahal sebenernya aku dah bosan. tapi karena dia bilang bagus, aku gajadi bosan.
“Can I bring my baby to the interview?”
The message came in at 11 PM:
“Hi, I have an interview with you tomorrow at 2 PM. My childcare fell through. Can I bring my 8-month-old? I understand if you need to reschedule.”
Old me would have rescheduled.
Unprofessional. Distraction. Red flag.
New me replied:
“Absolutely. See you tomorrow.”
She showed up with her baby on her hip.
She apologized three times before even sitting down.
Ten minutes in, the baby started crying.
She tried to soothe him while answering questions.
She apologized again.
I stopped the interview and said:
“Hey. You’re managing a fussy baby, answering complex questions, and staying calm under pressure. That’s literally the job. Handling chaos while staying professional. You’re already proving you can do it.”
Her eyes filled with tears.
We hired her.
She’s been with us for a year now.
The most reliable team member we have.
Why?
Because when you’re used to handling a screaming infant at 3 AM and still showing up to work the next day, workplace stress feels like nothing.
Working parents, especially mothers, are some of the most organized, efficient, and resilient people you’ll ever hire.
Yet we lose them because our hiring processes are built for people with zero caregiving responsibilities.
If your interview process can’t accommodate a parent facing a childcare issue, you’re not filtering for professionalism.
You’re filtering for privilege.
Robohnya Pesantren Kami
Musibah runtuhnya Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo bukan sekadar ambruknya beton dan besi. Ini runtuhnya kelalaian yang disembunyikan di balik jargon keikhlasan. Takdir memang kuasa Tuhan, tapi kelalaian adalah pilihan manusia.
Kita sering berlindung di balik kalimat “sudah takdir”, seolah-olah Tuhan yang disalahkan atas kecerobohan kita. Padahal Allah memberi akal untuk menghitung beban, memberi aturan demi keselamatan, dan ilmu agar kita tak membangun di atas kesalahan. Bila itu diabaikan lalu kita menyebutnya “musibah”, bukankah itu bentuk kezaliman terhadap amanah-Nya?
Masalah kita juga ada pada cara berpikir: menganggap rencana bisa diganti niat baik, prosedur diganti doa, dan keselamatan digadaikan demi percepatan. Kita ingin mendirikan pesantren tapi lupa bahwa pondok bukan hanya tempat mengaji, tapi rumah bagi akal sehat. Pesantren harus menjadi tempat yang nyaman dan aman.
Di antara reruntuhan itu, ada darah yang berserak, tubuh yang remuk, air mata dan jeritan. Santri datang mencari cahaya, bukan untuk terkubur di reruntuhan pondok.
اللَّهُمَّ ارْفَعْ دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّانِ، وَاجْعَلْ دِمَاءَهُمْ شَهَادَةً عَلَى طُهْرِ نِيَّاتِهِمْ، وَعَلِّمْنَا أَنْ نَبْنِيَ بِالْعِلْمِ قَبْلَ أَنْ نَبْنِيَ بِالطُّوبِ وَالْإِسْمَانْتِ.
رَبَّنَا، لَا تَجْعَلْ غَفْلَتَنَا سَبَبًا فِي هَلَاكِ الْأَبْرَارِ، وَلَا تَكْتُبْنَا مِنَ الْمُقَصِّرِينَ الَّذِينَ يَقُولُونَ “قَدَرُ اللَّهِ” وَقُلُوبُهُمْ تَعْلَمُ أَنَّهُمْ فَرَّطُوا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ دُمُوعَ أُمَّهَاتِهِمْ مِفْتَاحًا لِرَحْمَتِكَ، وَآهَاتِ آبَائِهِمْ سُلَّمًا يَرْتَقُونَ بِهِ إِلَى جَنَّاتِ النَّعِيمِ.
“Ya Allah, angkatlah derajat para santri yang gugur di sisi-Mu, jadikan darah dan debu mereka sebagai saksi kesucian niat mereka. Ajarkan kepada kami untuk membangun dengan ilmu sebelum kami membangun dengan bata dan semen. Jangan biarkan kelalaian kami menjadi sebab hancurnya jiwa-jiwa suci. Jangan catat kami sebagai hamba yang mudah berlindung di balik kata takdir padahal kami tahu kami telah lalai. Ya Allah, jadikan air mata ibu-ibu mereka kunci rahmat-Mu, dan keluh kesah para ayah mereka tangga menuju surga-Mu yang penuh kedamaian.”
Tabik,
Nadirsyah Hosen
I feel sick. Mereka tepuk tangan pas dpt perintah tembak like it's a good news.... this institution cleary needs reforms, they have absolutely lost their morals
2 bulan lalu iseng pertama kali bikin vt pake keranjang kuning, gak rame
trs tbtb seminggu ini lumayan fyp dan dapet 3 digit pertamaku dari tiktok alhamdulillahh wkwkwkwk
syapa tauu ya, dari 110K bisa jadi 110M masyaAllahh🤣🤝
that girl is also someone's precious daughter, you motherfucker. just go fuck your son yourself if you love him that much. my heart breaks for the girl bcs she got humiliated & YET she's the one who apologized instead of this bitch. istg, misoynist boy's moms are the worst breed.
UPDATE!!
Tw// murder, sexual assault
#JusticeForTiwi
Beberapa hari lalu dilakukan rekonstruksi tindak pidana pembunuhan yang terjadi pada 16-19 Juli 2025, oleh tersangka, Aditya Hanafi. Aku akan coba mentranskripsikan setiap adegan yg ditayangkan di IG Live kemarin.
Hi Rahmanhaqm. Profile visits are private data not accessible to me. Based on public engagement analysis, only KAI121 frequently interacts with you (est. 0.25 times/week). No other accounts appear in recent data, so I can't provide a full list of 10. If you meant interactions, let me know for deeper analysis.
hi @grok menurut analisis kamu, sebutkan 10 akun secara berurutan yang sering mengunjungi profil saya. jangan mention orangnya, cukup @.username saja beserta tingkatan berapa kali dalam seminggu mengunjungi profile. thank you