open banget baca-baca buku yang di-judge orang-orang sebagai "kelas teri". Contohnya, buku pengembangan diri tentang OVERTHINKING. Bahkan, banyak pengetahuan baru yang saya dapat dari sana.
Judulnya, Everything About Overthinking.
https://t.co/kS4RNl9CaK
Rasanya perlu kita sudahi untuk menaruh label bagi pembaca. Kita hapus soal pembaca sastra punya "nilai" lebih tinggi dibandingkan pembaca novel remaja. Atau, pembaca buku teori lebih oke ketimbang buku pengembangan diri. Masalahnya,
literasi Indonesia yang rendah ditambah judging, itu bikin orang yang baru belajar "membaca" bisa minder. Jangan sampai gara-gara mulut atau ketikan kita yang kurang etika itu membuat semangat pembaca makin luntur.
Saya lulusan sastra, plus mantan editor penerbit mayor masih
sakbenere, sakmestine, sakpenake.
Semua yang saya sampaikan di atas ada konteksnya, dan memang mesti baca langsung buat pemahaman utuh. Mari kita memilih panutan dengan lebih bijaksana lagi.
Oh ya, ini link bukunya ya : https://t.co/FwLDvimKDS
Udah saatnya kita mengganti cara bahagia "standar tik***" dengan cara bahagia berdasar gagasan tokoh, khususnya filsuf: yunani, islam, dan spiritualis jawa. Saya perhatikan banyak yang cari jalan kebahagiaan dari influencer yang mengarah ke uang saja.
batas.
Satu kalimat dari Al Farabi: Bahagia tercapai ketika jiwa terimplementasikan secara optimal.
Satu kalimat dari Al Ghazali: Kunci kebahagiaan adalah mengenali diri.
Satu kalimat dari Ki Ageng Suryomentaram:
Rumus kebahagiaan 6s: sakbutuhe, sakperlune, sakcukupe,
tidak layak, bisa saja ada faktor X yang jadi penyebab.
Saya ngetik ini di sela-sela baca buku, "Tuhan Ada di Hatimu" karya Husein Ja'far. Bukunya yang ini ya!
https://t.co/M7wMHalVhm
Saya pernah punya mindset bahwa buku-buku dari penerbit minor itu patut dipertanyakan kualitasnya. Lalu, saya ditampar kenyataan setelah 8 tahun bekerja full time sebagai editor buku in house di penerbit yang semua orang PASTI tahu. Pikiran saya mulai terbuka sangat lebar, karena
self-publishing.Jadi, mari berhenti menilai karya dari "siapa penerbitnya", mulai lihat karya dari karya itu sendiri. Itulah value sesungguhnya.Nah, buat Teman-teman yang lagi berusaha masuk penerbit, tetap semangat. Kalau ditolak, ada kemungkinan bukan karena karya kalian
saya takut dosa, nggak kebayang berapa banyak dosanya. Mohon maaf deh... terserah mau dibilang pick me atau sok alim. TERSERAH. Cari aja editor lain!
Ini ngetiknya sambil ngegas ya. Terserah juga mau bilang saya sombong, sok gak butuh duit. TERSERAH! Saya tidak bisa mendukung
karena penasaran. Eh, mau kamu balas dengan tulisan yang isinya "kebohongan"?
Keempat, saya nggak bisa membantu calon penulis yang punya mindset nulis cuma buat gegayaan atau sekadar nampang di toko meskipun saya dibayar. Pekerjaan saya "tidak bisa dibeli",
Ketiga, milikilah adab. Ketika kamu tidak punya ilmu cara nulis, tapi kamu tiba-tiba mengambil kesimpulan: GAK USAH AKURAT, itu artinya kamu nggak menghargai UANG calon pembaca yang akan beli bukumu. Bisa aja salah satu dari mereka tuh nabung berbulan-bulan buat beli
ITU PARAH!
Kedua, riset (dari teori, studi kasus, bahkan jurnal) yang mendukung ide kamu. Kamu bisa kawinkan dengan fakta-fakta yang ada di lapangan (aka brainstorming), sehingga jadilah sebuah "gagasan" yang bisa membantu masalah orang lain.
Ini baru konsep menulis buku.
Cerita membagongkan dari saya, seorang editor freelance yang kerjaannya bantuin penulis utk menulis buku agar layak terbit (baik konvensional maupun self-publishing), yang tentunya berbayar.
Kemarin ada calon penulis saya yang komen begini, "Mbak Lana udah kayak editor jurnal.
sendiri...
Pertama, menulis buku artinya kamu menuliskan buah pikiranmu/ide/gagasan tentang sesuatu. Nggak bisa sesuatu yang "ajaib bin awuran", misal TUTORIAL PERGI KE PLUTO, terus kamu bikin teori baru secara ujug-ujug, gak ada riset, terus tiba-tiba kamu nulis ide kamu itu.