6. Satu lagi yang gak bisa dilewatin: budaya kumpul-kumpul mereka kuat banget. Buat mereka, itu cara jaga solidaritas & rasa kekeluargaan di tempat kerja.
Tapi konsekuensinya, minum itu bagian penting dari acara kumpul ini. Kalau gak suka minum, harus jago-jago nolak tanpa bikin suasana canggung π
Ini salah satu skill "tak tertulis" yang gak diajarin di kelas Mandarin manapun.
5. Awalnya aku kira kalau ditegur pasti nanti ada masalah personal. Ternyata enggak.
Buat mereka, kerjaan ya kerjaan. Selesai dibahas, ya selesai. Gak dibawa-bawa ke luar kerjaan.
Ini salah satu hal yang paling ngubah cara aku liat konflik di tempat kerja.
4. Yang paling aku respect, orang China di sini gak bawa urusan kerjaan ke personal.
Pas kerja, mereka bisa tegas banget dan negur langsung, to the point, gak basa-basi. Tapi begitu selesai jam kerja? Balik becanda lagi, ngajak makan bareng kayak tadi gak ada apa-apa.
3. Ini yang paling berkesan buat translator kayak aku:
Mereka sering jawab "ya" pas rapat, tapi maksudnya bisa beda-beda. Bisa "ya setuju", bisa "ya aku dengar", atau "ya nanti kita bahas lagi". Kalau translate literal, bisa salah paham parah.
1. Hierarki emang kerasa banget di sini, tapi bukan yang kaku kayak di film-film.
Atasan bebas becanda ke bawahan. Tapi bawahan? Mikir dulu sebelum nyeletuk, meskipun cuma hal kecil.
Dan... aku sering jadi "jembatan" pas translate momen-momen kayak gini.