Anak magang sering dibilang bagian dari proses belajar, tetapi workload-nya setara karyawan tetap...
Ada sebagian anak intern yg masuk menggebu-gebu ingin belajar, eksplorasi, dan ingin dapat exposure. Di awal dijelaskan akan dibimbing, diberi mentoring, dan dilibatkan dlm project.
Namun praktiknya, tidak sedikit yg akhirnya memegang tanggung jawab operasional rutin, handle deadline, bahkan menggantikan role kosong (tanpa struktur pembelajaran yg jelas).
Boleh, sih, Intern diberi tanggung jawab supaya berkembang. Yg jadi pertanyaan adalah proporsinya. Apakah mereka:
- Punya mentor tetap yg benar-benar membimbing?
- Diberi feedback rutin, bukan hanya revisi kerjaan?
- Dilibatkan dlm diskusi, bukan hanya eksekusi?
- Beban kerjanya masuk akal sesuai durasi & kompensasi?
Kalau jawabannya tidak, sih, status “belajar” hanya jadi label yg membungkus kebutuhan tenaga murah.
Dalam jangka pendek, perusahaan merasa terbantu. Dalam jangka panjang, kultur jadi bias yg mana magang dianggap solusi cost efficiency, tidak lebih ke ranah program pengembangan talenta.
Di sisi lain, teman-teman intern juga perlu sadar. Jangan hanya bangga karena dipercaya pegang banyak hal ya.
Pernah mengalami hal serupa, teman-teman? Coba share di bawah.
@kththeticc@anawrrrtes8 Seingatku kalau udh apply tp ga lolos memang ada masa tunggu nya kak, jadi gabisa langsung daftar di program selanjutnya selama berapa bulan gt huhu
@kththeticc@anawrrrtes8 Iya kak aku daftar yang Q4 kemarin dan udh FGD + interview di pertengahan oktober. Sayangnya aku ga lolos ke tahap selanjutnya dan ULIP emang gd konfirm rejected nya gitu (mereka cm akan email jika lolos). Untuk program nya sendiri juga udh dimulai yaa kak per awal desember kmrn.