untuk para perempuan yang punya prinsip โi can do it by myselfโ semoga dipertemukan dengan laki-laki yang โi know you can, but let me help you to handle itโ.
Gue mau cerita soal temen gue.
Namanya Dana.
Dana itu tipe orang yang lo semua pasti kenal.
IPK 3,8. Aktif organisasi.
Lulus tepat waktu.
Langsung dapet kerja di perusahaan yang namanya keren di LinkedIn.
Dan semua orang bilang dia sukses.
Tapi gue tahu yang sebenernya.
Gajinya Rp4,5 juta. Di Jakarta.
Kontrakannya Rp1,8 juta sebulan.
Transportasi PP ke kantor Rp800 ribu.
Makan Rp1,5 juta kalau irit. Pulsa dan internet Rp200 ribu.
Total pengeluaran minimum: Rp4,3 juta.
Sisa: Rp200 ribu. Sebulan.
Tidak ada dana darurat.
Tidak ada tabungan.
Tidak ada investasi.
Tidak ada biaya sakit.
Tidak ada ongkos pulang kampung kalau ada yang meninggal di keluarga.
ada satu hal lagi yang jarang dibahas.
Di kondisi kayak gini orang jadi mudah dimanfaatkan.
Ini kesempatan belajar.
Nanti kalau udah berpengalaman gajinya naik.
Yang penting dapet exposure dulu
Kalimat-kalimat ini dipakai untuk membenarkan upah yang tidak layak.
Dan kita yang takut tidak punya pilihan menerimanya.
Bukan karena bodoh.
Tapi karena sistemnya memang dibuat begitu.
Bukan salah Dana kalau dia tidak bisa nabung.
Bukan salah generasi ini kalau mereka susah beli rumah, susah nikah, susah punya anak.
Sistemnya yang tidak pernah dirancang untuk mereka bisa menang.
Dan selama kita terus menyalahkan individu kurang kerja keras, kurang hemat, kurang skill kita tidak akan pernah nanya pertanyaan yang lebih penting:
Kenapa orang yang kerja keras pun masih tidak cukup?
Ada tulisan cantik banget, kira-kira begini isinya:
โsemoga kamu selalu dipertemukan dengan seseorang yang dapat berbicara bahasa mu, sehingga kamu tidak perlu menghabiskan waktu seumur hidup untuk menerjemahkan jiwamu..โ
Dan ternyata..
- orang yang bangun jam 5 buat siap-siap berangkat kerja
- makan siang buru-buru
- jam 9 malem udah tidur biar besok nggak tepar pas kerja
itu udah bukan orang tua kita lagi, tapi kita yang sekarang
Anak magang sering dibilang bagian dari proses belajar, tetapi workload-nya setara karyawan tetap...
Ada sebagian anak intern yg masuk menggebu-gebu ingin belajar, eksplorasi, dan ingin dapat exposure. Di awal dijelaskan akan dibimbing, diberi mentoring, dan dilibatkan dlm project.
Namun praktiknya, tidak sedikit yg akhirnya memegang tanggung jawab operasional rutin, handle deadline, bahkan menggantikan role kosong (tanpa struktur pembelajaran yg jelas).
Boleh, sih, Intern diberi tanggung jawab supaya berkembang. Yg jadi pertanyaan adalah proporsinya. Apakah mereka:
- Punya mentor tetap yg benar-benar membimbing?
- Diberi feedback rutin, bukan hanya revisi kerjaan?
- Dilibatkan dlm diskusi, bukan hanya eksekusi?
- Beban kerjanya masuk akal sesuai durasi & kompensasi?
Kalau jawabannya tidak, sih, status โbelajarโ hanya jadi label yg membungkus kebutuhan tenaga murah.
Dalam jangka pendek, perusahaan merasa terbantu. Dalam jangka panjang, kultur jadi bias yg mana magang dianggap solusi cost efficiency, tidak lebih ke ranah program pengembangan talenta.
Di sisi lain, teman-teman intern juga perlu sadar. Jangan hanya bangga karena dipercaya pegang banyak hal ya.
Pernah mengalami hal serupa, teman-teman? Coba share di bawah.