Bedanya Probation vs PKWT (3 bulan)
1. Probation 3 bln
-Perusahaan: Ga bayar ga wajib kasih uang kompensasi
-Ga boleh diperpanjang. Mau lanjut kerja = harus langsung PKWTT
2. PKWT 3 bln
-Bisa diperpanjang berkali-kali (max 5 thn)
-Harus bayar kompensasi
Tahapan cari kerja di 2026:
- Administrasi
((nunggu sebulan))
- Online Test
- Video Interview
((nunggu sebulan)
- FGD/LGD
- Interview HR
- Interview User
((di-ghosting))
🤸🏻♀️🤸🏻♀️🤸🏻♀️🤸🏻♀️🤸🏻♀️🤸🏻♀️🤸🏻♀️🤸🏻♀️🤸🏻♀️🤸🏻♀️
first thing first about “tes koran” 👀
tes koran itu sebenarnya MUDAH karena cuma perhitungan sederhana. TAPI yang dinilai bukan sekadar benar atau salah!
biasanya yang dilihat:
- speed → seberapa cepat kalian kerja
- accuracy → seberapa minim salah
- stability → apakah performa kalian stabil dari awal sampai akhir
- endurance → apakah kalian tetap fokus walau repetitive & capek
jadi kalau di awal page kalian jawab banyak tapi makin belakang turun jauh, itu bisa nunjukin fokus, konsistensi, dan stamina kerja kalian mulai drop ☹️ makanya jangan terlalu ngebut di awal. lebih bagus stabil dan konsisten sampai akhir page.
nah beberapa company biasanya gunakan:
— sistem hasil satuan
ATAU
— sistem:
0 = genap
1 = ganjil
jadi tips & tricksnya depends yaa, kalian lebih nyaman hitung manual atau hafal pattern sifat penjumlahan genap & ganjil. tes koran seperti ini juga gak cuma ada di Paragon ya... ada beberapa perusahaan gunakan sistem yang sama!
kalian bisa latihan lewat apk “Tes Koran” kayak di gambar atau website latihan ini 👇🏻
https://t.co/PrMfLNkFeq
note:
materi & penilaian ini bukan aku menggurui tapi aku dapatkan dari course interview preparation yang aku ikutin!
@buzuzima0 Ada istilah Market for Lemons.
Pelamar tahu kapasitas asli diri mereka, tapi HRD nggak tahu.
Karena supply sarjana membludak dan sekarang gampang banget bikin CV estetik pakai AI, HRD jadi paranoid dapat kandidat "Lemon" (kelihatan bagus di luar, apes di dalam). 😆
@Asura0599 HRD malah bikinin rintangan ninja warrior kayak orang ga bisa baca CV doang wkwk. Yang salah tuh sistem pendidikan yang terus produksi sarjana demi nilai jual, bukan kompetensi. Rakyat yang kena, bayar kuliah mahal, kemudian dihukum sama persaingan kerja gila.
Kita ngalamin yang namanya Inflasi Pendidikan.
Gelar S1 zaman now itu nilainya udah setara sama ijazah SMA zaman dulu karena hampir semua orang bisa kuliah.
Efeknya, HRD jadi kebingungan ngefilter lautan sarjana ini. Solusinya? Mereka nyiptain rintangan ala Ninja Warrior atau Hunger Games (Online Test berlapis, FGD/LGD, presentasi kasus, psikotes berjam-jam).
Proses ribet itu berevolusi bukan karena kerjaannya butuh skill yang bagus, tapi semata-mata buat nge-eliminasi ribuan kandidat dengan cepet aja. 🤓
Supply and Demand buat lapangan pekerjaan disini juga jomplang banget cik. Supply tenaga kerja di Indo kata GIBRAN membludak ruah, sedangkan lapangan kerjanya seret.
Dampaknya? Karena tahu yang butuh kerja itu ada jutaan orang, perusahaan seenaknya melempar beban biaya penyeleksian ke pelamar. 👹
Kalo dibandingin di US atau di Eropa mah proses rekrutmen rata-rata straight to the point. Kirim CV/Resume - Screening (via telepon) - Interview (1 atau 2 kali sama user/manager) - Offering.
Tes aneh-aneh berjam-jam atau MCU sampai disuruh puasa dan bugil itu jatuhnya red flag dan bisa kena tuntutan pelanggaran privasi malahan di US/Eropa. KECUALI lu daftar masuk militer, kerja di lab berbahaya, atau buruh fisik berat.
Di Indo? Daftar staf admin entry level aja MCU-nya kayak mau dikirim dinas ke daerah konflik 💀
apply loker → isi data panjang 😭
online test → belajar lagi 😭
FGD/LGD → muter otak 😭
interview → riset & latihan 😭
MCU → puasa, jarum, buka pakaian 😭
dan itu semua berlaku untuk SEMUA loker… sekarang bayangin kalau apply-nya ratusan…
JYUJYUR HAYATI LELAH🙂🙂🙂
*tapi akan tetap kulanjutkan apply-apply brutal itu…
eh tapi jujur ada ga sih orang yang beneran lolos lewat JOBSTREET?? ini app chances lolos nya kenapa susah banget ya..
gue daftar disini ga lolos mulu, baru lolos pas lewat glints 😭😭