“saya tidak kuat pak.. saya tidak kuat lama lama disini.. setiap malam, saya lihat ada bayangan wanita melayang disini.. saya tidak kuat..” ujar salah satu marbot sambil berkemas pergi.
Sawah milik keluarga besar nenek Umi yang mereka manfaatkan secara turun temurun berada di bagian belakang kampung bersama sawah penduduk lainnya.. dan satu satunya akses kesana adalah melalui jalan setapak di depan Surau Nurul Falah...
“tidak sayang! Tidak! Kita tidak boleh terpisah lagi!” ujar Datuak.
“MAKA LAKUKANLAH SYARAT KEDUA YANG SUDAH KAU JANJIKAN ITU! KAU LAKUKAN ITU SENDIRI UNTUKKU BANG!” bentak Rismah sebelum wajah itu kembali menghilang bagaikan asap.
Setelah itu Oji terdiam dengan pandangan yang kosong.. lalu tubuh Oji perlahan semakin berat dan lemas... hingga lama kelamaan, suara nafasnya sudah tidak terdengar lagi.
Oji meninggal dunia saat itu juga dengan kondisi mengenaskan...
Saat waktu sholat sudah masuk, salah seorang pemuda disana mengumandangkan adzan untuk pertama kalinya. Tidak ada satupun orang yg berbicara, bahkan para pedangang diluar untuk sementara menghentikan jual beli mereka untuk menyimak adzan itu dengan begitu khusyu.
Perlahan Datuak sadar Rismah sudah tidak ada lagi disisinya. Hal yang membuatnya semakin terpuruk.. karena kehilangan apa yang paling ia cintai di dunia ini seakan akan untuk kedua kalinya..
----batas, kita lanjut besok jam 20.00 wib ya---
Cerita ini juga sudah tersedia versi ebooknya bagi yg mau membaca tuntas tanpa menunggu2. Link Karyakarsanya bisa diakses pada tautan berikut :
https://t.co/RUvIAM33IP
(terus kalau dia sudah tau, memangnya apa yang akan dia lakukan menurutmu?? Dia sudah bagus pergi. Sekarang dia sudah bisa hidup tenang dengan keluarganya, sudah. Jangan karena saya nanti cerita ke dia, yang ada dia malah kembali ke surau itu!) jelas Darwis tegas.