selain Devendorf bersaudara, ada Matt Berninger juga yang merupakan graphic designer dan mengakhiri karirnya ampe dah jadi creative director. gangerti lagi, pantesan semuanya mantep😭
lagi liatin foto dan video pas kemaren nonton The National. emg ajaib sih ini band. cover design dan promotional Sleep Well Beast dibikin ma Pentagram. band indie minta bikin album ke corporate agency
https://t.co/SO0OresevE
@kukuhya wisma nugra santana Kuh, tapi mungkin beberapa gedung lain juga udah menerapkan ini dehh karena gedung yg ku datengin udah cukup tua aja udah make cara ini. ini baru dah berasa e-ktp dipake dengan benar 👍🏼
TABUNGAN 8 TAHUN JHT RP 55 JUTA
BERAPA GAJINYA?
KITA HITUNG BARENG-BARENG
Akun madebylovehand posting saldo BPJSTK-nya Rp 55.915.036 hasil 8 tahun kerja.
Segmen peserta: PU (Penerima Upah) alias karyawan swasta.
CARA KERJA BPJSTK PROGRAM JHT
Iuran JHT = 5,7% dari gaji
Rinciannya: 2% ditanggung karyawan, 3,7% ditanggung perusahaan
Jadi total 5,7% masuk ke saldo JHT setiap bulan
Ditambah hasil pengembangan (bunga/investasi) rata-rata 6-7% per tahun dari BPJS
HITUNG MUNDUR DARI SALDO Rp 55.915.036
Dengan asumsi masa kerja 8 tahun = 96 bulan dan hasil pengembangan rata-rata 6,5% per tahun,
kita bisa estimasi gaji pokok yang jadi dasar iuran.
Pakai pendekatan Future Value sederhana:
Jika iuran bulanan X selama 96 bulan dengan bunga 6,5%/tahun (0,54%/bulan), menghasilkan sekitar Rp 55,9 juta, maka:
Iuran bulanan diperkirakan sekitar Rp 430.000 - Rp 460.000 per bulan
Karena iuran JHT = 5,7% dari gaji:
Rp 445.000 / 5,7% = Rp 7.807.000
Estimasi gaji: sekitar Rp 7.500.000 - Rp 8.000.000 per bulan
Dengan gaji Rp 7,5 - 8 juta,
segmen PU, dan 8 tahun pengalaman kerja, profil yang paling mungkin adalah:
1.Staf administrasi atau back office di perusahaan menengah
2.Operator atau teknisi pabrik level senior
3.Staff accounting atau finance level junior-menengah
4.Sales atau marketing di perusahaan retail/FMCG
https://t.co/lJDcaL4g7b atau staf di sekolah swasta menengah
Kota kemungkinan dari luar Jabodetabek.
Di Jakarta, gaji Rp 7,5 juta untuk 8 tahun pengalaman sudah tergolong di bawah UMR 2025.
Kemungkinan besar bekerja di kota-kota seperti Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, atau kota kabupaten yang UMR-nya Rp 3-4 jutaan dan si pekerja sudah di level sedikit di atas UMR.
8 tahun kerja menghasilkan tabungan wajib Rp 55,9 juta.
Artinya rata-rata hanya Rp 582.000 per bulan yang "tersimpan paksa" lewat JHT.
Sisanya habis untuk kebutuhan hidup bulanan.
Kalau dicairkan sekarang dan dipakai untuk DP rumah, uang Rp 55 juta hanya cukup untuk DP rumah subsidi di daerah pinggiran.
Harga rumah subsidi 2025 sudah Rp 200 juta ke atas.
DP 10% saja Rp 20 juta, tapi biaya-biaya lainnya (BPHTB, notaris, KPR) bisa Rp 15-25 juta lagi.
Jadi 8 tahun kerja keras, pas-pasan untuk beli satu rumah paling murah di Indonesia.
Ini bukan soal malas atau tidak menabung.
Ini soal sistem.
Ketika gaji stagnan, inflasi jalan terus, harga properti naik 10-15% per tahun, dan biaya hidup makin berat, maka kelas pekerja memang struktural tidak bisa menang hanya dengan rajin kerja dan menabung biasa.
Yang bisa dilakukan secara realistis adalah:
diversifikasi penghasilan sekecil apapun,
manfaatkan BPJS bukan hanya JHT tapi juga JP (Jaminan Pensiun),
dan jangan andalkan satu sumber pendapatan saja.
Yang seharusnya dilakukan negara adalah:
pastikan upah minimum tumbuh sesuai inflasi riil, jaga daya beli, dan jangan biarkan rakyat kelas menengah bawah terus digerus biaya hidup yang tidak sebanding dengan kenaikan penghasilan mereka.
Saldo Rp 55 juta itu bukan kecil. Itu hasil keringat 8 tahun.
Tapi di tengah kondisi ekonomi hari ini, angka itu terasa sangat kecil.
Dan itu bukan salah si pekerja.
gua akuin warga wargi suburbs pada cerdas. mereka akan cari akal, puter otak, entah bagaimana caranya pasti ada jalan lah untuk balik ke rumah. kudos buat warga wargi suburbs! met kerja lagi all…