"Lo bilang masih bisa diselamatin. Gimana caranya?"
"Satu hal. Dan ini yang paling susah buat ego laki-laki."
"Duduk di depan istri lo. Tatap mata. Bilang: 'Aku sadar aku sering gak dengerin. Aku minta maaf. Aku mau coba lagi. Dari awal.'"
"Jangan tambahi 'tapi' atau 'soalnya.' TITIK. Tanpa pembelaan."
Waktu itu aku freshgraduate, keterima kerja di Jaksel, gaji 5.5jt ngepas banget buat kos dll di daerah benhil. Pacarku waktu itu masih kuliah (junior gweh wkwk) di Jogja. Kita LDR, aku mainlah ke Jogja dgn kereta ekonomi.
Pacarku mau jemput naik motor ke stasiun, di jalan dia bilang lupa bawa helm 2. Udah kesel banget, tiba2 ternyata pas aku ketemu dia.. dia bilang, “aku udah pesen gojek, tp abangnya aku suruh jalan duluan, aku cuma pinjem helmnya” wkwwkwk akhirnya kita bisa boncengan berdua 😭
Catatan ringan.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah
yang paling baik terhadap keluarganya."
(HR. Tirmidzi)
Baik itu kadang bukan beliin yang mahal.
Baik itu lihat apa yang sebenarnya sakit.
ini cewe cewe apaan sih pada ngarepin reimburse dari lakinya... the fuck is wrong with you people 😭 ga dapet uang dari ortu kah? gak sanggup menghidupi diri sendiri kah? freak banget ngemis ke pacar gini amit amit yaAllah am i too woke for this shit
Gue kok merasa orang indonesia nggak paham tugas manager itu apa ya?
Kalo ada kejadian kaya gini, yang tanggungjawab ya managernya
Kalau gak ada yang bisa gantiin? Yang salah managernya, kok bisa 1 orang gak masuk bisnis terhambat?
lowkey I feel like this is a good example of why a lot of gen z forgot or even avoid the words altogether to describe negative emotions they are feeling bcs it's been stigmatized so much online that they don't want to be associated with it, it's normal to feel those emotions 😭
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.